Kalau soal informasi mengenai kiamat, saya hanya percaya yang ada di Al-Qur'an. 
Kitab-kitab lain saya tidak percaya.


http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/29/19595540/secara.sains.isu.kiamat.2012.hanya.isapan.jempol...

Secara Sains, Isu Kiamat 2012 Hanya Isapan Jempol...

Minggu, 29 November 2009 | 19:59 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Yulvianus Harjono

KOMPAS.com - Film 2012 yang ditayangkan di bioskop menyita perhatian publik di 
tanah air. Meskipun larangan menonton muncul dari Majelis Ulama Indonesia di 
berbagai daerah, antrean panjang calon penonton justru kian panjang.

Publik semakin penasaran, sementara di lain pihak MUI khawatir film ini bisa 
mengguncang keyakinan iman penonton. Titik kontroversi dari film Hollywood ini 
tidak lain adalah adegan kiamat yang menjadi pesan cerita film ini.

Padahal, jika dikaitkan dengan kajian sains, film ini tidak lain berangkat dari 
isapan jempol belaka. Ide kiamat di film ini berangkat dari ramalan Suku Maya 
bahwa pada 21 Desember 2012 akan terjadi kiamat di bumi.

Avivah Yamani dari Langit Selatan menepis ramalan ini. Ia mengatakan, prediksi 
kiamat bangsa Maya pada 21-12-2012 tidak lain karena di tanggal itu adalah 
akhir dari siklus kalender. Atau, dengan kata lain kehabisan angka. Sebab, 
penanggalan Maya berlandaskan sistem bi-desimal (bilangan 20).

Kejanggalan lain adalah mengenai bergesernya kerak dan lempeng bumi secara 
ekstrim akibat pengaruh badai Matahari seperti yang digambarkan di film itu. Di 
2012 digambarkan bahwa lidah Matahari dapat menghasilkan neutrinos, yaitu 
semacam gelombang microwave yang dapat memanaskan suhu inti bumi.

Padahal, seperti yang diungkapkan Dhani Herdiwijaya, ahli Fisika Matahari dari 
Institut Teknologi Bandung, lidah Matahari adalah fenomena umum yang terjadi 
sepanjang siklus keaktifan Matahari selama 11 tahun. Aktifnya Matahari ini 
ditandai dengan kemunculan bintik hitam di permukaan.

Saat bintik hitam muncul, di perut Matahari terjadi rotasi aliran massa yang 
dapat mempengaruhi gaya medan magnetnya. Pada puncak aktivitasnya, medan magnet 
ini berpusar hingga menembus ke lapisan fotosfer.

Temperaturnya 4.000 4.500 derajat Kelvin, sangat kontras dengan suhu di 
sekelilingnya sebesar 5.800 derajat Kelvin. Aktivitas medan magnetik yang kuat 
di bintik matahari ini dapat memanaskan lapisan kromosfer Matahari dan 
menimbulkan flare (ledakan cahaya) dan Corona Mass Injection (CME).

Aktivitas Flare dan CME yang tinggi bisa menimbulkan badai antariksa. 
Partikel-partikel terlontar yang sampai ke bumi berdampak signifikan pada iklim 
di Bumi dan dapat juga menimbulkan badai magnetik yang bisa menganggu 
komunikasi radio.

Pendinginan global

Yang jadi persoalan, ucapnya, saat ini tengah terjadi kecenderungan penurunan 
aktivitas Matahari. Tingkat radiasi medan magnetik Matahari terus turun. Kini 
berada di titik minimal. Dalam beberapa tahun terakhir, bintik matahari juga 
sangat jarang terbentuk.

Untuk itu, ia merasa tidak yakin jika di 2012 bakal terjadi badai Matahari 
ekstrim seperti yang dispekulasikan masyarakat. Yang orang-orang tahu saat ini, 
Bumi tengah terjadi pemanasan global. "Padahal, sebetulnya, kita juga tengah 
menghadapi kemungkinan kondisi global cooling," ujar Dhani kemudian.

Jadi, jika pun terjadi kiamat, itu bisa jadi karena kita tidak dapat 
menggunakan peralatan telepon, televisi, dan jaringan komunikasi, secara 
sementara akibat pengaruh serangan gelombang elektromagnetik dari badai 
Matahari. Itu pun jika terjadi...


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke