http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009120308020112
Kamis, 3 Desember 2009
UTAMA
REKOR MURI: Suparmono Tertinggi Ketiga di Dunia
REKOR INDONESIA. Suparwono berjalan bersama pemilik MURI, Jaya
Suprana (kiri) saat pria asal Lampung itu dikukuhkan sebagai manusia tertinggi
di Indonesia. Pengukuhan berlangsung di Mall of Indonesia, Jakarta Utara, Rabu
(2-12).
(REUTERS/Supri (INDONESIA SOCIETY HEALTH IMAGES OF THE DAY))
JAKARTA (Lampost): Museum untuk Rekor Dunia-Indonesia (MURI) mencatatkan
Suparwono, pria asal SP VIII, Tulangbawang, Lampung, sebagai manusia tertinggi
se-Indonesia dengan tinggi badan mencapai 242 centimeter (2,42 meter).
"Pencatatan ini menumbangkan rekor manusia tertinggi se-Indonesia
sebelumnya yang tercatat 220 centimeter," kata pemilik MURI Jaya Suprana dalam
acara pemberian Piagam Penghargaan MURI atas Rekor Insan Tertinggi di Indonesia
di Jakarta, Rabu (2-12).
Meski tertinggi di Indonesia, untuk ukuran dunia, tinggi tubuh Suparwono
belum mampu mengalahkan Sultan Kosen, pemegang rekor pemilik tubuh tertinggi di
dunia asal Turki dengan tinggi badan 247 centimeter. Saat ini, Suparwono
diperkirakan menempati urutan tiga dunia di belakang Kosen dan Zhao Liang asal
China yang memiliki tinggi tubuh 246 centimeter. Ia menggeser posisi Ri Myung
Hun asal Korea Utara yang sebelumnya duduk di urutan tiga dunia dengan tinggi
235 centimeter.
Jaya menjelaskan Suparmono tadinya sempat digadang-gadang bakal menjadi
manusia tertinggi di dunia. Tim dokter Rumah Sakit Siloam dan sebuah rumah
sakit di Lampung sempat mengukur dan mencatat tinggi Suparmono menembus angka
270 centimeter, jauh di atas tinggi tubuh pemegang rekor dunia saat ini.
Namun, setelah diukur ulang menggunakan pita meteran di depan saksi-saksi
pengunjung acara penyerahan piagam, tinggi tubuh pria dengan berat badan
160--170 kilogram tersebut tercatat 242 centimeter dalam posisi tidur dan 239
centimeter dalam posisi berdiri. "Sayang sekali kami tidak bisa mengakui
catatan tinggi badan sebelumnya yang mencapai 270 centimeter. Mungkin tim
dokter mengukurnya dari ujung kuku kaki, sedangkan kami dari ujung tumit. Tapi
bagaimanapun juga, ini tetap membanggakan buat Indonesia," kata Jaya.
Meski saat ini tinggi tubuhnya mencapai 242 centimeter, Suparmono mengaku
dilahirkan normal dengan panjang 50 centimeter dan berat 4 kilogram. Ia mulai
merasa tubuhnya tumbuh lebih tinggi dibandingkan teman-temannya sewaktu
menginjak usia 10 tahun. "Waktu itu saya yang paling tinggi di kelas. Pas umur
17 tahun, tinggi saya sudah lewat 2 meter, sekitar 2,18 meter," kata pria
jebolan SD tersebut.
Menjulangnya tinggi tubuh Suparmono berimbas kepada porsi makannya. Ia
mengaku satu hari dapat mengonsumsi makanan hingga tiga kilogram, bahkan lebih.
Makanan favoritnya adalah ubi dan daun singkong. Sebagai manusia normal, ia
pernah punya pacar dengan tinggi tubuh nyaris setengahnya, sekitar 160
centimeter. "Dulu saya juga suka olahraga bola basket. Tapi makin tinggi saya,
makin tidak kuat kaki saya. Saat ini kaki saya terasa sakit karena tulang
dengkul saya mulai tidak kuat menopang badan," kata dia.
Sulitnya memiliki tinggi tubuh di luar ukuran normal membuatnya harus
banyak beradaptasi, khususnya dengan alat-alat yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Untuk pakaian dan sepatu, misalnya, harus dipesan khusus.
Begitu pula dengan tempat tidur dan jamban, keduanya disesuaikan agar
bisa diadaptasi oleh Suparmono. Bahkan, untuk naik mobil, tempat duduk bagian
tengah dan belakang harus dilipat agar dirinya bisa duduk selonjor. "Kalau
sendok dan garpu makan ya ukurannya biasa saja. Hanya piringnya yang agak besar
atau biasanya langsung makan pakai bakul nasi biar gampang," ujar dia.
Lebih jauh, ia menyampaikan kiranya pemerintah ataupun masyarakat
bersedia membantu biaya untuk mengobati kakinya. Pasalnya, jika tidak
dioperasi, kata dia, lambat laun dirinya tidak bisa berjalan lagi akibat
persendian kaki yang makin tidak kuat menopang tubuh raksasanya. n MI/U-1
[Non-text portions of this message have been removed]