http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/12/06/14535635/400.guru.sri.lanka.berguru.dari.sekolah.indonesia

400 Guru Sri Lanka Berguru dari Sekolah Indonesia

Minggu, 6 Desember 2009 | 14:53 WIB

KOLOMBO, KOMPAS.com-Guru-guru Sri Lanka mengikuti workshop pendidikan yang 
diselenggarakan atas kerjasama KBRI Kolombo dengan Sekolah Indonesia Fajar 
Hidayah dan dukungan penuh pemerintah Sri Lanka.

Workshop bertema “Creative Teaching Methodologies: Using Recycled Materials to 
Support Teaching and Learning” diikuti dengan antusias oleh guru-guru Sri 
Lanka.  Terlihat dalam jumlah keikutsertaan yang signifikan dan keseriusan para 
guru mengikuti kegiatan hingga selesai. Kegiatan workshop sehari tersebut 
berlangsung di dua tempat yang berbeda.

Pada tanggal 3 Desember 2009, workshop berlangsung di Galle, ibukota Provinsi 
Selatan yang merupakan daerah paling parah terkena bencana tsunami 2004.  
Workshop di Galle diikuti oleh sekitar 240 guru dari berbagai wilayah di 
Provinsi Selatan. Beberapa guru menghabiskan waktu 4 jam untuk menempuh jarak 
dari tempat kediaman mereka ke tempat pelaksanaan workshop di Sekolah Usvatun 
Hasanah Maha Vidyalaya, sebuah sekolah muslim yang dikelola pemerintah. 
Pelaksanaan workshop walaupun berlangsung dalam bahasa Inggris, pada beberapa 
aktifitas dibantu penterjemah ke dalam bahasa Sinhala maupun Tamil. Workshop 
ini diikuti oleh guru-guru dari berbagai latar belakang agama dan sekolah.

Sedangkan pada 4 Desember 2009, workshop berlangsung di KBRI Kolombo. Mengingat 
keterbatasan tempat maka para guru yang hadir tidak sebanyak di Galle, yaitu 
160 orang. Namun hal itu tidak mengurangi semangat para guru, apalagi banyak 
guru yang ingin mengenal Indonesia melalui KBRI Kolombo. Bahkan ada 11 orang 
guru dari kota Ampara, wilayah Provinsi Timur yang harus menghabiskan waktu 12 
jam dalam perjalanan darat untuk dapat mencapai Kolombo guna mengikuti workshop 
ini. Seorang guru bernama Shibly Samsudeen menyampaikan bahwa mereka ingin 
belajar dan menemukan hal yang baru serta ingin melihat  bagaimana sebuah 
sekolah Islam di Indonesia mampu memberikan workshop yang dapat diterima dengan 
baik oleh semua pihak. Sehingga total dengan jumlah guru yang mengikuti 
workshop di Galle adalah 400 orang.

Melalui workshop ini diajarkan bagaimana caranya menjadi seorang guru yang 
kreatif di mana konsep belajar mengajar tidak hanya mendengarkan guru dan 
mengerjakan tugas sekolah di kelas tetapi juga menciptakan suasana yang membuat 
para murid menjadi aktif dan kreatif dalam belajar. Workshop ini memiliki 
tujuan untuk mengubah paradigma ”traditional classrooms” menjadi ”thinking and 
feeling classrooms”. Selain itu, workshop ini juga mengajarkan pengembangan 
otak kanan dan otak kiri di mana diajarkan cara mengajar matematika secara 
kreatif dan kemampuan seni dengan memanfaatkan barang-barang daur ulang. Konsep 
ini tidak hanya memberikan suasana yang menyenangkan untuk belajar bagi 
anak-anak tetapi juga berorientasi ramah lingkungan.

Duta Besar Djafar Husein dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan workshop 
adalah langkah awal proses saling mengenal dunia pendidikan dua negara dan 
mencari peluang untuk kerjasama dengan melibatkan berbagai pihak termasuk 
lembaga internasional dan regional. Diharapkan berbagai pihak baik pemerintah 
maupun non-pemerintah dapat bersinergi dan mencari peran yang tepat untuk 
mengembangkan sebuah kerjasama pendidikan yang pada akhirnya akan memberikan 
pencerahan kepada para guru dalam membentuk generasi yang bertanggungjawab 
terhadap lingkungan serta kreatif dalam menyelesaikan masalah. Workshop ini 
juga merupakan kontribusi Indonesia bagi Sri Lanka sekaligus merupakan upaya 
untuk meningkatkan people-to-people contact antara dua negara.
Sent from Indosat BlackBerry powered by  

ONO

Editor: ono

Sumber : KBRI Kolombo


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke