http://www.infobanknews.com/index.php?mib=mib_news.detail&id=877

Depkeu: Indonesia Hemat Utang Rp14,1 Triliun

Tanggal: 03 Desember 2009
Sumber: infobanknews.com

*Untuk pengelolaan utang pada 2010, pemerintah akan tetap melakukan lelang SUN 
dan SBSN (sukuk) secara reguler, sedangkan untuk sukuk ditempuh melalui book 
building dan private placement (penempatan langsung).

 

Jakarta--Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan (Depkeu) 
Rahmat Waluyanto, memperkirakan pada 2009 Indonesia akan berhasil menghemat 
bunga utang hingga Rp14,1 triliun.

 

"Itu penghematan bunga dari selisih antara pembayaran bunga utang dengan 
realisasinya," ujarnya, pada 3 Desember 2009, di Jakarta.

 

Penghematan diperoleh karena dipengaruhi sejumlah faktor, seperti mekanisme 
pengelolaan utang "front-loading strategy" atau mengakumulasi sebanyak mungkin 
hasil penerbitan pada semester pertama tahun ini yang mencapai Rp7,85 triliun.

 

"Tahun ini 69% target penerbitan bruto SBN (Surat Berharga Negara) dicapai pada 
semester I, dari total target 2009 sebesar Rp144,5 triliun," kata Rahmat.

 

Faktor berikutnya adalah pasar yang memang mendukungpenurunan suku bunga pasar 
dan penguatan nilai tukar Rupiah yang berimplikasi positif terhadap yield 
(imbal hasil) SBN karena menambah nilai nominal Rupiah pada utang berdenominasi 
valas.

 

"Tapi front-loading strategy juga memengaruhi turunnya yield karena pelaku 
pasar domestik menjadi lebih percaya bahwa pemerintah tidak menambah suplai," 
lanjutnya.

 

Rp4 triliun sumber penghematan antara lain berasal dari rendahnya biaya utang 
akibat perubahan strategi pengurangan risiko pembiayaan kembali (refinancing 
risk).

 

"Semula melalui regular debt-switch menjadi penerbitan SBN jangka panjang 
multiple-tranches (berbagai jenis)," ujarnya.

 

Rahmat mengungkapkan juga ada penghematan sebesar Rp1,9 triliun dari penambahan 
SBN acuan (benchmark series) dengan yield dan bunga yang lebih rendah dan Rp1 
triliun berasal dari pengurangan target obligasi negara.

 

Jumlah tersebut ditambah Rp250 miliar dari restrukturisasi sebagian pinjaman 
Bank Dunia menjadi fixed spread loans dan Rp700 miliar dari perubahan komposisi 
SBN valas.

 

Untuk itu, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2009 akan 
turun mencapai 30%-31% dibandingkan 2008 yang mencapai 33%.

 

"Namun, hal itu terjadi juga disebabkan oleh kenaikan PDB (produk domestik 
bruto) yang sangat tinggi akselerasinya, sehingga rasio utangnya terhadap PDB 
turun sekitar 30%-31%," ujarnya.

 

Menurut Rahmat, untuk pengelolaan utang pada 2010, pemerintah akan tetap 
melakukan lelang SUN dan SBSN (sukuk) secara reguler, sedangkan untuk sukuk 
ditempuh melalui book building dan private placement (penempatan langsung).

 

Pemerintah juga akan mengombinasikan Surat Perbendaharaan Negara dengan 
obligasi negara dan akan lebih mengembangkan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) 
selain sukuk ritel.

 

"Untuk valas malah kita sudah menerbitkan sukuk global tapi waktunya saya belum 
pasti, termasuk Samurai Bond yang akan tetap kita lanjutkan. Kita akan lebih 
melakukan diversifikasi instrumen dan pasar kita, sehingga metode penjualan 
tidak hanya lelang namun juga private placement," katanya. (*)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke