Bukabukaan! Siapa Takut? 
Tuesday, 24 November 2009 

KONFERENSI pers yang diadakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Senin 
(23/11/2009) tepat pukul 20.00 WIB tadi malam, mengandung banyak pertanyaan. 


Pertanyaan pertama, mengapa Presiden SBY lebih mendahulukan persoalan kasus 
Bank Century di dalam konferensi pers tersebut ketimbang persoalan kasus 
Bibit-Chandra? Keingintahuan ini patut diungkapkan karena laporan dan 
rekomendasi Tim Delapan yang dibentuk oleh Presiden lebih banyak berbicara 
mengenai kasus Bibit- Chandra, reformasi internal di tubuh Polri, Kejaks a a n 
A g u n g , dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lalu barulah Tim Delapan 
memberi rekomendasi mengenai kasus Bank Century. 

Pertanyaan kedua apakah betul pada November 2008 kondisi ekonomi global dan 
nasional sedang dalam situasi krisis sehingga Bank Century perlu diselamatkan 
untuk mencegah krisis perbankan dan krisis perekonomian Indonesia? Pertanyaan 
ini perlu dikemukakan karena Presiden SBY lebih mengedepankan faktor eksternal 
yang mengakibatkan Bank Century perlu mendapatkan dana talangan dari Bank 
Indonesia dan suntikan dana dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ketimbang 
persoalan kebobrokan internal yang ada di Bank Century itu sendiri. 

Pertanyaan ketiga, hasil audit BPK hanya menyebutkan kurangnya pengawasan Bank 
Indonesia terhadap Bank Century dan berapa jumlah uang yang digelontorkan oleh 
BI dan LPS ke Bank Century serta keanehan-keanehan yang dilakukan Bank 
Century.Namun, mengapa laporan itu tidak menyebutkan ke mana saja uang itu 
diserahkan? Ini berarti perlu ada suatu data yang akurat kepada siapa saja Bank 
Century menyerahkan dananya. 

Kita juga patut bertanya apakah SBY akan mengorbankan Wakil Presiden (Wapres) 
Boediono yang saat itu menjadi Gubernur BI sebagai orang yang dianggap 
bertanggung jawab atas pengucuran dana ke Bank Century. Tampaknya lagi-lagi 
baik Wapres Boediono, Menkeu Sri Mulyani Indrawati,dan mantan Wapres Jusuf 
Kalla yang tahu persis mengenai persoalan Bank Century ini harus memberikan 
klarifikasi secara buka-bukaan kepada publik mengenai apa yang sebenarnya 
terjadi.

Untuk menghadirkan fakta dan kebenaran yang sesungguhnya seperti yang dikatakan 
Presiden SBY, kita juga memerlukan data dari Pusat Pencatatan Analisis 
Transaksi Keuangan (PPATK) mengenai aliran dana dari Bank Century kepada para 
nasabahnya. Seperti halnya bank-bank yang dilikuidasi, dana nasabah yang bisa 
dikembalikan hanya berjumlah maksimum Rp2 miliar. 

Namun mengapa Bank Century dapat mengembalikan dana kepada nasabah kelas 
kakapnya dengan jumlah triliunan rupiah? Mengapa pula Bank Century mengalihkan 
tabungan para nasabah menjadi reksa dana tanpa persetujuan nasabah? Pertanyaan 
keempat, kalau memang pemerintah serius menyikapi hasil kerja Tim Delapan, 
mengapa Presiden SBY lebih mendahulukan pertemuan dengan para pejabat bidang 
polkam dan ekonomi terlebih dahulu setelah beliau pulang dari pertemuan APEC di 
Singapura dan baru mau menerima Tim Delapan keesokan harinya? Ini menimbulkan 
satu tanda tanya besar di kalangan masyarakat bahwa Presiden SBY menyiapkan 
diri terlebih dahulu sebelum menerima Tim Delapan yang dibentuknya. 

Politik Dagang Sapi 

Penyelesaian kasus Bibit- Chandra juga menimbulkan tanda tanya besar.Pertama, 
ada ketidakjelasan antara penyelesaian di luar proses hukum dengan posisi 
jabatan Bibit-Chandra. Kita juga tidak memahami apa yang dimaksud dengan bahwa 
kasus ini bukan faktor pengadilan semata, melainkan juga ada pertimbangan- 
pertimbangan manfaat dan mudaratnya. 

Pertanyaan kedua, jika benar penyelesaian di luar pengadilan lebih dikedepankan 
dalam kasus Bibit-Chandra, tidakkah ini berarti sama saja dengan keinginan 
Anggodo Widjaja untuk menyelesaikan kasus kakaknya Anggoro Widjaja yang terkait 
dengan korupsi pengadaan alat komunikasi untuk Departemen Kehutanan pada 2006 
silam di luar pengadilan juga? 

Ketiga, mengapa Presiden SBY hanya menekankan penyelesaian kasus Bibit-Chandra 
di luar proses pengadilan tanpa mengaitkannya dengan rehabilitasi nama baik 
kedua Wakil Ketua KPK nonaktif tersebut dan diaktifkannya kembali Bibit-Chandra 
sebagai Wakil Ketua KPK seperti yang dilakukan Kapolri terhadap Susno Duadji 
sebagai Kabareskim Polri? Kalau memang Bibit-Chandra tidak bersalah, seharusnya 
mereka dipulihkan kembali nama baik dan posisi jabatannya. 

Mengapa pula Presiden SBY memanggil Bibit- Chandra Senin (23/11/2009) sore ini 
ke Istana Negara? Janganjangan Presiden meminta kedua Wakil Ketua KPK nonaktif 
tersebut untuk mengundurkan diri dan sebagai imbalannya, kasusnya tidak 
dilanjutkan ke pengadilan. Jika benar-benar terjadi demikian, ini ibarat 
penyelesaian hukum dengan cara tawar-menawar politik atau politik dagang sapi. 

Ini merupakan suatu preseden buruk di dalam menyelesaikan kasus hukum di 
Indonesia. Pertanyaan keempat terkait dengan pemberantasan mafia pengadilan. 
Jika benar Presiden serius ingin memberantas mafia pengadilan,mengapa hal ini 
tidak diawali dengan pengungkapan kasus kriminalisasi KPK yang melibatkan 
penguasa, pengusaha, dan aparat penegak hukum di Polri dan KPK? Pertanyaan 
berikutnya, mengapa tidak memimpin langsung pemberantasan mafia pengadilan 
tersebut, melainkan menggunakan unit kerja presiden yang dipimpin Kuntoro 
Mangkusubroto untuk menanganinya? 

Yang pasti, konferensi pers Senin malam kemarin dari sisi komunikasi politik 
justru banyak menimbulkan pertanyaan-pertanya an dan persepsi politik yang 
beragam. Tampaknya Presiden ingin mencitrakan dirinya bersih dan serius 
menyelesaikan kasus Bank Century dan ingin memberesi tiga institusi penegakan 
hukum yang terkait dengan penyelesaian kasus korupsi, yaitu Polri, Kejaksaan 
Agung, dan KPK. 

Namun, sesungguhnya Presiden tidak menyentuh substansi persoalan dalam kasus 
Bank Century dan kelanjutan proses hukum Bibit- Chandra. Tidak ada jalan lain 
bagi kita untuk menyelesaikan kedua kasus tersebut secara transparan. Mari kita 
buka-bukaan. Siapa takut? (*)

IKRAR NUSA BHAKTI 
Profesor Riset 
Bidang Intermestic Affairs LIPI 

http://www.seputar- indonesia. com/edisic ... 286254/38/ 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke