Refleksi : Mau menjadi imperialis sesuai sumpah pelapa? Kerta zaman telah 
lewat, tertinggal hanya peluang dalam angan-angan. 

ttp://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=11960

2009-11-20 
Indonesia Berpeluang Kuasai Asia


SP/Charles Ulag - Aviliani

[JAKARTA] Indonesia masih memiliki peluang menguasai Asia, bahkan dunia dengan 
menjadi motor penggerak ekonominya, sama halnya seperti Tiongkok dan India. 
Namun, hal itu harus dilihat dari produk domestik bruto (PDB) sekaligus 
geoekonomi serta geopolitik negara. 

Menurut ekonom Indef, Aviliani, Indonesia harus menjadi negara industri yang 
memiliki daya saing kuat. Selain itu, juga harus menata kembali tata kelola 
sistem negara, seperti masalah infrastruktur dengan melibatkan pemerintah 
daerah (pemda), agar mudah bersinergi dalam invetasi.

"Kapasitas Indonesia untuk mencapai kerja sama dengan berbagai negara terbuka 
lebar dan sangat besar. Dengan demikian, jangan biarkan pemda jalan sendiri 
sekaligus mempersiapkan daerah perbatasan menjadi tempat pusat perdagangan. 
Namun, sumber daya manu- sia (SDM) harus dipersiapkan juga dengan pendidikan," 
ka-tanya ketika dihubungi SP, Kamis (19/11). 

Ia menambahkan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional yang telah 
disusun dan National Summit 2009 yang telah ditetapkan, harus dilaksanakan 
sebaik-baiknya. Bila terlaksana, maka pertumbuhan ekonomi 5 hingga 5,5% pada 
2010 dan minimal 7% pada 2014, bisa tercapai. Tentunya ini bisa menguatkan 
Indonesia di bidang perekonomian, termasuk dunia usaha. 

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pertumbuhan di dunia 
fantastis. Dalam ekspor ke Tiongkok naik 2 kali lipat dalam 5 tahun, dan ke 
India naik 3 kali lipat. Indonesia di Asia merasakan peningkatan share dalam 
perdagangan dibandingkan ke Eropa. Ekspor ke Tiongkok masih bahan dasar. 

"Yang kita impor dari Tiongkok seperti eletronik, baja, dan alumunium. Jadi ini 
struktur perdagangan kita dengan kedua negara itu. Kalau kita ingin berubah, 
perlu ada sinergi dengan investasi, seperti dengan Korea, Jepang dan Taiwan," 
katanya di sela-sela seminar China dan India Menguasai Ekonomi Dunia, Bagaimana 
Peluang Indonesia Menghadapinya.


Kurangi Biaya Tinggi

Pasar Asia adalah future source of growth. Jadi Indonesia beruntung ada di 
wilayah yang pertumbuhannya positif. Mendag menjelaskan, agar bisa bersaing, 
Indonesia harus mengurangi biaya tinggi dan perbaikan infrastruktur. 

Selama kurun waktu 5 tahun, Tiongkok dan India menjadi negara tujuan ekspor 
utama Indonesia dengan peningkatan pangsa yang cukup signifikan.

"Kalau ingin bersaing dengan Tiongkok untuk volume produk besar, kita akan 
sulit bersaing. Jadi jangan bersaing secara head to head, tetapi pada produk 
natural base yang tidak mereka buat, bersaing dalam kualitas dan desain. Kita 
perlu juga bersinergi denganTiongkok yang masih pada natural base dan belum 
pada manufacture base," tutur Mari.

Di satu sisi, lanjut dia, jangan melihat dari sisi persaingan saja, tetapi 
jadikan hal itu peluang karena mereka merupakan pasar yang besar. Indonesia 
memiliki pekerjaan rumah mengenai pembatasan listrik yang perlu segera diatasi.

"Pemerintah telah menyadari pengurangan ekonomi biaya tinggi dengan perbaikian 
masalah infrastruktur listrik, gas, energi, dan transportasi. Lalu meningkatkan 
produktivitas dengan investasi di SDM, infrastruktur, serta mendorong 
kreativitas dan inovasi. Hal inilah yang menjadi kunci sukses di Tiongkok," 
ungkap Mari.

Kita, lanjut dia, unggul di kreativitas seperti di bidang perfilman. Ekonomi 
kreatif perlu diperhatikan, karena memiliki peluang yang bagus ke depannya. 
Jasa-jasa memang masih kurang diperhatikan. Namun, Tiongkok dan India memiliki 
tantangan dari tingkat kemiskinan dibandingkan Indonesia.

Sementara itu, Peneliti Lembaga Manajemen FE UI, Nugroho Purwantoro, 
menjelaskan pengusaha Tiongkok memiliki aspirasi sebagai penguasa global. Kalau 
melihat investasi akan lihat infrastruktur, pasar, dan aspek lokasi. 

"Pemerintah Tiongkok sangat aktif berinvestasi besar-besaran, sedangkan India 
hati-hati dalam membuka investasi asing. Secara umum di India yang berkembang 
industri soft infrastruktur dan industri kreatif. Tiongkok lebih butuh yang ada 
infrastruktur fisik, yang membuat sangat cepat di pertumbuhan," ujarnya. [H-15]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke