http://www.detikfinance.com/read/2009/12/09/111202/1256791/4/boediono-ri-punya-4-aset-potensial

Rabu, 09/12/2009 11:12 WIB

Boediono: RI Punya 4 Aset Potensial

Angga Aliya ZRF - detikFinance

Jakarta - Indonesia memilik 4 aset potensial yang bisa mendorong pertumbuhan 
ekonomi. Namun, jika tidak dijaga bersama, aset tersebut justru menjadi faktor 
penghambat pertumbuhan ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Wapres Boediono di sela Forum Dialog Meneropong 
Ekonomi Indonesia ke Depan di Bank Indonesia, Jalan Budi Kemuliaan, Jakarta, 
Rabu (9/12/2009).
 
"Ada 4 faktor atau aset potensial yang harus kita jaga supaya tidak melemah dan 
hilang sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi. Perlu ada langkah konkret supaya 
tidak menjadi beban," katanya.
 
Empat aset tersebut adalah faktor demografi Indonesia, ketahanan fiskal, mandat 
politik yang kuat dan demokrasi dalam negeri.
 
Ia mengatakan, Indonesia mendapat banyak keuntungan dari demografi, jumlah 
penduduk usia muda jauh lebih banyak daripada yang tua. Perlu ada langkah 
konkrit untuk mengembangkan potensi kaum muda supaya bisa berkembang dalam 
membantu pertumbuhan ekonomi.
 
"Tidak hanya jumlahnya saja, tapi kualitas juga perlu dipikirkan," katanya.
 
Boediono menambahkan, faktor kedua adalah ketahanan fiskal. Menurutnya, pada 
saat krisis kemarin, Indonesia masih bisa bertahan dari serangan krisis ekonomi 
karena kondisi fiskalnya yang kuat.
 
"Ke depan harus kita jaga terus supaya jika ada krisis lagi, kita sudah lebih 
kuat dari sekarang. Kita masih punya banyak ruang untuk mendorong pertumbuhan 
ekonomi, sementara negara lain terperangkap krisis karena kondisi fiskal yang 
lemah," imbuhnya.
 
Sementara mengenai stabilitas politik, ia mengatakan, Indonesia sudah melewati 
pemilu dengan proses yang baik. Sekarang, tinggal tugas kita bersama untuk 
menjaga stabilitas politik tersebut.
 
"Ini bukan tugas eksekutif saja, tapi tugas kita semua. Kita gunakan memontum 
ini bersama supaya bisa diarahkan dengan benar," tambah mantan Gubernur BI ini.
 
Terakhir, ia menilai demokrasi Indonesia sudah sangat baik jika dibandingkan 10 
tahun yang lalu. Berbeda dengan masa sebelum reformasi, di mana banyak 
kebebasan yang dibatasi.
 
"Sekarang sudah berjalan dengan baik dan harus kita usahakan tetap ada jalur 
yang baik. Karena konsekuensi yang kita lakukan adalah untuk diri kita 
sendiri," jelasnya.

Kebijakan Jangka Panjang

Dalam kesempatan tersebut, Boediono juga meminta para pengambil kebijakan di 
Kabinet Indonesia bersatu jilid II tidak hanya memikirkan kebijakan jangka 
pendek 5 tahun, tetapi bisa jangka panjang hingga 100 tahun ke depan.
 
"Jangan terlena dengan kebijakan short term. Tapi harus long term. Perspektif 
para pengambil kebijakan jangan hanya 5 tahun tapi untuk 25, 50 bahkan 100 
tahun ke depan," katanya.

Ia menambahkan, hal itu menjadi kunci utama pengembangan bangsa, terutama untuk 
pengembangan ekonomi Indonesia.
 
"itu menjadi kunci dari hal-hal yang bisa memajukan tidak hanya ekonomi, tetapi 
juga kemajuan sosial dan bangsa Indonesia," tambahnya.
 
Menurutnya, kebijakan dalam mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek bisa 
dikejar hanya dalam satu atau dua tahun saja. Tetapi, yang paling sulit adalah 
memikirkan bagaimana kebijakan tersebut bisa berguna untuk jangka panjang.
 
"Yang harus kita tentukan itu adalah kebijakan yang bisa sustainable jangka 
panjang," imbuhnya.


(ang/qom) 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke