Refleksi : Kalau presiden negara paranoid, tak banyak bisa diharapkan pekerjaannya bermanfaat bagi perbaikan kehidupan rakyat menjadi baik, selain suka hantam kromo.
100 hari dipakai mengurus Bank Pencuri, tetapi nanti laporannya pasti penuh sukses. http://www.ambonekspres.com/index.php?act=news&newsid=27608 Sabtu, 05 Dec 2009, | 21 Kompak Kerahkan 100 Ribu, Nilai SBY Paranoid SBY Warning akan Gerakan Sosial 9 Desember Jakarta, AE.- Presiden SBY mengaku dirinya mendapat informasi penting berkaitan dengan peringatan Hari Antikorupsi Internasional tanggal 9 Desember nanti. Kata SBY, informasi itu menyebutkan bahwa akan ada demonstrasi dan gerakan sosial di hari itu. "Itu (peringatan Hari Antikorupsi Internasional) bagus, sebagaimana saya sendiri seperti saudara saksikan dalam lima tahun terakhir memberantas korupsi," ujarnya saat membuka rapat paripurna Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II di Istana Negara, beberapa saat lalu (Jumat, 4/12). Tetapi, sambung SBY, dia juga mendapat informasi yang menyebutkan ada juga demonstrasi yang dilakukan dengan motif lain. SBY tidak menjelaskan lebih lanjut motif lain yang dimaksudkannya. Sementara itu, tudingan Presiden SBY akan ada gerakan sosial pada 9 Desember di Jakarta dinilai sebagai tindakan paranoid. Tudingan itu dinilai sebagai intimidasi terhadap rencana aksi Hari Antikorupsi Internasional yang akan dilakukan pada 9 Desember. "SBY kok paranoid sekali. Ini ancaman halus kepada publik untuk tidak ikut aksi pada 9 Desember nanti," kata koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak) Fadjroel Rachman dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (4/12/2009). Fadjroel mengakui, pada 9 Desember mendatang Kompak akan mengkoordinasikan aksi besar memperingati Hari Antikorupsi yang digelar di Bundaran HI dan Monas. Dia menyebut aksi itu ditargetkan diikuti oleh 100 ribu massa. Aksi ini juga digelar serempak di 33 provinsi. Dijelaskan Fadjroel, tujuan aksi adalah mengampanyekan gerakan Indonesia bersih korupsi. "Tokoh agama, nasional, dan antikorupsi akan hadir. Siapa pun yang antikorupsi harus hadir. Termasuk SBY kalau mau hadir silakan," jelasnya. Dalam rapat paripurna di Istana Negara siang tadi, SBY mengutarakan akan ada gerakan sosial di Jakarta pada peringatan Hari Antikorupsi Sedunia pada 9 Desember. "Saya juga mendapatkan informasi bahwa 9 Desember akan ada gerakan-gerakan sosial," kata SBY. Pernyataan SBY mengenai juga disayangkan akademisi. Semestinya sebagai kepala pemerintahan, SBY mengambil sikap yang menenangkan rakyat. "Kalau Presiden ngomong gitu, itu membuat rakyat takut. Seharusnya Presiden kalau data tidak ada fakta jangan menakut-nakuti rakyat," ujar pengamat kebijakan publik Prof Dr Sofyan Effendi melalui telepon, Jumat (4/12). Sofyan yang juga mantan Rektor UGM ini menjelaskan, dia sejak 2 minggu lalu juga sudah mendapatkan SMS dan mendengar rumor akan terjadi sesuatu pada 9 Desember. Tapi menurutnya hanya sebatas itu saja. "Sudah banyak SMS beredar seperti itu. Katanya ada pembunuhan politik dan sebagainya. Selayaknya SBY tidak membicarakan itu karena dengan berbicara itu berarti membenarkan isi SMS itu," jelasnya. Presiden seharusnya mengambil sikap bijak dengan menenangkan rakyat. "Ya kalau pun isu itu ditengarai benar, jangan Presiden yang berbicara. Tapi ini kan baru rumor, ngapain Presiden yang ngomong," kritiknya. Apa kira-kira motif pengungkapan warning itu? "Ya mungkin saja itu bagian dari strategi meraih simpati publik," jawab Sofyan. Sofyan yakin rumor gerakan 9 Desember hanya isapan jempol saja. "Saya pernah tanya kepada orang yang tahu proses seperti itu dan informasinya tidak akan sampai pada kerusuhan besar-besaran. Bangsa ini sudah cukup menderita. Lebih baik selesaikan saja perkara yang sudah jelas seperti kasus Anggodo Widjojo dan Century," tutupnya. (jpnn/dtc) [Non-text portions of this message have been removed]

