----- Forwarded Message ----

Subject: Fwd:  KOPERASI-KOOPETITIF INDONESIA : LIEM SIOK LAN (3)

--- In ITB_-inkubator

KERANGKA HOLISTIK KOPERASI KOOPETITIF KOMUNIKASI-SOSIAL IDAMAN (1)
ASAH-ASIH-ASUH MENUJU INDONESIA INC.

(lagi source gagas BUKU adik kita ALUMNUS ITB madam LIEM SIOK LAN arek malang 
sejati, 2009)
BEYOND BOUNDARIES, Aneka Ilmu, Semarang :  024-6580335, 024-6582901

Cepetlah pesen, bagus dibaca, jangan sampai kehabisan. Salam.


Dear all, manakala orang bermental JONGOS, makin tinggi derajat posisinya, GM 
atau Presdir, sering makin gaptek dia. Mengapa, lantaran boss mesti feodal 
dilayani ajudan atau unthul-unthul iain, apa-apa disiapkan. Malas nge-draft 
atau nge-browse sendiri, apalagi soal teh kopi. Rasanya kita pernah 
mengalaminya di satu kala. Heheho. Padahal bagaimana bikin usaha bengkel bila 
ukuran mur baut saja pekok ya. Mana bisa urus agro, kalau kaki pun enggan 
terendam lumpur sawah , mengaduk tahi sapi kambing, atau malah kena lintah atau 
scorpio sesekali ? Itulah situasi negeri Indonesia nan kini terpuruk...Hahihu. 
Semelekete!
Orang kini banyak disihir dua kutub buku : Francis Fukuyama & Samuel 
Huntington. Kontroversi atau tidak, tergantung kentosnya tentu. Globalisasi 
punya jamaksegi, dari homogenisasi sampai hegemonisasi.  Core dan perifer 
dipelototi. Malah kinipun sudah bernuansa PARADOKS, antara globalisasi dan 
pascamodern yang dironai desentralisasi dan kebhinnekaan. Makin mengglobal, 
kian melokal.
Indonesia ? Dengan PANCASILA, Indonesia punya kedewasaan berbangsa yang tinggi. 
Maka dalam soal Aceh saja, dari kerangka globalisasi bersandar ekonomi, titik 
temu bisa diraih. Lalu apa dengan keterpurukan berat di era/rezim kini, apa 
tesis Huntington berpeluang ? Sebentar, kalau Indonesia pecah, COSTnya sangat 
mengerikan besar. Bosnia yang kecil saja bikin geger, tak kunjung kelar urusan, 
apalagi kalau terjadi di Nusantara. Dan rasanya, SUMPAH PEMUDA 1928 landasan 
kokoh. Tetapi perlu lebih : asalkan pemerintah pusat sanggup berubah, 
MENSEJAHTERAKAN RAKYAT serta mengarahkan agar otonomi tetap konvergen-konsisten 
ke bingkai segar SMART INDONESIA INCORPORATED! Artinya, Fukuyama lebih afdol, 
asal politik ekonominya dirumus berbasis KERAKYATAN, akumulasi modal pun 
didistribusikan ke rakyat.
Globalisasi itu gejala TRI-DINAMIKA : globalisasi modal dan integrasi ekonomi, 
kemajuan teknologi (transportasi-informasi), serta konvergensi kepentingan 
mengelompok/korporasi multinasional pemadu kekuatan sosial aras global. Lalu 
INDONESIA ? Akan lunturkah nation-state ? Nanti dulu! Memang globalisasi 
menguji lagi konsep dan kekukuhan bentuk negara-bangsa di dunia.  Menurut 
founding father kita Bung Karno -  TRISAKTI : merdeka politis, mandiri ekonomi, 
budaya berkepribadian. Dan dalam wacana ekonomis, segala bangsa terdorong 
menata NATION-STATE CORP.  Pemerintah niscaya berbenah merumuskan peranan. Apa 
efisien ? Apa kebijakannya justru membebani keseluruhan sistem lantaran tak 
sanggup menjaga kesetimbangan ? Kekuatan market vs kekuatan pemerintah bukan 
impian siang bolong! Pemerintah yang KORUP dan tak efisien akan dihadang 
langsung oleh prasyarat efisiensi, cost reduction, dan layanan prima di dunia 
kini dan nanti. BIROKRASI biaya tinggi menginjak
 rakyat. Dan rakyat tidak bodo! Rakyat berwenang dan berhak memilih. Bila 
pemerintah tetap lamban menyikapi, negara gagal bukanlah dongeng akhir pekan. 
Pemerintah tak punya pilihan, pemerintah harus manut zaman. Take it atau 
matilah kau (the death of government). Birokrat korup menyengsarakan rakyat, 
dan matinya pemerintah tinggal soal waktu.
Pemerintah tetap bergaya feodal, atau mau menjadi manajemen pelayanan publik. 
Itulah persoalannya.
Dalam lingkar ekonomi, mestinya pemerintahlah penyetimbang. Pemerintah adalah 
pembela dan pelindung LAPISAN masyarakat TERBAWAH, menyediakan aneka insentif 
program kesejahteraan. Caranya : menyiapkan dan mendukung melalui KORPORASI 
KERAKYATAN terorganisir dengan sistem berbasis MULTIMEDIA-INFORMATIKA agar 
rakyat merasakan manfaat adanya, tanpa melalui tangan dan agen elite atau 
partai belaka. Maka cara dan hampiran sumbangan pajak dari yang kuat saja 
(seperti paradigma Sri kini) adalah sungguh bayek alias cingkrang. Bukan itu 
welfare program yang benar.
Dalam globalisasi (Ali Mazrui) ada 4 engine : agama, teknologi, ekonomi dan 
imperium (politik). Yang menonjol ialah globalisasi oleh TEKNOLOGI, yang 
mendorong penetrasi modal ke tempat yang paling basah. Indonesia mau apa ? 
Indonesia mesti sadar laku/praxis (bukan konsep semata) bahwa diatas peta 
GEOGRAFISnya niscaya ditumpangsuhkan peta EKONOMI. Ekonomi sumberdaya mesti 
makin dijelujuri dan diarahkan ke ekonomi berkekuatan IPTEK.
Kalau berkutat hanya di resource economy saja, sumberdaya mineral misalnya, apa 
lacur ? Fakta, 80% volum perdagangan antar negara (ekspor impor)nya oleh 
multinasional. Parah lagi kalau itu yang dijadikan sandaran hitungan 
indikator-indikator ekonomi makro karuhun semisal GNP, GDP dll yang absurd itu. 
Pemerintah kurang pintar, pasti rakyat yang sengsara. Padahal mestinya 
pemerintah justru harus serius di lapangan membenahi sektor informal serta 
kecil yang melibatkan 99.9% warga negara!
Pemerintah yang cerdas, melihat masalah sebagai tantangan dan peluang. Kalau 
terus menggenggam paradigma lama, mana mungkin mencipta pasar baru ala Blue 
Ocean Strategy ? Padahal bagi pemerintah, pasarnya jelas : RAKYAT. Ini yang 
jeli ditangkap China, juga India menyusul. Meladeni kebutuhan pasar rakyat, 
dengan mengacu MDG (goal millennium), tidak usah mbulet! Pemerintah nyaris tak 
punya kompetitor, tak seperti korporasi swasta. Jadi mestinya enteng, asalkan 
pemerintahnya tidak boten-boten alias bloon. Ada lagi sarana lain agar 
Indonesia dapat menangkap peluang globalisasi : network LSM, aneka prakarsa dan 
gerakan, oleh rakyatnya. Masalahnya : strategi baru ini harus dimulai dari 
PEMIMPIN PUNCAKnya. Kalau mampu bagus, kalau bingung dan ragu ya jongkok 
melulu. Perlu REVOLUSI cara berpikir. Bila elite enggan beringsut dari pola 
lama, jangan heran bila yang ada sekadar residu masa lalu bagi generasi 
penerus. Mental JONGOS sungguh lebih jahat daripada dajjal
 laiknya. Pemimpin sejati masa kini niscaya paham paradoks globalisasi, 
sekaligus mewujudkan upaya dan gerakan berbasis model-model segar IDEOLOGI 
KERAKYATAN, dengan tetap waskita dinamika lokal-globalnya. Bila pemimpinnya 
tidak becus, bukan mustahil pemerintah menjadi beban, bahkan menyengsarakan 
rakyatnya.
KOPERASI KOOPETITIF KORPORASI
Jangan kagetan dan gumunan. Bukan mustahil akan lahir nation-state baru lain, 
berbasis wire-society. Persaingan pelayanan masyarakat kian canggih, kok 
pemda-pemda masih pekok jua ? Negara incorporated adalah keniscayaan. Ingat, 
semacam koperasi di Spanyol (Mondragon/MCC) juga India dll skala besar milik 
rakyat, manajemen nearly-zero-cost via internet. Aliran-aliran baru demikian 
kini makin trendy. Tak relevan lagi isyu-isyu kampungan semisal etnis agama 
SARA dan gender, yang selama ini melekati masyarakat kuno-sesat-terpuruk ! 
Mengapa ? Program dan komputer, iptek, tidak kenal diskriminasi goblog begitu! 
INDONESIA jangan lala-lama lah, puas jongkok bodoh diuntal zaman.  Pemimpin dan 
penggerak juga  faktornya.
Maka jangan salah lagi. Dalam sistem pasar ada pula KOPERASI KORPORASI.  
Paradigma baru EKONOMI JARINGAN meniscayakan infrastruktur politik 
telkom-multimedia, wajib dimiliki setiap individu penduduk tanpa pandang buku. 
Ini dapat dibayangkan seperti jiwa-komunitas ala Atlantis dulu juga. Indonesia 
konon letak Atlantis Lemuria, maka sungguh sayang kalau manusianya kini malah 
tambah loyo bodo. Infrastruktur telekomunikasi, komputer internet parabola, 
KOMUNIKASI SOSIAL, harus digulati dan wujudkan, disediakan bagi RAKYAT semurah 
mungkin. Jangan malah PULSA saja begitu mahal dibandingkan negara lain, karena 
patgulipat oligopolis telkom yang miskin moral. Knowledge-based BUSINESS 
berlipat nilai tambahlah KUNCI. Dijaga jangan sampai ada monopoli/oligopoli 
koperasi berteknologi begini : ciptakan kompetisi. Artinya KOOPERATIF sekaligus 
KOMPETITIF, hasilnya KOOPETITIF. Repotnya, di INDONESIA justru keruk-kerukan 
untung pemegang saham, jelas itu melawan ARUS ZAMAN.
 Bila diLANJUTKAN, pasti MASUK JURANG bangsa ini!
Bentuk KOOPETITIF ini pula yang dipikirkan para PENDIRI REPUBLIK dulu, Bung 
Karno, Bung Hatta dll. Dulu pemahamannya dalam bentuk BUMN dan KOPERASI. Apa 
ini masih cocok ? Masih cocok jiwa KOOPETITIFnya, tetapi lebih gambalng berupa 
BUMR : BADAN USAHA MILIK RAKYAT. Jadi bukan BUMN yang selama ini tak lebih 
sekadar OBYEK SAPI PERAHAN rezim berkuasa sampai partai politik! BUMN (dan 
Koperasi) masa kini yang berparadigma degil, hanya sebagai ajang kekuasaan dan 
sawah segelintir, adalah PENGKHIANATAN kemerdekaan dan jasa pahlawan, laiknya!
BISNIS KERAKYATAN berbasis DIGITAL inilah bentuk demokrasi yang terjabar dalam 
SILA 4 dan 5 PANCASILA, bila dipahami secara genuine. Dengan MANAJEMEN dan 
TEKNOLOGI, rakyat siap bertarung global, menjadi PLATFORM masyarakat digital 
masa depan. Itulah hakikat PEOPLE CYBERNOMICS. Itu yang mestinya dikembangkan 
di otak para insinyur yang sadar panggilan bangsanya. Itu yang harusnya 
disiapkan dan disediakan oleh pemerintah yang BUKAN mental JONGOS rakus kuasa 
ibarat TONGTONGSOT Petruk Dadi Ratu, yang hanya menyusahkan rakyat. Hanya 
dengan kerangka SIBERNOMIK RAKYAT begitulah ada kesetaraan POLITIK, EKONOMI, 
dan BUDAYA. Kearifan dan jenius lokal akan bermekaran tiada tara. Inilah makna 
PEMBERDAYAAN, bukan rebutan tulang dan daging di elite.
BUMN DAN SWASTA BESAR ?
Dalam PANCASILA ada KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA. Camkan itu, 
jangan cengengesan! Baca buku-buku BUNG KARNO dan BUNG HATTA, sebelum berani 
mengurus rakyat atau koperasi. Dengan jiwa itu pula dulu didirikan lebih 150 
BUMN yang ditugasi MENSEJAHTERAKAN RAKYAT. Sekarang ? Direktur-direktur utama 
BUMN (banyak yang insinyur) pada pekok! Tak tahu tugas atau tak mampu 
mengejawantahkan tugas dari pendiri republik! Bersama jutaan KOPERASI (tepatnya 
KOOPETISI), mereka BUMN itu baru berhak menjadi SOKO GURU EKONOMI INDONESIA. 
Bisnis harus dengan MORAL.
Bukan berarti SWASTA tak ada peran atau digusur! Para pengusaha besar pun dapat 
berguna : para enterpreneur kreatif inovatif kompetitif, punya hak hidup. 
Caranya ? SINERGI dan WIN-WIN. Perusahaan RAKSASA di Indonesia ada juga, tetapi 
apakah pemiliknya mengerti TUGAS ZAMANnya ? BerSINERGI dalam business linkage 
konstruktif-produktif, juga dengan MEKANISME PENJAMINAN oleh pengusaha 
berpengalaman agar layak memperoleh fasilitas permodalan, serta aman. Begitulah 
SEGENAP komponen masyarakat harmonis tertata dalam bingkai KORPORASI INDONESIA 
BARU.
Akan terjelanglah INDONESIA RAYA, bukan Ngendonsia yang banyak hak-haknya saja 
diaku oleh tetangga! STRATEGI SAMUDERA BIRU niscaya dikembangkan dalam the New 
Indonesia Incorporated, yakni BUMR Badan Usaha Milik Rakyat. Jadi bukan BUMN 
sapi perahan elite atau KOPERASI  manasuka atau SWASTA obyek oknum birokrat 
bejat. Jelas pula, bukan EKONOMI ala NEOLIBS yang supra-rakus melampaui 
DASAMUKA!
...

(BERSAMBUNG)

--- End forwarded message ---


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke