http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=75231

Kamis, 03-12-09 | 18:14 | 529 View

 
Film Balibo Five Bisa Sulut Luka Lama
Menlu RI: Pelarangan Itu Urusan LSF




 
JAKARTA -- Rencana penayangan Film Balibo Five yang akan dilakukan di Jakarta 
International Film Festival (Jiffest) ini telah dibatalkan. Hanya saja, rencana 
penayangan ini memunculkan beragam tanggapan atau komentar. 

Ada yang pro, ada pula yang kontra. Mereka yang kontra dengan rencana 
penayangan film yang ceritanya terkait dengan peristiwa terbunuhnya lima 
wartawan asing asal Australia, di Balibo, Timor-Timur (sekarang Timor Leste, 
Red) itu menyatakan bahwa film itu bisa menyulut luka lama, terutama terkait 
dengan hubungan Indonesia-Australia maupun denga Timor Leste. 

Ketua Komisi I DPR, Kemal Aziz Stamboel, termasuk salah satu yang menyatakan 
mendukung pelarangan penayangan film tersebut. Saat rapat dengan pendapat 
Komisi I DPR RI dengan Menteri Luar Negeri dan jajarannya di Gedung DPR/MPR RI 
Senayan, Jakarta, Rabu (2/12), politisi PKS itu mengatakan bahwa penayangan, 
film tentang terbuhnya lima wartawan asing itu bisa menyulut luka lama. 

"Balibo bercerita mengenai lima wartawan yang meninggal akibat kesalahan pihak 
yang bertikai waktu itu. Itu sudah lama, 35 tahun yang lalu," kata Kemal 
kemarin. 

Sebagaimana ramai diberitakan media, film mengenai peristiwa terbunuhnya lima 
wartawan Australia ini rencananya diputar di Jiffest ke-11 tahun 2009 yang 
dimulai 4 Desember ini. Namun kemudian dibatalkan karena Lembaga Sensor Film 
(LSF) melarang penayangannya. 

Kalau Ketua Komisi I DPR RI mendukung pelarangan penayangan itu, organisasi 
media, dalam hal ini Aliansi Jurnalis Independen (AJI) justru menjadi pihak 
yang pro dan memprotes pelarangan itu. "Keputusan LSF tersebut bertentangan 
dengan prinsip kebebasan berekspresi, dan tidak menghormati hak masyarakat 
untuk tahu," kata Koordinator Advokasi AJI, Margiono, dalam rilisnya yang 
disampaikan kepada media, 2 Desember 2009. 

Alasan bahwa "membuka luka lama" konflik Indonesia dengan Australia, serta 
Timor Leste, oleh AJI dianggap berlebihan. "AJI Indonesia menduga, pelarangan 
film tersebut sangat politis karena film tersebut mengungkap pelanggaran HAM 
oleh tentara Indonesia berupa pembantaian lima jurnalis asing di Balibo, Timor 
Leste pada 1975. Pelarangan film tersebut terkesan untuk menutup-nutupi 
keterlibatan sejumlah perwira Indonesia dalam pembantaian jurnalis itu," sebut 
Margiono. 

Oleh karena itu, dalam rilisnya, AJI Indonesia meminta agar pelarangan film 
Balibo Five dicabut, sebab pemutaran film ini penting untuk memberikan 
informasi kepada publik Indonesia mengenai peristiwa tersebut dari sudut 
pandang lain dari apa yang disampaikan pemerintah Indonesia selama ini. 

AJI Indonesia menilai, penayangan fim tersebut sangat berguna untuk 
mengingatkan semua pihak agar menghormati jurnalis yang tengah meliput. "Film 
tersebut juga menjadi peringatan bahwa pembunuhan terhadap jurnalis harus 
diusut tuntas, pelakunya harus diadili," tandas Margiono. 

Terpisah, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Marty Natalegawa kepada wartawan usai 
rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI, 2 Desember 2009, menyatakan, 
pelarangan penayangan film Balibo Five di Indonesia bukan urusan lembaga yang 
dia pimpin, melainkan urusan LSF. 

"Saya yakin, lembaga yang mengeluarkan larangan itu dengan berbagai 
pertimbangan, jadi Deplu tidak akan masuk ke situ," kata Marty. 

Deplu, lanjut Marty meminta LSF untuk menjelaskan apa latar belakang pelarangan 
itu. Dunia internasional tentu berhak tahu mengapa film buatan Australia itu 
tak bisa diputar di Indonesia. "Ini bukan wilayah Deplu untuk menjelaskan ini. 
Kita harus memastikan jangan sampai keputusan ini membuat permasalahan," 
ujarnya. 

Sementara itu, Juru Bicara Deplu, Teuku Faizasyah yang dimintai komentarnya 
terkait penayangan film Balibo mengatakan film ini dapat membuka konflik antara 
Indonesia-Australia. "Kita mengikuti dari resensi film. Ini berangkat dari 
novel yang bercerita dari satu sisi saja. Mengapa kita menciptakan satu sejarah 
berdasarkan satu novel?" ujar Faizasyah kepada wartawan sebelum mengikuti rapat 
kerja antara Komisi I DPR RI dengan Deplu di Senayan, 2 Desember 2009. 

Saat itu, Teuku hanya mengungkapkan, rapat dengar pendapat yang dilakukan 
kemarin lebih membicarakan hal-hal mengenai kebijakan luar negeri Kabinet 
Indonesia Bersatu (KIB) II, serta isu-isu khusus mengenai perbatasan dan 
ketenagakerjaan. 

Untuk diketahui, peristiwa Balibo yang kemudian dikenal dengan sebutan Balibo 
Five itu merupakan peristiwa sejarah tentang terbunuhnya lima wartawan asing 
asal Australia, Selandia Baru, dan Inggris itu, yakni Greg Shackleton, Brian 
Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, dan Tony Steward di Balibo, wilayah 
perbatasan antara Indonesia dan Timor-Timor (sekarang Timor Leste) tahun 1975 
silam. 

Ketika itu, kelima wartawan asing tersebut tewas ketika tengah meliput masuknya 
tentara Indonesia ke Timor Leste. Pemerintah Indonesia mengatakan, kelima 
wartawan asing tersebut tewas karena terjebak di medan peperangan. 

Namun, pengadilan koroner di negara bagian Australia, New South Wales, pada 
tahun 2007, mengatakan, berdasarkan hasil investigasi, kelima wartawan tersebut 
dibunuh oleh tentara Indonesia. Film Balibo yang disutradarai Rob Conolly pun 
mengangkat kisah tersebut berdasarkan fakta di atas. (aln/fmc) 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke