Rezim SBY tetap saja rezim militer seperti orba-nya Soeharto. Tak ada bedanya, secara taktis SBY dan grup "reformasi" para jendral dan perwira tinggi TNI-AD mencoba memupuri rezim militer dengan soft-power. Tetapi secara doktrin mereka ternyata tidak mampu menciptakan yang baru dengan taktik reformasinya. Jadi dengan demikian tetap saja praktek gasak dulu urusan belakangan menjadi andalan policy kekuasaan "demokratis".
Kenyataan dewasa ini akan membuka mata lapisan tengah yang masih mempercayai janji para jendral reformator TNI-AD semakin jernih.Bahwa dengan berkuasanya para jendral dan pemodal internasional beserta kroninya (para birokrat) atas NKRI dengan iming-iming cepat makmur adalah ilusi belaka sama halnya dengan janji-janji kaum Komunis dimasa lalu. ----- Original Message ----- From: Satrio Arismunandar To: [email protected] ; kampus tiga ; jurnalisme ; Forum Kompas ; [email protected] ; HMI Kahmi Pro Network ; ex menwa UI 2 ; ppiindia ; nasional list ; technomedia ; naratama naratama ; Pers Indonesia ; sastra pembebasan Sent: Thursday, November 19, 2009 6:58 PM Subject: [ppiindia] Rezim ini makin menunjukkan watak aslinya (Kompas dan Sindo dipanggil Kabareskrim soal rekaman Anggodo) Rezim ini pelan-pelan mulai menunjukkan watak aslinya...... Tidak mau dikritik. Merasa diri selalu benar. Dan selalu siap dengan kambing hitam untuk setiap persoalan. Bukanya mengaku salah dan membenahi diri, yang dilakukan justru: 1. Menyalahkan (dan mungkin akan menuntut) pihak yang dicurigai membocorkan rekaman Anggodo dgn Polisi/Jaksa. 2. Menyalahkan media massa yang menyebarkan transkrip rekaman itu. Tak habis pikir kenapa Mabes Polri memanggil Kompas & Sindo terkait pemberitaan... Fri, November 20, 2009 12:27:45 AM From: > ...Add to Contacts To: reportase_transtv@ yahoogroups. com Tak habis pikir kenapa Mabes Polri memanggil Kompas & Sindo terkait pemberitaan percakapan Anggodo Widjojo yang diperdengarkan MK???? Ada apa ini??? Dicecar Wartawan Soal Pemanggilan Media Massa, Mabes Polri Bungkam Reza Yunanto - detikNews Jakarta - Dua media cetak, Kompas dan Seputar Indonesia akan dipanggil Mabes Polri terkait pemberitaan mereka tentang transkrip penyadapan di Mahkamah Kontitusi (MK). Pejabat Polri yang kebetulan sedang rapat di ruang Komisi III pun langsung diserbu wartawan. Wakabareskrim Mabes Polri Irjen Pol Dik Dik Mulyana menjadi buruan media. Ia berondong latar belakang dipanggilnya dua media tersebut. "Kenapa polisi panggil media? Apa alasannya?" tanya wartawan usai rapat kerja antara Komisi III dengan Polri, Kejagung, dan KPK di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Kamis (19/11/2009) malam. Bukannya menjawab, Dik dik justru seperti menghindar. Ia sengaja tidak langsung keluar ruangan dan lebih memilih bertahan beberapa saat di dalam ruang rapat. Di luar ruang sidang pun hingga parkiran mobil, wartawan masih terus bertanya ke Dik dik. Namun akhirnya Dik dik menyerah. "Saya masih koordinasi dengan penyidik, saya belum bisa terangkan apa-apa," jawab Dik dik singkat sambil masuk ke dalam mobil. Jawaban serupa juga diberikan oleh Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD). "Saya belum tahu, nanti saya koordinasi dengan Kabareskrim, " kata BHD. (mok/nvc) [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

