Refleksi : Apakah para petinggi NKRI sering membohong?

http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=11987

2009-11-21 
Kebohongan dalam Komunikasi Publik


Etika

Alois A Nugroho



Akhir-akhir ini, sebagian publik kita bingung setiap kali mengikuti berita 
media massa. Dalam kasus "Cicak vs Buaya", Antasari Azhar, dan Bank Century, 
tidak mudah membedakan yang benar dan yang salah. Sebagian lagi gusar, karena 
kalau para pejabat publik saling memberikan kesaksian kontradiktif di depan 
publik sambil menyatakan bahwa kesaksian mereka benar, bahkan dengan bersumpah, 
publik merasa bahwa setidaknya satu pihak pasti berbohong.

Begitu kompleks masalahnya, sehingga publik berpikir bahwa kebohongan yang 
terjadi pasti untuk menutupi kebohongan yang lebih besar lagi. Kata politikus 
Amerika abad ke-19, Robert Green Ingersoll, a lie will not fit anything except 
another lie". Dalam hal ini, Ingersoll menggarisbawahi pendapat Immanuel Kant, 
filsuf Jerman abad ke-18, yang menganggap kebohongan secara kategoris keliru 
secara moral. 

Namun, dalam bukunya Bureaucratic Responsibility (1986), John Burke punya 
pendapat yang lebih bernuansa. Menurutnya, pendapat Immanuel Kant tak selamanya 
benar. Kita sering melakukan kebohongan sehari-hari dalam pelbagai basa-basi, 
seperti memulai perkenalan dengan I am glad to know you, memuji enaknya 
santapan yang disajikan oleh tuan rumah, padahal kita merasakan persis yang 
sebaliknya. Kita sering melakukannya tanpa merasa bersalah, karena buruknya tak 
ada, sedangkan akibat baiknya juga tak terlalu signifikan, seandainya ada 

Maka, kebohongan tidak hanya harus diukur secara terisolasi, seperti dilakukan 
Kant, juga harus diukur dari kaitannya dengan akibat-akibat yang timbul. Tidak 
diingkari bahwa banyak kebohongan menimbulkan akibat buruk bagi banyak orang 
lain. Tapi, kadang-kadang kebohongan menjauhkan kita dari akibat buruk yang 
besar, bahkan akan mendatangkan akibat baik yang besar pula.

Sebagai contoh, pada 1960, Presiden Eisenhower berbohong dengan mengatakan 
bahwa pesawat U2 yang tertembak jatuh di wilayah Uni Soviet bukanlah pesawat 
mata-mata. Kebohongan diplomatis ini dianggap penting untuk menyelamatkan muka 
Amerika Serikat dalam politik luar negeri. Bahkan, mungkin, kebohongan 
diplomatis itu menghindarkan dunia dari katastrofe akibat konflik terbuka. 
Kebohongan diplomatis itu juga dianggap berdampak minimal bagi demokrasi 
Amerika Serikat. Bahkan, dalam beberapa kasus, kebenaran disembunyikan dari 
publik domestik. 


Melumpuhkan Demokrasi

Namun, bagi Burke, diperbolehkannya "kebohongan publik" itu lebih merupakan 
kekecualian dan bukannya rule. Umumnya, se-orang pejabat publik dalam sistem 
demokrasi wajib untuk tak berbohong kepada publik. Dalam demokrasi sebagai 
"deliberasi publik", publik punya hak untuk mengetahui informasi-informasi yang 
benar, sehingga partisipasi mereka dapat dijalankan secara benar. Dalam konteks 
itu, kebohongan publik mencederai demokrasi, karena membuat institusi-institusi 
demokrasi tidak lagi dapat dipercaya. 

Memang, dalam republik demokratis, hak publik untuk mendapatkan informasi yang 
benar akan melemah bila dibandingkan dengan hak untuk tahu dari pihak 
legislatif dan yudikatif, utamanya dalam soal-soal sensitif menyangkut keamanan 
negara. Namun, hak publik untuk tahu harus diberi bobot tinggi, bila informasi 
itu memengaruhi partisipasi publik. Utamanya, partisipasi publik dalam pemilu 
perlu diberi perhatian istimewa, sehingga kebenaran menyangkut sumber dana 
kampanye, misalnya, patut dikuakkan sebenar-benarnya. Dalam hal ini, kebohongan 
publik mengancam penyelenggaraan pemilu-pemilu berikutnya, memerosotkan 
kredibilitas pada demokrasi dan, dengan demikian, juga mengkhianati cita-cita 
Reformasi.

Dalam hal kampanye pemilu, Burke mengambil contoh kasus kebohongan publik dalam 
pilpres Amerika Serikat. The Pentagon Papers mengungkapkan bahwa pada 1964, 
Lyndon Johnson dan para pembantunya aktif merencanakan gelar pasukan lebih 
besar di Vietnam. Dengan alasan keamanan nasional, Johnson memang tidak harus 
mengomunikasikan rencana penambahan pasukan itu kepada publik. Tetapi, Johnson 
melakukan kebohongan publik, bila pada Pilpres 1964 dia mengomunikasikan citra 
dirinya sebagai penganjur perdamaian.

Terakhir, Burke menegaskan, apa pun konsekuensi yang dapat dimunculkan oleh 
kebohongan publik, namun di depan parlemen yang berlaku ialah pendapat Immanuel 
Kant. Artinya, menipu parlemen tidaklah boleh, betapa pun baik konsekuensi yang 
akan diakibatkannya, misalnya dalam bentuk dukungan atau persetujuan parlemen. 
Berbohong di depan parlemen akan menyesatkan para wakil rakyat, sehingga para 
wakil rakyat itu akan mengingkari kepentingan dan rasa keadilan konstituen 
mereka. Maka, kalau ada "kepentingan lebih besar" dalam kasus-kasus yang selama 
ini membingungkan publik, kepentingan itu adalah kepentingan untuk 
menyelamatkan demokrasi kita.

Penulis adalah staf Pusat Pengembangan Etika Unika Atma Jaya Jakarta, mengajar 
Etika Komunikasi Politik di Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia dan 
Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke