Refleksi : Hamatku konfilik ini pada dasarnya disebabkan oleh berduyun-duyun didatangkan penduduk melalui program tarnsmigrasi disertai tak terkontontrol angka kelahiran penduduk. Makin banyak penduduk, makin giat mereka membabat hutan untuk berbagai keprluan antara lain pertanian. Selain itu pemerintah NKRI sejak zaman Soeharto mendorong ekspor kayu jadi hutan digundulkan. Hutan gundul, berarti hasil hutan seperti damar, rotan dsb yang biasa diambil penduduk pun berkuaran atau hilang, penduduk pedesaan berkekurangan pendapatan dengan lain kata bertambah miskin,
Akibat dari pembabatan hutan, luas hutan makin kecil untuk kehidupan gajah, sumber mendapat makanan dari terbatas menjadi sangat berkurang dan meuju kelenyapan bagi gajah, gajah mulai mendatangai perkampunan penduduk seperti mereka minta bayaran atas hak mereka, terjadilah konflik antara gajah dan manusia. Pada mulanya kelihatan dengan transmigrasi yang didatangkan dari daerah-daerah padat penduduk seperti pulau Jawa dan pembabatan hutan drive membawa perbaikan hidup dan keuntungan, tetapi ini cuma jangka pendek, namun lama kelamaan efek buruknya bukan saja bagi gajah tetapi bagi manusia yaitu penduduk lokal maupun para transmigran nasibnya tidak berbeda jauh. Dirgahayu NKRI? http://www.antaranews.com/berita/1260016499/konflik-gajah-dengan-manusia-harus-diakhiri Konflik Gajah dengan Manusia Harus Diakhiri Sabtu, 5 Desember 2009 19:34 WIB | Warta Bumi | Masalah Lingkungan | Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) harus diakhiri dengan melakukan perubahan pola hidup masyarakat yang menetap di sekitar kawasan habitat hewan tersebut. "Masyarakat dekat hutan harus mengubah pola hidup, artinya melakukan perubahan pola hidup agar tidak diganggu binatang berbadan besar tersebut," kata Manager Fauna dan Flora Internasional (FFI) Aceh, Wahdi Azmi di Saree, Aceh Besar, Sabtu. Pernyataan itu disampaikan disela lokakarya bertajuk "Hidup Berdampingan dengan gajah" yang diikuti instansi pemerintah dan masyarakat yang tinggal di kawasan hutan Aceh. Dia mengatakan, upaya mengubah pola tanam yang sering dirusak gajah, diyakini bisa mengurangi tingkat intensitas gangguan binatang tersebut terhadap tanaman para petani. "Masyarakat bisa menanam tanaman yang tidak disukai gajah. Untuk itu butuh dukungan pemerintah setempat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya. Selain melakukan perubahan pola tanam, masyarakat juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan bila berhadapan dengan kawanan gajah liar, sehingga dapat dihindari jatuhnya korban jiwa. "Informasi penanganan gajah tidak didapat masyarakat, sehingga kita kerap menuding gajah menjadi binatang yang tidak bisa hidup berdampingan dengan manusia," katanya. Karena itu, semua pihak terutama Pemerinta Aceh diharapkan bisa memberi pemahaman yang lebih maksimal untuk mengurangi dan mencegah konfrontasi gajah dengan manusia. Peserta yang mengikuti lokakarya itu diharapkan dapat memberi informasi kepada masyarakat di daerahnya, sehingga upaya untuk hidup berdampingan dengan gajah dapat terwujud di provinsi yang luluh lantak gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004.(*) COPYRIGHT © 2009 [Non-text portions of this message have been removed]

