----- Forwarded Message ----
Subject: Fwd:  kaget lagi baca buku (bab3) bank kiamat sektor riil selamat.. (1)

--- In ITB_:

MENGKIAMATKAN BANK, MEMBERDAYAKAN SEKTOR RIIL
Ketika jumpa keluarga seorang mantan aktivis kampus ITB 70-an, anaknya baru 
lulus ITB; lha kok  melamar jadi jongos bank, seluruh bumi RT/RW ibarat  
terhenyak, pohon pun berguguran daunnya, wangi bunga tiba-tiba bau kentut, 
tanpa geming suara. Lulusan ITB kok sumringah banget njongos Bank (ini 
grundelan dari dulu). Mengapa ? Mari berbincang, tanpa SriXMul atau OmBudsMan 
gapapa kok ya. Hehehe..  (istilahnya : innalillahi ekonomi abad 20)


dipanen dari wawancara chairman WITO/World Islamic Trade Organization,
Prof.Umar Ibrahim Vadillo.                                                
BAB 3 : Buku BEYOND BOUNDARIES, David Barsaman & Liem Siok Lan, Aneka Ilmu, 
Semarang, 2009.  ISBN 978-979-736-974-7, 402 hlm, 176x255 mm.
Kini para pemikir global tengah memeras otak-tangan-hati, bagaimana memberi 
kemerdekaan dan demokrasi bagi rakyat (freedom to choose), tetapi jantungnya 
ialah UANG KERTAS yang bermasalah. Thomas Jefferson sesepuh AS berkata : 
institusi perbankan lebih berbahaya daripada tentera musuh. Penciptaan uang 
harus disebratkan dari tangan bankir karena permainan mereka telah mengontrol 
segenap sudut kehidupan bangsa. Jenderal deGaulle berkata : enak sekali AS, 
dapat melunasi utang kepada negara-negara lain dengan menerbitkan dolar 
semau-mau udel dewek.
Perlu dibangun standar pertukaran dunia agar krisis moneter tak semakin 
membiak. Dan sampai sekarang, belum ada yang menandingi EMAS sebagai standar 
alat tukar, yang sudah ada sejak zaman Mesir Yunani, bahkan Atlantis sekalipun.
Abad 20 banyak negara (nation-state) merdeka, tetapi kekuatan kolonial menaruh 
2 bom waktu : (1) bank sentral, yang bertugas menerbitkan uang kertas, (2) 
pemerintah, yang berperan memaksa semua warga negara menerima kertas untuk mata 
uang di tempat masing-masing. Hidup demokrasi, boleh apa saja, boleh debat 
apapun, asal jangan omong soal uang kertas. Demokrasi buatmu, bukan buatku.
Mata uang yang dipilih (rakyat) secara bebas adalah piranti kebebasan. Tetapi 
kekuasaan Romawi pun runtuh oleh permainan komoditi uang. Kinipun kita hidup di 
jagad krisis moneter. Ada invisible hands bermain, negara bangsa pun wafat 
sudah lama. Mengapa ? Kalau ada kebebasan, sejak Majapahit atau dinasti Ming 
pun rakyat akan pilih alat tukar EMAS-PERAK. Itu alamiah. Sayang rakyat 
dipasifkan. Pemerintah bilang uang kertas itu legal-tender, apa boleh dikata. 
Mesti nurut kepongahan, padahal kredibilitas pemerintah di hati rakyat sudah 
sirna. Begitu ceritanya.
Bila mata uang EMAS-PERAK dipakai, habislah permainan politik para begundal 
rakus kekuasaan berjiwa benalu jongos. Mata uang kertas sudah gagal 
mensejahterakan rakyat, walau diobral pakai BTL, tetapi disengkuyung terus. 
Mata uang kertas yang dimain-mainin seenak jidat di pasar, diperjualbelikan, 
disulapi nilainya, kini makin dirasakan dan disadari rakyat, merupakan penyebab 
miskinnya desa, biang hancurnya sektor riil yang terus diperas.
Awalnya ketika usai PD2 lewat BRETTON-WOODS (BW) maka dolar disulap menjadi 
mata uang utama perdagangan dunia, lalu Bank Dunia dan IMF dinobatkan menjadi 
kusir keuangan bumi. Sejak 1971 BW dianulir dan secara unilateral AS bikin 
keputusan dolar tak perlu dukungan emas. Sejak itulah dolar hanya sekadar 
lembaran kertas, tidak lebih. Dengan dolar itulah diborong segala minyak, gas, 
aluminium, tembaga, emas dll dari bangsa lain. Muncullah ketakseimbangan 
perdagangan internasional, negara-negara miskin terbelit vicious circle of 
import. Ketergantungan ngrembaka, ketakadilan neraca keuangan global membabi 
buta. Surplus uang terus disedot ke negara maju. Dan AS terus mencetaki dolar 
kertas, belum lagi yang bentuk elektronik. Ekonomi keuangan terus menggelembung 
tanpa kendali.
Akibatnya, sektor riil diinjak-injak. Kecuali di China, karena disana anutannya 
lain, bukan supply-n-demand. Apapun diproduksi walau tiada permintaan. Yang 
penting milyaran jiwa bekerja, tidak nganggur, bisa makan, ganyang kriminal. 
Dan kini : China adalah raksasa ekonomi dunia. AS pun ketar-ketir ketakutan. 
India walau lebih pelan, juga terus borong emas!
Sementara itu, IMF selalu memutuskan secara tertutup, berasas one dollar one 
vote, maka makin amburadullah keadilan dunia. Maka para jagoan dunia kini 
berpikir, mata uang EMAS lebih berstandar universal. Karena kebenaran tak 
mungkin dipenjara terus.
Sistem ekonomi keuangan, yang jelas adalah sistem ekonomi spekulatif bin SDSB, 
makin lama makin tampak belangnya di seantero bumi. Berbagai gagasan dan suara 
diperdengarkan, dan terus menggelinding membesar bak bola salju. Ada yang 
sekadar bubarkan bank sentral, izinkan bank swasta rating 3A kelola sendiri 
banknotes dan deposits berepresentasi emas, bukan traveller cheque basis dolar. 
Tegakkan pula disiplin pasar, artinya dengan cadangan emas 100%. Sementara yang 
ada tanpa jaminan emas langsung, maka yang ada minimal implisit-theft belaka.
Muncul pula gagasan ekonomi Islam. Uang tak boleh diperdagangkan, dan tak boleh 
dipinjamkan dengan bunga (apalagi bunganya bunga). Artinya, untuk apa bank ? 
Bank saja tidak, apalagi bila dilabeli syariah dengan iktikad menghalalkan yang 
haram. Wah, ini dobel haram. Sayang, umat Islam masih terkibuli.
Kredit berperan banyak di masyarakat, tetapi bukan mesti dilihat sebagai 
kekuatan sihir, segalanya. Lebih banyak uang tak membuat masyarakat lebih kaya. 
Yang untung ya hanya kaum pemegang hak istimewa pengadaan uangnya. Sistem bank 
yang makin membabibuta membuat kontrol kredit tiada. Bank sentral hanya 
berasumsi mampu mengendalikan jumlah pasokan uang. Padahal, dari sononya, uang 
kertas cash kini nyatanya adalah juga kredit atau surat utang, yang tak dapat 
ditagih (non redeemable promissory note); lha, apa itu kredit, apa itu bukan 
penipuan alias perampokan ? Inherited theft sudah sistemik. Bank-bank 
mengontrol uang rakyat, rakyat memikul segala rugi, dan kemerdekaan tiap warga 
masyarakat pun dirampas.
Kini uang terjebak di jaringan bank. Agregasi deposit menumpuk, rakyat 
menyerahkan takdir nasib ke tangan bankir. Dan bankir dengan nyaman 
membagi-bagi kredit melebihi jatah cash di tangan.  Bank memaksa diri menjadi 
manajer uang rakyat (unwanted), padahal merekalah biang penyebab inflasi.
Mempertanyakan pilihan sistem mata uang amat penting. Kita mau terus menganut 
pemerintah menerbit-kelola uang dengan segala kerumitan mekanisme proses 
politik ekonominya yang tak dipahami rakyat, atau agar rakyat memilih sendiri 
secara demokratis mata uang yang akan digunakan ? Bila lembaga keuangan 
diserahi monopoli, jangan heranlah bila uang kertas artifisial paling ideal 
disalahgunakan buat kepentingan politik, semau gue diekspansi dikontraksi 
sesuai selera penguasa di tiap saat, dan dapat diinflasikan selaku komplemen 
pajak pendapatan.
Sebaliknya bila rakyat memilih, lagi sejak zaman Nabi Nuh sampai Sriwijaya 
Siliwangi Majapahit Makasar Mataram pun, uang EMAS PERAK tak terkenai pajak 
dalam penggunaannya. Rakyat bebas menjnual, membeli, memiliki, menggunakan 
sebagai alat tukar transaksi. Mata uang emas sungguh alamiah dan sehat, 
nilainya tak gayut campurtangan penguasa atau lembaga keuangan manapun. Selama 
ini uang kertas dipakai untuk main-main, bukan untuk memberdayakan sektor riil.
Antar negara pun tiada perlu pembedaan mata uang. Apalagi bila dari Rupiah ke 
Yuan harus muter via Dolar dulu, apa-apaan itu, biaya tinggi. Tiada hambatan 
antar negara, tak takut devaluasi, mau dipakai ke Afrika atau Arab atau Eropa 
atau Brasil ya sah-sah saja. Emas tak bisa diinflasikan dengan mencetak lebih 
banyak, juga tak terdevaluasi hanya oleh selembar dekrit pemerintah. Emas 
portable dan anonim, emas apalagi adalah aset yang tak terkait liabilitas pihak 
lain, bumi langit dibandingkan mata uang kertas yang rentan. Ribuan tahun 
peradaban manusia sejak zaman Atlantis sampai abad 19, terbukti emas aman. 
Justru dalam abad 20 koboy semua menjadi pabalieut.
Mengganti sistem mata uang bukan perjuangan mudah, maka yang penting BERI 
KEBEBASAN rakyat (pemilik dan pengguna) memilih. Dalam keadaan utang berbagai 
negara teramat besar kini, sistem ala abad 20 tinggal tunggu waktu rontok. Ini 
niscaya.
Ada pula saran solusi lain, AS dan Eropa, untuk swastanisasi mata uang, agar 
stabilisasi harga membaik, tetapi tidak tuntas total. Yang makin kencang : 
eliminasi saja bank sentral, dan bank-bank swasta terbitkan bank notes dan 
deposit berepresentasi emas, dan bank mengelola mata uang. Inipun kurang tuntas.
Inflasi adalah isyu penting sekaitan kesejahteraan rakyat. Inflasi tak dapat 
dilihat hanya dari kacamata sistem akuntansi nasional. Kalau rakyat 
terus-menerus dipaksa memakai mata uang kertas yang nyata-nyata rentan 
devaluasi,  aneka penyebab inflasi, jelas gamblang rakyat telah sedang dan akan 
terus DIBOHONGI dengan sistem itu. Bangsa-bangsa sedang dirampoki oleh sistem. 
Agar nilai mata uang tidak amburadul berubah-ubah dan tahan atas fluktuasi, 
harus ditegakkan kebebasan memilih emas dan perak sebagaimana nenek-moyang kita 
dalam dunia yang niscaya makin beradab, bukan biadab ala abad 20. Tak perlu ada 
mata uang kertas kecuali untuk beberapa hal sebagaimana awalnya yakni untuk 
kontrak terbatas yang tanpa bunga sehingga tak perlu diperhitungkan dalam 
sirkulasi.
Dan emas, walau dieksplorasi ribuan tahun, tidak akan tekor untuk menyangga 
perekonomian dunia. Di abad 19 yang ekonomi tumbuh pesat, ada ekonomi berjaya, 
harga turun, upah dan gaji naik. Yang jelas : bukan soal makin berlipatgandanya 
jumlah uang. Berapapun uang yang ada, akan cukup untuk membeli barang dan jasa 
yang ada di pasar. Gejala yang kini disebut kurangnya emas, adalah akibat 
inflasi dunia. Bila kembali memakai sistem emas, niscaya kestabilan keuangan 
akan datang. Emas tak akan dipakai lagi dalam spekulasi perdagangan ala SDSB 
yang terbukti jahat bagi kemanusiaan dan bangsa-bangsa.
Dalam sistem ekonomi Islam ada 5 pilar : MONEY/freely chosen, OPEN Market 
Infrastructure, CARAVANS/OPEN Distribution and Logistics Infrastructure, 
Guild/OPEN Production Infrastructure, JUST Contractual Legal Frameworks. 
Kelimanya dimiliki oleh PUBLIK. Kemakmuran rakyat harus dinomorsatukan, melawan 
ketamakan dan kerakusan tiada henti yang makin dilegalkan dalam perampokan 
besar-besaran oleh sistem, monopoli serta riba. Mental inipun sebenarnya 
kesejatian berbagai ajaran religi dan spiritual lain. Jangan biarkan pola-pola 
maling abad 20 beranak pinak, STOP di abad ini, karena cara jahat niscaya 
HANCUR oleh hal alami sejati.
Walau pemerintah kurang suka mata uang EMAS PERAK, sebenarnya hak dan 
kewenangan menganut ada pada masyarakat. Keharusan zaman ini adalah mengikis 
kaum rakus. Banyak kepala negara makin  memahami dan belum ada yang menolak 
prakarsa ini. Pemerintah harus merumuskan ulang : pencerdasan dirinya, peranan 
pensejahteraan rakyatnya. Bila tidak, pemerintah hanya menjadi BEBAN rakyat. 
Hal ini berbahaya, karena dapat memicu tiga proses sejajar : the death of 
money, the death of inflation, the death of government. Membikin miris, ya ? 
Kalau pemerintah tidak mau sadar, akan terus DIPERALAT oleh sistem keuangan 
global yang sudah berkarat kini.
Sistem keuangan eksploitatif kini terus sibuk mencuri dari kantong kita, walau 
kita sedang ngobrol atau membaca ini. Awalnya kertas mewakili transaksi 
komoditi yang dibarter, artinya hanya catatan utang (promissory note), maka 
dapat ditukarkan kembali dalam bentuk komoditi yang dijanjikan, biasanya EMAS. 
Masalahnya, sekarang ini kertas itu sudah diperdagangkan padahal tiada nilai 
riilnya. Catatan kok diperdagangkan, apa bukan SDSB itu ? Ada sektor riil, ada 
sektor finansial. Itu sebenarnya hanya kedok, cadar, pelamis lambe.
Sistem uang EMAS kini tiada masalah, bahkan makin siap trendy. Ini karena ada 
teknologi multimedia berbasis informasi komunikasi. Dari 3G ke 4G lalu NGN 
(Next Gen Net), masyarakat saling berjejaring utuh. Rakyat harus diinternetkan, 
diparabolakan, secepat-cepatnya. Manfaat ekonomi harus disebar, ini keniscayaan 
zaman. Tak bisa lain.
Dengan HANDPHONE saja, pulsa sebenarnya kan uang. Jepang sudah jagoan melansir 
i-mode, aneka transaksi bisa dicakup. Lha buat apa mahal-mahal bikin jaringan 
ATM yang sebentar lagi almarhum ? Biaya transaksi jauh lebih murah, hanya biaya 
pulsa sms bukan ? Transaksi ke seluruh sudut bumi gampang, mengapa repot ke 
ATM, antri di bank ? Mengapa menggaji eksekutif bank yang gajinya termahal di 
dunia, kerjanya cuma menghitung plus-minus istilahnya? Mengapa bangun gedung 
bank jor-joran mewah sejuk di tengah kota, sementara pak tani dan tukang becak 
terus diperas dan disengat terik mentari ?
Di zaman EKONOMI SIBER, mata uang EMAS itu dalam bentuk pulsa, bukan harus 
takgendong kemana-mana! Mata uang emas didukung GOLD REPOSITORY adalah cara 
praktis zaman ini. Satu dunia, satu mata uang. EMAS namanya.
Teknologi informasi adalah sarana COUP-DE-BANQUE, menggulingkan perbankan 
terkapar sehabis-habisnya, karena selama ini mereka telah menyedot darah 
rakyat. Fungsi bank hanya administratur catatan plus minus, dengan variasi 
kecil hitungan anak sekolah lanjutan. Begitu kok mengatur dan menentukan NASIB 
berbagai bahkan semua sektor kehidupan masyarakat. Ini kebejadan besar, ini 
mengerikan. Beban ekonomi yang tak terkira. Benalu bangsa adalah PERBANKAN ala 
abad20.
Dunia menuju cashless society, paperless society. Bisnis perbankan adalah 
SUNSET, sandyakala, senjakala. Layanannya sudah sangat tidak efisien, dan 
absolut tidak kompetitif dibandingkan gelegar pengembangan fitur-fitur 
teknologi informasi komunikasi yang canggih. Transaksi pakai HP, biaya cukup 
pulsa saja, mana mungkin bank akan bertahan. Apalagi bila lembaga pengelola 
sistem uang EMAS makin muncul, koperasi makin bertaburan dimana-mana. Koperasi 
di Madura mau bertransasksi dengan yang di Monaco, apa susahnya ? Jembatannya 
semudah pijitan jarimu, sayang!
Himpunan Koperasi Sedunia (ICA) makin memikirkan terbentuknya World 
Cooperatives Bank (WCB) yang akan menjadi PENANTANG Bank Dunia. Rakyat di 
belahan bumi yang selama ini dirugikan oleh sistem congkak abad 20 harus makin 
bergabung dalam koperasi-koperasi, sadari betapa selama ini dirampok, bangkit 
bersatu. Koperasi-koperasi berhimpun dalam kekuatan pendobrak ekonomi 
eksploitatif absurd yang menjajah sektor RIIL. OPEN, jangan biarkan curang 
terus!
Sehingga DEMOKRASI yang didengung-dengungkan menjadi riil pula, bukan poles 
bibir. Sekarang ini demokrasi boleh apa saja : mau debat demo, soal apapun, 
soal rambut dan pakaian, soal lagu dan lukisan, soal 2012, soal cicak tokek, 
sampai kawin gay, sampai apapun, tetapi soal MATA UANG : dilarang. Lho, 
bukankah itu DEMOKRASI BUATMU, TAPI BUKAN BAGIKU (keuangan monopolis 
eksploitatif) penyedot darah anak bangsa-bangsa di bumi ? Bagaimana sikap 
pemerintah?
Begitulah, sangat absurd bila orang berlatarbelakang KEINSINYURAN masih juga 
diketiaki PERBANKAN. Jongos fisik mental! Kini makin tiba zamannya, insinyur 
menggerakkan sektor RIIL, menyejahterakan RAKYAT yang telah memuliakan mereka. 
Jangan terus jadi JONGOS sistem kolonialistis imperialistis. Para insinyur 
bersatulah, sadarkan dan cerahilah bangsamu ini ! ALUMNI ITB jangan 
keterlanjuran bagi yang enak-enak menjadi pelacur BERGAJUL terhadap nasib 
bangsa INDONESIA ah!
Malu terhadap anak cucu, bila telat bertobat ! Mulai bergeraklah ke segala 
arah, bongkari sindikat ekonomi perampok ! Kini berilah kesempatan kepada 
hatimu untuk bicara, budimu untuk bernalar, tanganmu untuk bergandengan, kawan. 
Pilihan sampeyan simpel sam/cak (bukan rumus ruwet) : cecunguk pecundang, atau 
pahlawan masa depan bongsomu... ELING !

Salam Merdiko pula dari
LIEM SIOK LAN (JUSTIANI)
http://smartdevelopmentindonesia.com
liemsiok...@...    08159051630
ALUMNUS ITB (TEKNIK INDUSTRI 81), AREK MALANG SAM/CAK!
(jangan lupa cari, beli dan baca bukuku diatas ya...)

--- End forwarded message ---


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke