----- Forwarded Message ----
Subject: KOPERASI-KOOPETITIF INDONESIA (4)
--- In ITB_:
--- In ITB_-Inkubator:
KERANGKA HOLISTIK KOPERASI IDAMAN 2
Masih dari buku alumnus ITB LiemSiokLan (Menembus Batas), Aneka Ilmu, 2009.
BUMR, Badan Usaha Milik Rakyat, wujud baru gabungan unsur (senyawaan) BUMN,
Koperasi, serta manajemen-tekno-biz dan keuangan mutakhir, itulah landasan
Indonesia Inc. Jadi mustahil tambal sulam. Rakyat harus dilibatkan dalam
swakelola infrastruktur publik, sebagai pengguna dan pemilik, menikmati hasil
usaha. Ada simbiosa mutualistis dengan wiraswasta dalam linkage win-win dalam
kesetaraan ekonomi dan politik. Merdeka dalam kesetaraan. Di negara asal
liberalisme, perlindungan kepada si kecil sudah terjabar dan terlaksana,
mengapa di Indonesia justru lebih ganas praktek ekonominya menjerat rakyat ?
Karena pemimpin kurang fasih mengubah masalah menjadi peluang dan tantangan.
Kini kita punya SEMBILAN PERSOALAN mendasar yang menjadi biang terpuruk tanpa
mampu mengubahnya : (1) demokrasi tak sistemik, maka menjadi semrawut mabrut,
Inefisiensi besar-besaran, tumpang tindih lembaga, siklus korupsi dan digoyang,
tiada lagi efektivitas administrasi de-fakto. (2) tarik-menarik pusat-daerah
dalam otonomi setengah mentah, daerah tak tahu dan tak mampu berbuat apa,
sampai-sampai bikin klinik pun gelagapan cari investor, sementara keunggulan
sumberdaya lokalnya tak digarap. (3)BUMN menjadi sapi perahan elite, dikelola
secara salah-urus, melupakan rakyat majikannya, BUMN membebani rakyat. Jasa
bagi masyarakat yang diadakan BUMN, dari kebutuhan pokok sampai harga pulsa
telepon, menggila. (4) partai politik mengisap sumberdaya rakyat, mirip
tingkahlaku vampire. Fund raising demi Pemilu merampoki bidang impor, BBM,
telkom sampai pasar modal dan banyak lagi, belum perampokan atas swasta yang
kian mencekik. (5) nasib rakyat terlantar tak
ditangani di segala bidang, Negara sawit terbesar kerap keplintir dalam hal
harga minyak goreng yang dibeli rakyat. Kita sumber batubara, tapi harga
listrik yang dibayar rakyat lebih mahal daripada di negara yang membelinya dari
kita. (6) menguapnya berbagai peluang global, melimpahnya dana akibat ekonomi
spekulatif pun tak sanggup digunakan. Dana bantuan manca yang sudah dipledge
buat membantu rakyat yang tertimpa bencana pun tak termanfaatkan optimal.
Korupsi makin gila-gilaan merata, country risk bagi investasi sangat tinggi.
(7)ketertinggalan berat ipteknya, peneliti bermental birokrat, antisipasi dan
penerapan teknologi informasi mendasar saja acak-adut. (8) kerusakan moral
hampir sempurna, pemimpin dan elite makin elegan (santun halus), efisien serta
sistematis dalam MENGHANCURKAN Indonesia. Perpolitikan makin berciri politik
mob. Ekonomi remuk redam, sektor riil punah, kluster-kluster industri omong
kosong, timpang beratnya penguasaan sumberdaya
dan tebaran pendapatan di masyarakat, pertanian dan kelautan diacak-acak.
Katanya ekonomi syariah, padahal isinya bagi-bagi kapling diantara elite. Dalam
sedasawarsa terakhir, moral pejabat makin habis! (9) ancaman disintegrasi,
tantangan visi baru nasionalisme. Indonesia kini di ujung tanduk. Warisan
semangat juang para founding fathers dicampakkan, PANCASILA fondasi berbangsa
bernegara ditelikung dari keseharian. Konflik mempersoalkan cara
dibesar-besarkan, dipakai untuk mengalihkan perhatian dari tujuan sebenar, agar
elite dapat makin banyak merampas dan merampok, mumpung berkuasa.
Josep Stiglitz nobelis telah mengritik paradigma serta tata kelola ekonomi dan
globalisasi telah menghasilkan kemiskinan merata dan absolut, gejolak sosial
dimana-mana, erosi nilai budaya lokal. Padahal mestinya globalisasi bisa
dimanfaatkan oleh si miskin juga. Buktinya di China (industri kimia dan mesin)
dan juga India (informatika) itu. Nelayan bisa meningkat penghasilannya dengan
future trading. Tengkulak dan makelar makin dibatasi karena informasi update
terakses oleh rakyat. Bahkan nilai-nilai lokal yang semula tersembunyi dan
dikangkangi elite penjajah bangsa sendiri, kini dapat langsung dipantau dan
akses dari ujung dunia lain. Jadi di berbagai bidang, globalisasi dapat
dimanfaatkan pula. Chossudovsky dan banyak lagi sudah membikin benderang betapa
biang globalisasi kemiskinan adalah IMF dan Bank Dunia. Dan kini tengah
berlangsung revolusi cara berpikir di dunia. Maka betapa saru dan tak pantas
kalau kita lantas hanya mencari kambing hitam pada
badan-badan itu dan menggerutui masa lalu, sementara tak berbuat apapun selagi
roda zaman makin cepat menggelinding. Indonesia makin dibikin menjadi
Ngendonsia (jongkok), oleh kita sendiri. Oleh elite bangsa ini tampak makin
digiring menjadi PARANOID dan MUNAFIK. Kalau kini kita terpuruk di sudut, itu
adalah kesalahan kita sendiri. Jangan menyalahkan globalisasi pula.
Mau disimak pakai kacamata Anthony Giddens (the Third way), atau Victoria
Tauli-Corpuz atau lainnya siapapun, kita jangan salah duduk. Justru globalisasi
dapat ditunggangi, digunakan, demi kemajuan bangsa ini. Ambruknya aneka pranata
jangan dibingungi, adalah karena polah kita sendiri di masa orba lalu maupun di
era reformasi acak-kiblat sekarang. Para pemimpin sendiri kini tak peduli bahwa
dunia sudah berubah. Elite masih demen jongkok, sambil senang melihat kekayaan
sumberdaya dikeruk bukan untuk rakyat, bahkan terus mendorong warganya untuk
menikmati rejeki remah yang sifatnya TIGA-D yakni dangerous-dirty-difficult,
jauh dari SMART. Ekspor tenaga kerja kacangan sampai ekspor bahan baku adalah
bukti mloho betapa pemerintah jauh dari sukses. Hancurnya sistem ekonomi
konglomerat sampai perampokan BLBI, tidak diambil hikmahnya. Sistem ekonomi
INDONESIA masih juga dicokoli paradigma mummi. Cara-cara monopoli pun masih
diterus-teruskan, lupa bahwa sistem
monopolistis sebagaimana dalam komunis sudah berkeping-keping. Sumberdaya
keuangan diboroskan namun tak dilihat peluang-peluang barunya. Katanya
menggalakkan UMKM, eh bank-bank makin culas justru menganggap kredit kendaraan
dan kartu kredit dalam kategori UMKM; sungguh absurd yang disengaja pula.
Masyarakat makin dijebloskan. Rusak-rusakan.
Jangan heran kalau barang impor makin dirajakan di INDONESIA masa kini. Factory
Outlets di Bandung saja menjajakan barang-barang bikinan RRC atau Thailand,
bukan lagi karya bangsa. Industri logam dan mesin-mesin kecil kita
bergelimpangan. Nyaris segenap cabang industri dan sektor riil kita lumat! PHK
dan pengangguran berkepanjangan, jalan terus. Inilah salah urus. Rakyat dengan
ekonomi gurem dan kecilnya, yang menyelamatkan bangsa sehingga kita tetap
bertahan diterjang aneka krisis, masih juga diabaikan sekarang. Boro-boro bikin
dan laksanakan sistem welfare berkeadilan. Yang ada justru pemerintah bikin
repot : pengusaha diperas, perizinan masih juga bermasalah, infrastruktur dan
energi tidak puguh. Dan coba lihat, perangai para TIBUM, Satpol PP dll, sama
sekali tampak tak terintegrasi dalam program pemajuan kesejahteraan rakyat.
Maka jangan mudah menyalahkan kita didikte inilah itulah dari luar. Dikte
mendikte itu lumrah, kita pun boleh kalau mampu.
Masalahnya globalisasi (yang sejatinya sudah lama ada) apakah cerdas dijadikan
peluang dan tantangan kreatif-inovatif belum ? China dan India bisa, mengapa
pemerintah kita gembos ? Begitupun soal hutang yang konon warisan orba, padahal
hutang yang dibuat sekarangpun sudah mengerikan besar pemborosannya.
VICTOR ATAU VICTIM ?
Di tengah globalisasi, bangsa ini tak patut mengalami disorientasi, bingung dan
ragu terus-terusan berlanjut. PERUBAHAN yang niscaya, walau kini ada saja yang
menentang. Ini bukan mustahil, walau tidak gampang memperjuangkannya. Yang
jelas, kaum elite dan partai yang di masa lalu sangat egois dan hanya berpikir
kelompoknya, pasti akan makin sulit. Bila masyarakat makin jeli dan pandai
menata masa depan secara obyektif rasional, akan terkawal dan terjaminlah
KETERBUKAAN. Ini akan mencegah rayap-rayap untuk memperluas atau
mempertahankan sumber FUND RAISING atau praktek KORUPTIF tabiat mereka.
Transparansi dan openness adalah tanda kekuatan sejati.
Tak mungkin mengharap kalangan BINNEN semua berkomitmen ke kemajuan bangsa.
Tetapi harus makin muncul para pemimpin baru, yang KUAT, yang sungguh mengerti
dan mau melaksanakan tugas zaman. Pemimpin begitu pasti tidak boleh mudah
bingung dan ragu, namun juga bukan yang sekadar berani. Harus diambil hikmah
pula betapa dalam sejarah kita, banyak pemimpin termakan dan dinihilkan oleh
sistem yang dibuat sendiri, bila hal itu mandeg. Pemimpin harus punya KONSEP
dan LAKU (praxis) yang terus dinamis, membaru dan terbarukan, sungguh visioner
dan memecahkan masalah bangsa. Pemimpin harus mampu MENGELOLA (bukan berkonsep
belaka) kepentingan nasional dalam harmonisasi kepentingan global. Pemimpin
kedepan tak boleh yang dihinggapi paranoia dendam masa lalu dan yang tak mampu
membuat sejarah baru. Melanjutkan saja sungguh tidak cukup, kerdil, dan membius!
Persoalan bangsa yang menumpuk, adalah peluang dan tantangan. Bukan dengan
melanjutkan perangai koruptif sistemik, termasuk dalam ekonomi. Kunci baru
PEOPLE CYBERNOMICS, dalam rupa BUMR Badan Usaha Milik Rakyat, yang canggih
dilandasi teknologi/informatika kiwari dan manajemen efektif, niscaya dianut.
Bukan BUMN, koperasi atau swasta yang berparadigma lama sarat kepentingan
parsial/sektarian, namun KOOPETITIF dan jejaringnya, sesuai amanah para
founding fathers bangsa-negara INDONESIA.
Ekonomi Jaringan Kerakyatan atau sibernomik rakyat itu adalah ANTITESIS
paradigma ekonomi konglomerasi basis produksi masal (Taylorisme), sekaligus
SINTESIS tiga faktor aktual kita : realitas bangsa bhinneka dan mayoritas
pelaku usaha adalah UMKM, faktor pendorong global dan pasar, serta dorongan
IPTEK termasuk teknologi informasi. Hanya dengan itu INDONESIA bukan menjadi
korban (victim), namun justru calon pemenang (victor) dinamika proses global
kini dan nanti.
Sibernomik kerakyatan ini berjejaring pimpul-simpul inovasi, produksi, dan
kemandirian, baik ONLINE maupun lewat aneka forum usaha, yang arasnya sampai
mendunia. Sibernomik kerakyatan ini juga bercorak koperasi masyarakat konsumen
terbuka. Artinya siklus kinerja efisien lantaran pembeli/pengguna juga pemilik.
Sibernomik kerakyatan juga didukung teknologi informasi terkini dalam segala
geraknya. Internet, parabola, semua dipadukan, dan terakses oleh semua warga di
pelosok sekalipun. Dalam pengelolaan pertanian dan kekayaan alam lainnya,
sibernomik kerakyatan harus meninggalkan paradigma egois lama. Keterpaduan
bidang dan zona/regional harus nyata, dalam plot peningkatan infrastruktur
serasi, selain pengelolaan lingkungan yang lestari merupakan prioritas.
Business linkage dengan enterpreneur swasta harus win-win, sinergis, dalam
kemitraan strategis konkret. Realisasi kemandirian energi adalah prasyarat
pertama, agar jejaring efektif.
Strategi Samudera Biru niscaya dijalankan pemerintah, tiada pilihan lain.
Solusi masalah harus diarahkan ke peluang pasar sehingga kompetitor menjadi
tak relevan. Apalagi pemerintah relatif mudah melakukannya dalam aras
legitimasi kekuasaan. Bila hal ini tak disadari dan dilakukan, dia akan
tergerus zaman.
Landasan manajemen INDONESIA INC. berciri : aneka peluang usaha berbasis
AGLOMERASI (bukan konglomerasi) kerakyatan berdukungan iptek efisien-efektif
dalam bakutindak global. Juga bahwa perancangan pengembangan daerah harus
berbasis keunggulannya (potensi sumberdaya, local genius dll) agar masyarakat
makin terlibat dan menikmati peningkatan kesejahteraan nyata. Ketiga, pusat
harus secara bijak-adil menciptakan kompetisi sehat antar kooperasi
(KOOPETITIF) dengan simpul-simpul percontohan yang konkret dan terKOORDINASI
(informasi internet) bukan sekadar himbauan atau selebaran. Platformnya
SIBERNOMIK KERAKYATAN. BUMR terorganisasi secara cerdas.
Terkait pula disini, kesadaran dan kekuatan baru dalam kerangka pergeseran
pendekatan (analisis menjadi sintesis), masyarakat (mekanistik menjadi
organik), cara pandang (reduksionis menjadi holistik).
Menjadi korban atau pemenang, dalam kaitan globalisasi, adalah tergantung atas
kesadaran akan aset-aset yang dimiliki (ingat Hernando deSoto). Aset harus
diubah menjadi modal produktif penggerak ekonomi, bertujuan akhir kesejahteraan
rakyat. Belajarlah dari China : penduduk bermilyar berhasil dilihat dan
ditangkap sebagai modal sekaligus pasar. Zaman mesin berevolusi ke zaman
sistem, namun bukan taken for granted, sebaliknya : terus diperjuangkan tanpa
jeda! Masa depan itu peluang dan tantangan.
Semua keberhasilan adalah dengan laku (praxis), bukan hanya konsep (wacana,
aksara/ayat). Kegigihan hidup adalah pertanda kematangan iman. Pengabdian
kepada Allah SWT dan sesama manusia, menembus batas, adalah metrum
spiritualitas, dan religiusitas sejati.
Dengan penggalakan KOPERASI KOOPETITIF KORPORASI, ditopang jejaring sosial dan
IPTEK, menjadikan pemberdayaan INDONESIA INCORPORATED bukan lagi angan-angan
siang bolong. Jangan lanjutkan keadaan dogol-dagel-degil mummi betapapun santun
tampaknya, bila tidak mensejahterakan rakyat. Tinggalkan paradigma dan praxis
lama, sambut kehadiran yang baru.
Hanya dengan begitu INDONESIA menjadi pemenang, victor, bukan victim alias
korban sia-sia... BHINNEKA TUNGGAL IKA, disitu letak kekuatan dan sinergi
keberdayaan. * * *
Garis bawah : KOPERASI DENGAN IPTEK, tantangan menzaman.
-----------------------------------------------------------------------------------------
Sumber BEYOND BOUNDARIES, wawancara - Liem Siok Lan, Aneka Ilmu, Semarang 2009.
(bab 15)
Kontak : 024-6582901, 6580335. Liem Siok Lan adalah alumnus ITB (dan manca).
--- End forwarded message ---
[Non-text portions of this message have been removed]