Presiden berusaha cuci tangan dari dukungannya terhadap laskar jahat, supaya 
dapat hadiah nobel, tanpa meminta maaf.

  ----- Original Message ----- 
  From: Sandy Dwiyono 
  To: [email protected] ; [email protected] 
  Sent: Wednesday, November 25, 2009 3:21 PM
  Subject: [nasional-list] Bangsa yang Beradab Menyelesaikan Konflik dengan 
Damai dan Bermartabat


    
  http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2009/11/25/4912.html

  Rabu, 25 November 2009, 11:26:54 WIB

  Presiden di Ambon:
  Bangsa yang Beradab Menyelesaikan Konflik dengan Damai dan Bermartabat

  Ambon: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak bangsa-bangsa di dunia 
untuk terus bekerja sama mengakhiri konflik kekerasan dan peperangan dengan 
cara-cara yang damai. "Ciri-ciri bangsa yang beradab adalah mereka yang tidak 
menyukai kekerasan, mereka yang mencintai perdamaian, dan menyelesaikan konflik 
dengan cara-cara damai dan bermartabat," ujar Presiden dalam sambutannya pada 
Puncak Peringatan Hari Perdamaian Sedunia Tahun 2009, Rabu (25/11) siang, di 
Ambon, Maluku.

  Selain itu juga, SBY juga mengajak seluruh bangsa di dunia untuk 
menyelesaikan berbagai perbedaan dan pertentangan secara damai. "Mari jalankan 
diplomasi dan negosiasi untuk mencegah perang. Mari gunakan soft power dan 
bukan hard power yang lebih menjurus kepada perang dan tindakan-tindakan 
kekerasan. Dan diatas segalanya, manakala secara internal kita juga menghadapi 
persoalan keamanan, mari carikan resolusinya secara damai," kata SBY.

  Presiden SBY mengharapkan bangsa- bangsa di dunia untuk terus membangun 
tatanan yang semakan adil serta terus membangun dialog antarbangsa. "Marilah 
terus kita bangun dialog antarperadaban, dialog antaragama, dialog antarmedia, 
dialog antargenerasi muda. Dengan demikian maka satu sama lain makin mengenal, 
semakin dekat dan akhirnya bersatu untuk memelihara perdamaian dan keamanan 
dunia," Presiden menambahkan.

  Dalam konteks itu semua, lanjut Presiden SBY, Indonesia akan terus berperan 
aktif memelihara perdamaian dunia, menyelenggarakan atau memfasilitasi berbagai 
dialog, baik dialog antaraagama, antarmedia, dan antarperadaban. Indonesia juga 
akan terus membangun kebijakan dan strategi untuk menyelesaikan konflik 
internal secara damai dan bermartabat. "Tidak harus mengedepankan solusi 
militer. Militer adalah cara terakhir apabila tidak tersedia cara yang lain. 
Saya punya keyakinan, masih banyak cara lain yang bisa kita pilih untuk 
menyelesaikan kemelut di dalam negeri secara damai dan bermartabat. Itulah 
kebijakan yang kita jalankan di Aceh dan Papua. Itulah yang kita dorong di 
berbagai masyarakat di tanah air," Presiden menjelaskan.

  Indonesia juga akan terus menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif 
serta membantu mengatasi isu global, seperti perubahan iklim dan pemanasan 
global. "Sebab ini kalau tidak diatasi bersama, kerusakannya barangkali lebih 
besar dibanding peperangan atau konflik bersenjata yang lain karena akan 
memusnahkan kehidupan dengan iklim yang tidak terkendali," SBY menegaskan. (mit)




  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke