“Jalanku”
Ditulis
oleh Delima kiswanti kisah seorang petualang & ahli micro finance
Hidupku bukan dari
jenis yang layak ditiru. Kalau kebanyakan teman punya jalan yang terencana,
terarah, lurus, menanjak terus, jalanku berbelok-belok, beberapa kali ganti
arah dan rasanya banyak kesempatan yang kubiarkan hilang.
Masa
sekolah, masa yang paling indah – KDD “first” & Teknik Industri “second”
Lulus SMP, saya
memilih masuk sekolah kejuruan – Analis Kimia ITB – dengan asumsi supaya cepat
bisa bekerja dan tidak menjadi beban orang tua. Di sekolah ini saya sekelas
dengan Sadijah dan Julia, KI 77 dan juga dengan Gegep Hendra Setiawan KI 76. Di
tahun ke 4, ketika menyelesaikan tugas-tugas untuk mengambil spesialisasi Kimia
Bahan Makanan saya merasa bahwa hasil kerja saya dapat lebih optimal kalau saya
sekolah lebih tinggi. Maka pulanglah saya ke Makasar untuk kembali ke kelas 3
SMA supaya bisa masuk perguruan tinggi. Agak-agak tengsin juga sih,
sekelas dengan teman-teman adik saya yang 3 tahun lebih muda.
Dengan alasan
kesombongan sajalah saya memilih untuk sekolah di ITB walaupun hatiku lebih
tertarik untuk menjadi dokter dan kebetulan diterima di UNAIR. Sampai sekarang
kalau melihat papan nama dokter saya masih sering berpikir, ada dimanakah saya
saat ini kalau dulu memilih menjadi dokter.... mungkin cita-cita yang kuredam
ini punya peran dalam pemilihan jurusan di ITB. Pilihan pertama saya adalah
Keluarga Donor Darah (KDD), 40 SKS per semester dengan pilihan unit kegiatan
Teknik Industri.
Suasana kampus yang
menyenangkan membuat saya sangat rajin ke sekolah tetapi jarang sekali
bersekolah. Sambil sibuk sekolah di student center saya sempat jadi tukang
jahit, baby sitter, penterjemah buku, pekerja pocokan di pabrik farmasi
dan paling sering jadi guru les kimia. Saya sempat juga bekerja di pabrik
sepatu Marans’ di jl. Sukarno Hatta Bandung dengan prestasi yang tidak terlalu
buruk. Sempat jadi Menejer Produksi dan menerapkan ilmu TI (dari sedikit yang
berhasil saya pahami) untuk meningkatkan produktivitas sampai hampir tiga kali
lipat dalam beberapa bulan.
Singkat kata, setelah
“matang pohon” saya lulus juga pada akhir tahun 1985 dan diwisuda Maret 1986.
(Buat teman-teman TI, tolong dicatat bahwa saya lulus lebih dulu daripada Tjui,
the genius of TI 77).
Periode
Citibank – mencari makan malah dapat pekerjaan
Sebuah kebetulan
membuat saya bekerja di Citibank. Siang itu saya diantar Suluh, TK 78 untuk ke
BAP menanda tangani “janji palsu” supaya bisa memperoleh “Nrp 88”. Ketika
menunggu saya mendaftar, Suluh melihat ada pengumuman dari Citibank tentang
rekrutment di Hotel Panghegar, jl Merdeka. Dia minta ditemani ikut acara
rekrutment tersebut. Karena menurut Suluh ikut rekrutment di hotel berarti
diberi makan enak, maulah saya mengantar dia ke Hotel Panghegar dengan kostum
kaos oblong dan jeans yang pahanya bolong, padahal waktu itu mode jeans robek
belum mulai.
Tanpa saya sangka, semua yang hadir diminta mengisi formulir dan
diinterview. Saya mengalir saja mengikuti proses yang ada. Saat itu saya sudah
diminta oleh seorang direktur PT Sepatu Bata untuk bekerja disana, jadi
interview Citibank saya ikuti lebih sebagai alasan untuk tetap berada di hotel
itu dan mencicipi segala jenis makanan yang belum pernah saya coba sebelumnya.
Ternyata saya
akhirnya diterima. Hal sangat menarik dari Citibank yang membuat saya melupakan
tawaran Sepatu Bata adalah perlakuan mereka pada kami para pencari kerja. Saya
merasa sangat dihargai, dianggap setara, dibutuhkan. Sebaliknya, di Sepatu Bata
saya harus menunggu berjam-jam dan berhari-hari untuk bisa bertemu dengan
Kepala Bagian Personalia yang notabene mengundang saya untuk melamar ke
kantornya. Selamat tinggal Sepatu Bata.
(moral
of the story is: mencari makan adalah motif penting dalam mendapatkan
pekerjaan)
Culture
shock di Citibank
Sempat saya dengar
sebuah komentar tak terlupakan tentang masuknya saya ke Citibank: “Si Kis masuk
Citibank? Ngga salah tuh?” Sebuah komentar yang sangat akurat. Dengan
berjalannya waktu saya merasa out of place di tempat itu. Ada budaya
yang rasanya tak sesuai dengan kepribadianku. Boleh dibilang saya agak depresi
di situ, meskipun saya berusaha keras untuk bertahan. Berpindah-pindah
pekerjaan rasanya bukan sebuah tindakan yang layak, menurut pengertian saya
saat itu.
Walaupun tidak pernah
merasa nyaman, saya belajar banyak di lembaga ini. Secara sadar saya
mempelajari berbagai metoda serta latar belakang pengelolaan sebuah bank dan
secara tidak sadar saya menyerap tata cara kerja yang secara otomatis membuat
sebuah organisasi berjalan secara terkontrol dan terkendali.
Marah
& menjadi anggota Non Governmental Organization (NGO)
Sebuah kebetulan lain
menyelamatkan saya dari depresi gegar budaya di Citibank. Di tahun 1989 dalam
sebuah rapat anggota Yayasan Mandiri tempat saya bermain bersama Yayak, Gegep
dan Pungki, seorang pembicara tamu mengatakan bahwa pemerintah punya banyak
anggaran untuk menyekolahkan orang-orang NGO tetapi sang pembicara tamu
kesulitan menemukan orang NGO yang layak untuk sekolah di luar negeri.
Akibatnya, orang-orang yang sesungguhnya kurang layak “dibedaki” saja supaya
layak, lalu dikirim sekolah untuk memanfaatkan anggaran yang ada.
Ada kemarahan yang
tiba-tiba menggelegak dan membuat saya langsung mendaftarkan diri untuk ikut
test bea siswa ini. Lulus, tentu saja. Beberapa teman Yayasan Mandiri yang lain
juga mendapat nilai sangat tinggi tetapi karena jatah untuk NGO hanya dua
orang, ya mereka tak bisa berangkat. Ternyata untuk bisa sekolah di Amerika
saya harus ikut cross cultural training selama 3 bulan lalu menunggu sekitar 8
bulan sebelum berangkat. Karenanya, saya mengundurkan diri dari Citibank, ikut
training, lalu – untuk menjaga tegaknya periuk nasi –
atas budi baik Ongki Dana (MS76) menjadi pekerja kontrak di
Subentra Finance sampai saatnya berangkat.
(moral
of the story: berani marah itu baik!)
Sekolah
di USA – panggilan hati menjadi volunteer
Tidak banyak yang
dapat diceritakan dari masa sekolah ini. Semua berjalan begitu saja. Anehnya,
pelajaran yang tidak pernah berhasil saya pahami ketika di TI seperti statistik
dan akunting, di negara asing ini terasa begitu sederhana. Juga ada sebuah
suasana yang membuat saya ingin belajar dan berprestasi. Mungkin saya sudah
lebih dewasa?
Tentu saja, saya
tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk keliling negeri yang glamur itu. Dalam 2
kali liburan musim panas dan 2 kali musim dingin saya berkelana menjelajah 33
negara bagian. Sayang, saya tinggal bersama orang senegara dan tidak cukup
banyak meluangkan waktu untuk mempelajari budaya dan tata cara orang setempat.
Saya juga tidak menjaga network saya dengan teman-teman sekolah setelah saya
lulus. Kesalahan yang tidak dapat diperbaiki karena hidup tidak dapat di
rewind.
Selama bersekolah
inilah saya memutuskan untuk memenuhi panggilan hati, untuk setelah lulus
bekerja bagi orang kecil. Sebagai bekal, saya sempat icip-icip menjadi
volunteer untuk Catholic Relief Service pasca kerusuhan berdarah di Los Angeles
dan menjadi konsultan pengusaha kecil dalam program kerja sama sekolahku dengan
American Small Business Association. Saya juga mengirim pesan ke teman-teman di
Bandung dan Jakarta tentang niatku kembali ke NGO ini.
Perjalanan
rohani ke Papua
Pertengahan 1993,
ketika kembali ke Jakarta, di berbagai tempat telah menunggu pesan bahwa ada
pekerjaan menunggu saya di Papua. Tanpa berpikir dua kali, kontrak kerja 2
tahun saya tanda tangani. Maka dimulailah perjalanan rohani yang sangat
memperkaya hidup saya. Rasanya apa yang saya kerjakan di Papua tak sepadan
dengan pelajaran yang saya serap dari teman-teman papuaku. Walaupun kontrak
kerjaku
tak dapat diperpanjang, kontak dengan teman-teman disana masih menjadi penyegar
buat saya hingga saat ini.
Kesan-kesanku
tentang Papua
Kesan penting yang
saya tangkap dalam dua tahun selama di Papua adalah Kita yang dari bagian Barat
Indonesia tidak (belum) memperlakukan orang papua sebagai rekan sebangsa.
Pemerintah pusat (yang kutahu di tahun 1993-1995) memperlakukan daerah papua
dan penduduknya lebih sebagai tanah jajahan. Coba saja kita jawab pertanyaan
berikut: Berapa banyak dari kita yang tidak menganggap orang papua adalah
bangsa terbelakang? Berapa banyak dari kita yang menganggap tak berpakaian itu
tak berbudaya? Kepada siapa penebang
kayu seperti PT KLI mencari ijin untuk menggunduli hutan irian?
Siapa yang memberi ijin kepada perusahaan-perusahaan besar untuk menangguk
hasil bumi dari tanah ini?
Kita cenderung
menilai kemampuan orang papua seperti mempertandingkan Tiger Wood dan Rudi
Hartono di padang golf, lalu menilai Rudi Hartono sebagai orang bodoh. Ada
daftar panjang kearifan orang papua yang selama ini kita nilai sebagai
kebodohan atau keterbelakangan, seperti misalnya kebiasaan tak berpakaian,
mencari ikan hanya secukup kebutuhan makan sehari, dsb.
Diterima
di ING Bank
Tidak diperpanjangnya
kontrak kerja saya sungguhnya tidak sesuai dengan kesepakatan awal, sehingga
saya tidak siap untuk menghadapinya. Apalagi bos saya tidak berani menyampaikan
berita itu dan menundanya hingga saat terakhir. Tiba-tiba saja saya mendapat
kabar bahwa dua minggu lagi saya akan menjadi pengangguran. Agak panik tentu
saja. Ditemani seorang sahabat, malam harinya saya sibuk menyusun email untuk
teman-teman di Jakarta, siapa tahu ada yang dapat memberi saya pekerjaan.
Belum selesai email
ditulis, telpon berdering. Lilah, teman saya waktu di Citibank menelpon:“Hi
Kis, how are you? Do you have any intention of returning to Jakarta? I need a
person like you, now!”
Dua hari kemudian
saya sudah ada di Jakarta untuk membicarakan pekerjaan yang baru dan sorenya
mendapat kabar bahwa saya diterima bekerja di ING Bank. Purely anugerah Tuhan,
tak ada peran saya dalam perolehan nasib baik ini. Di kantor yang baru ini,
selain mengumpulkan sedikit tabungan untuk hari tua, saya belajar banyak
tentang masalah legal dan manajemen risiko kredit, ilmu yang luput dari
perhatian
saya ketika di Citibank dulu. Saya sempat menjalani pekerjaan ini selama tiga
tahun. Tiga tahun yang ringan dan menyenangkan.
Yayasan
Purba Danarta – mengembangkan sektor mikro
Ketika saya mulai
mempertanyakan apa tujuan saya bekerja di ING, out of the blue saya
menerima telpon dari seseorang di Semarang yang ingin memamerkan pekerjaannya
kepada
Kami datang ke sebuah desa di Pantai Utara Irian Jaya dan
ngobrol-ngobrol dengan Pak Desa (kepala desa) . Kebetulan sehari sebelumnya
kami baru dapat penjelasan dari seorang dokter teman kami tentang efek
sampingan depo provera dan pil KB.
Pak Desa cerita bahwa kampungnya baru saja didatangi
petugas-petugas KB. Mereka diminta untuk ikut KB. Minggu depan mereka akan
datang lagi untuk membagi-bagi obat dan memberi suntikan. Pak Desa keberatan
kalau kampungnya disuruh ber KB karena jumlah penduduk desa itu masih sedikit
dan tidak banyak bertambah dari tahun ke tahun, karena tingkat kematian bayi
yang masih tinggi.
Mendengar penjelasan teman saya tentang efek sampingan KB, dia
makin tidak tertarik akan ide itu. Lalu dia punya ide gila yang konon akan dia
umumkan besok ke seluruh desa: "Biar kita suruh ibu-ibu minta pel (pil)
saja. Nanti itu pel kita kasih makan ayam-ayam supaya ayam tidak tambah banyak
dan bikin rusak tanaman...." :-)
Saya tidak tahu apakah ide itu dijalankan atau tidak, dan apakah
mereka jadi kurang gizi karena ayamnya tidak berkembang biak.
saya. Untuk menjaga sopan santun semata saya mendengarkan
ceritanya dan menerima tawarannya untuk makan malam esok harinya.
Sang penelpon
ternyata Pastor Chris Melchers SJ, pendiri Yayasan Purba Danarta. Dia mencari
orang untuk dijadikan direktur utama Bank Purba Danarta. Setelah permenungan
tiga hari di Bali, saya memutuskan untuk menerima pekerjaan yang ditawarkan.
Dan dimulailah petualangan baru saya di dunia pengembangan sektor mikro.
Petualangan yang sangat menyenangkan dan masih saya jalankan hingga hari ini.
Di lembaga ini saya
punya kesempatan banyak untuk belajar memahami bagaimana orang kecil memulai,
menjalankan dan mempertahankan usaha mereka. Pengalaman Purba Danarta melayani
pengusaha mikro selama puluhan tahun tentu saja memperkaya saya dengan
macam-macam ilmu baru tentang bagaimana mengajak orang kecil memperbaiki hidup
dan masa depannya. Sangat menarik. Kiswanti tidak out of place lagi.
Babak
baru - mandiri
Baru-baru ini saya
mengambil keputusan untuk berjalan sendiri. Lingkup kegiatan Purba Danarta yang
terbatas di Jawa Tengah membuat saya merasa agak terbatasi. Saya ingin membagi
apa saja yang sudah saya ketahui ke lingkungan yang lebih luas. Hal ini tidak
dapat saya lakukan dengan terus di Purba Danarta. Dengan keberanian yang entah
kuperoleh dari mana, saya mengajukan pengunduran diri. Apa yang akan terjadi
berikutnya saya belum tahu, kuserahkan semua pada alam yang baik ini.
Penutup
Mungkin dapat
dikatakan saya hidup secara tidak bertanggung jawab. Saya nyaris tidak
melakukan apapun dalam menentukan arah hidup saya. Semua datang begitu saja:
diterima di Citibank, sekolah di Amerika, berangkat ke Papua, kembali ke
Jakarta, lalu di Purba Danarta. Hal aneh yang saya rasakan adalah bahwa tanpa
saya rencanakan, hidup saya seolah terarah untuk mendukung pekerjaan saya di
bidang micro finance. Sekolah di Teknik Industri dan University of Southern
California (USC) jelas memberi saya bekal teori yang lumayan.
Lalu dari Citibank
saya belajar konsep operasional bank. Hal-hal mengenai penyaluran kredit dan
masalah legal saya pelajari di ING. Pengenalan pada kehidupan orang kecil saya
peroleh ketika di Papua. Semua itu menjadi bekal yang sangat memadai untuk
mendukung tugas saya di Semarang. Saya yakin, pengalaman saya di Purba Danarta
akan sangat besar perannya dalam jalan saya selanjutnya. Mengenai hal ini, apa
lagi yang dapat saya katakan selain: Allah Maha Besar?
Tentang
penulis (redaksi)
Delima kiswanti
adalah alumni jurusan Teknik Industri. Saat ini Kiswanti adalah salah seorang
ahli Micro finance di Indonesia. Tulisan-tulisannya tentang penerapan ilmu dan
metodologi bidang Micro finance banyak tersebar di Internet dan juga di
publikasi-publikasi Internasional.
“Ambaidiru”
Ditulis
oleh Delima kiswanti pada Oktober 1993
Ceritanya saya mau
lihat potensi perkebunan kopi rakyat di Pulau Yapen, sebuah pulau di Utara
Pulau Irian. Maksud hati mampir di Serui (kota terbesar di Pulau Yapen) dua
hari, lalu kembali ke Biak. Apa daya, data dari resource person saya di Serui
kurang lengkap. Rasanya membuat analisa dengan data pas-pasan kurang memuaskan
hati, jadi dengan angkuh saya minta diantarkan ke Ambaidiru, desa pusat
penghasil kopi di Yapen.
Ambaidiru terletak di
pucuk gunung di tengah Pulau Yapen. Sarana transportasi satu-satunya adalah
sepatu keds tua yang sudah dua tahun menemani saya pulang pergi sekolah setiap
hari. Lama perjalanan diperkirakan dua belas jam. Mengapa tidak dicoba? Jam
enam pagi saya sudah siap di depan toko koperasi, tempat pertemuan yang telah
disetujui kemarin sore, dengan ransel, sebotol aqua dan dua bungkus biskuit
selamat.
Keringat cepat sekali
membanjiri punggung dan wajah saya. Seekor lebah mengira keringat saya seember
madu, tak henti berdengung di seputar rambut keriting saya yang sudah basah
melekat ke kulit kepala.
"Bapa, Ambaidiru
masih jauh kah ?" saya tak sabar lagi
"Ooo, masih
jauh, ibu. Ini baru satu gunung. Kemuka ada tiga lagi"
Gawat, kaki saya
sudah hampir tidak bisa diangkat. Untung Pak Desa (kepala kampung) segera
mengajak kami beristirahat. Kami duduk sebentar, makan ubi jalar rebus yang
mereka bawa. Saya membuka sebungkus kretek dan kami merokok bersama. Tidak
sehat untuk tubuh tapi baik untuk pendekatan sosial.
Sambil beristirahat
saya memperhatikan punggung tangan saya. Ada rasa panas dan gatal menyebar
disitu, seperti digigit seribu semut api. Rasa panas semakin menyengat waktu
punggung tangan yang malang itu saya pakai menyeka keringat di dahiku yang
lebar. Anehnya, tangan itu nampak normal sekali, tak ada bengkak, tak ada warna
merah atau sejenisnya. Akhirnya saya tanya pada pak desa.
"Itu rumput
gatal ibu. Tidak apa-apa."
Enak saja tidak
apa-apa, yang gatal kan tangan saya, bukan tangan dia! Apa boleh buat, saya
terpaksa membiarkannya, seolah-olah memang tidak apa-apa. Pak desa pergi
sebentar, lalu kembali membawa selembar daun berbentuk jantung. Ternyata itulah
penanggung jawab gatalnya tangan saya. Saya ingat-ingat bentuknya dan berjanji
tidak akan pernah menyentuhnya lagi seumur hidup saya. Cukup satu kali saja.
Hutan makin rapat,
jalan makin sulit. Di beberapa tempat jalan setapak berubah jadi kubangan
bercampur aduk dengan semak dan rerumputan, tidak jelas mana tengah mana
tepinya. Sebagai orang kota, saya masih terus berusaha untuk tidak masuk dalam
kubangan, meniti akar, batu dan apa saja yang kelihatan agak padat. Dengan
penuh tanggung jawab pak desa membantu menunjukkan jalan:
"Jalan disini, ibu,
disana lumpur besar-besar."
Susah payah saya
meniti bebatuan sambil berpegang pada ranting dan semak di sekitarnya.
Tiba-tiba jantung saya istirahat seperempat detik, saya ternyata berdiri di
tengah semak rumput gatal. Gawat berat!!! Setengah panik saya minta konfirmasi
dari pak desa:
"Bapa, ini
rumput gatal kah?"
"Betul,
ibu."
Panik saya bertambah
setengah lagi, lalu bukk.... saya jatuh terlentang tepat di atas rumput paling
menakutkan sedunia itu. Teman-teman seperjalanan senyum-senyum menahan tawa.
Karena toh sudah mandi lumpur, untuk selanjutnya saya mengikuti
jejak teman-teman dari Ambaidiru, jalan di dalam kubangan lumpur sedalam 30
senti. Eh, rasanya malah lebih nyaman !!! Perjalanan dapat dilanjutkan dengan
lebih cepat dan saya tidak terlalu cepat lelah. Itulah, bila ditengah kawanan
kambing, mengembik, bila bersama kerbau, menguak. Penduduk setempat tentu lebih
tahu cara terbaik menempuh perjalanan ini.
Hari sudah gelap
ketika kami tiba di Ambaidiru. Saya merasa bersalah. Perjalanan yang biasanya
cukup ditempuh dalam 10 – 12 jam, kali ini baru usai setelah 15 jam, karena
saya ada dalam rombongan. Ketakutan saya pada lumpur, kemampuan jalan saya yang
sangat lambat, seringnya saya terpeleset dan cepatnya saya merasa lelah membuat
mereka terpaksa menyesuaikan diri dan berjalan sangat lebih lambat daripada
biasanya. Terimakasih Pak Desa.
Peluh dan lumpur yang
melekat di sekujur badanku yang penat dan deraan gatal akibat sengatan daun
gatal di leher dan lenganku membuat saya tanpa basa basi menerima tawaran untuk
langsung diantar ke “kamar mandi”. Apa yang saya temui membuat saya terpana..
Di antara tegakan beberapa tanaman kecil, tersembul sebuah bilik ukuran 1.5 x 2
meter dengan dinding tanaman setinggi leher. Sepotong bambu kecil mengalirkan
air
jernih sedingin es. Air ini mengalir ke ember besi yang bertumpu di atas batu.
Di bawahnya setumpuk kayu menjilatkan api jingga kemerahan di gelap malam.
Romantis. Air hangat yang berkepul di pegunungan yang dingin menggigilkan ini
benar-benar pasangan yang pas buat tubuhku yang sangat lelah. Saya ternganga
terkagum-kagum. Inilah kamar mandi terindah dan ternyaman yang pernah saya
temui.
Tapi kekagetan saya
belum selesai. Kali ini nuansanya berbeda. Sejenak sebelum mulai mandi saya
baru menyadari bahwa kedua betisku penuh dikerubuti puluhan lintah kecil-kecil.
Ketika sibuk menyentili lintah-lintah itulah saya ingat bahwa teman-teman saya
sepanjang jalan tadi dari waktu ke waktu menepis sesuatu dari kakinya. Mereka
dapat melihat lintah yang mendatangi tungkainya yang telanjang, sebelum kulit
mereka mulai dilukai. Jeans yang saya pakai ternyata melindungi makhluk-makhluk
kecil ini, membebaskan mereka berpesta di kakiku sampai kenyang dan jatuh
sendiri di sepanjang jalan tadi. Ih.... andai saja saya berkostum seperti
mereka, saya tak perlu merinding seperti ini.
Esoknya saya sempat
belajar memasak singkong dengan daun gedi serta bubur keladi. Saya juga diantar
melihat potensi kebun kopi mereka. Ada beberapa ribu meter persegi lahan yang
tanamannya telah gundul ditebang. Konon di tempat itu SIL (Summer Institute of
Languages) pernah akan membangun landasan pesawat. Entah mengapa rencana tidak
terwujud dan lahan tidak lagi ditanami kopi. Berapa ya potensi pendapatan
mereka yang hilang? Tapi orang-orang sederhana ini sama sekali tidak
menunjukkan rasa penyesalan. Mereka mengejar sebuah cita-cita, tidak tercapai,
ya sudah.
Dalam proses
jalan-jalan ini saya melihat bahwa lebih dari sepertiga penduduk desa menderita
sakit kulit yang parah. Kulit tubuhnya terkelupas membentuk pola sangat
spesifik seperti lukisan abstrak. Penduduk setempat menyebutnya kaskado.
Temanku mengatakan itu penyakit umum di Papua yang disebabkan oleh rendahnya
higiene. Memang, kebanyakan penduduk mengenakan pakaian yang kotor seolah tak
pernah dicuci. Tapi bagaimana mereka akan mencuci pakaian? Memiliki pakaian dan
hidup higienis berarti tambahan kebutuhan 500 gram sabun cuci sebulan, berarti
tambahan kebutuhan uang tunai beberapa ribu rupiah yang sangat berharga, yang
belum tentu mereka punya.
Selain itu, bila seratus penduduk desa membutuhkan 500 gram sabun
cuci setiap bulan, ada tambahan beban seberat 50 kg yang harus mereka panggul
puluhan kilometer setiap bulan. Sampai sekarang saya masih belum dapat menarik
kesimpulan, mana yang lebih baik, “berbudaya” dengan mengenakan pakaian yang
kotor dan sakit kulit, atau bebas dengan kostum nenek moyang mereka, tidak
tergantung pada produk dari luar.
----- Forwarded Message ----
Subject: MICROFINANCE DAN SOBAT KITA KISWANTI
[Non-text portions of this message have been removed]