Bila negara-negara di kawasan sudah membeli dari negara A, sebaiknya RI tidak 
lagi membeli dari negara A, karena dikhawatirkan sudah terbaca muatan 
teknologinya. RI harus membeli alutsista dari negara B, C, D, namun dengan 
teknologi yang mumpuni.Tentu saja, yang paling ideal, alutsista supermodern 
bisa dibangun di dalam negeri, yang pasti akan jauh lebih tersembunyi 
teknologinya. Tetapi jika hal tsb belum sanggup, membeli alutsistanya, berasal 
dari negara yang berbeda,dari negara asal alutsista negara-negara di kawasan.


http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=9007

DEPHAN TAK AKAN GEGABAH BELI KAPAL SELAM

Surabaya - Departemen Pertahanan (Dephan) tidak akan gegabah membeli kapal 
selam untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem pertahanan TNI Angkatan Laut.

"Pengadaan kapal selam, kami siap. Tapi kami pelajari dulu," kata Menteri 
Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, di Surabaya, Sabtu.

Pihaknya menyatakan tidak akan terburu-buru dalam membeli alutsista yang 
menggunakan uang rakyat dalam jumlah besar itu.

"Kami tidak ingin membeli sesuatu tanpa perhitungan yang cermat. Sudah ada 
beberapa negara yang menawarkan kapal selam," katanya saat ditemui usai 
meresmikan penggunaan Kapal perang Republik Indonesia (KRI) Banjarmasin-592 di 
Dermaga Ujung itu.

Sementara itu, Dephan dan industri kapal PT PAL Indonesia sedang merancang 
pembangunan kapal yang bentuk fisiknya lebih besar dibandingkan KRI 
Banjarmasin-592 yang juga diproduksi PT PAL.

"Kapal itu lebih besar dari kapal korvet jenis Sigma. Sedang kami rencang 
bersama PT PAL," kata dia.

Direktur Utama PT PAL, Harsusanto, mengatakan, kapal pesanan TNI AL tersebut 
diperkirakan sudah selesai pada Juni atau Juli 2010.

"Bentuknya lebih sempurna lagi dibandingkan KRI Banjarmasin, terutama pada 
mekanisme kerja kapal, pengendapan air, dan alat kontrol di anjungan," katanya.

Selama ini dia mengaku mendapatkan kendala dari produk penunjang lokal.

"Industri penunjang perkapalan di Indonesia belum tumbuh. Komponen lokal kapal 
yang kami produksi masih berkisar 40 persen," katanya.

Harsusanto berharap, pemerintah mendorong industri penunjang perkapalan 
sehingga nantinya kandungan lokal kapal akan semakin banyak.

Dalam kesempatan itu dia mengemukakan, harga KRI Banjarmasin sekitar 30 juta 
dolar AS.

"Namun kami hanya perlu investasi sekitar 15,8 juta dolar AS karena mesin kami 
dapatkan secara utuh dari Korea Selatan. Kalau dihitung semuanya kapal ini 
harganya 30 juta dolar AS," katanya.

Dibandingkan dengan KRI lainnya, KRI Banjarmasin-592 memiliki kelebihan, di 
antaranya kemampuan mengangkut lima unit helikopter, kecepatan 15,4 knot, 
bentuk bangunan atas "stealth design" yang dapat mengurangi "radar cross 
section".

Sehingga tidak mudah ditangkap radar kapal musuh, getaran kapal sangat rendah 
sehingga menambah kenyamanan kru kapal dalam pelayaran, dan dapat mengangkut 
562 personel.


Sumber : Antara



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke