Refleksi: Hati-hati, gara-gara kue enak mengandung gelatin Anda dimasukkan ke 
nereka, lebih berbahaya lagi  bila dibandingkan dengan pencuri ayam dihajar 
sampai peot oleh penduduk desa.

http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?ses=&id=1250

19 Desember 2009 08:45:38



Orang-orang Penentu Halal-Haram Produk Makanan dan Obat-obatan






Susahnya Teliti Gelatin agar Tak Masuk Neraka  Majelis Ulama Indonesia (MUI) 
punya lembaga khusus yang bertugas meneliti halal-tidaknya sebuah produk 
makanan dan obat-obatan sebelum dilepas ke pasar. Prosesnya cukup rumit. 
Setidaknya menurut orang-orang yang berada di lembaga tersebut. ZULHAM MUBARAK, 
Jakarta 


JIKA ingin tahu bagaimana rumitnya meneliti ratusan ribu produk makanan dan 
obat-obatan, bertanyalah kepada Nadra. Pria bernama lengkap Muhammad 
Nadratuzzaman Hosen ini adalah mantan direktur eksekutif Lembaga Pengkajian 
Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI. Baru tiga bulan lalu dia 
lengser dari jabatannya. Tiga tahun menjabat direktur eksekutif LPPOM MUI, dia 
telah mengeluarkan sedikitnya 29 ribu sertifikat halal dan 250 ribu produk 
berlabel halal. Alumnus IPB ini memang terlibat langsung dalam setiap proses 
penentuan halal yang diterbitkan instansinya.


Kini, pria 38 tahun itu masih tetap berkutat di LPPOM MUI. Hanya, dia sudah 
menjadi anggota dewan penasihat di lembaga tersebut. 
Ketika ditemui Jawa Pos (Cenderawasih Pos Group) di tempatnya mengajar di 
kompleks kampus Universitas YARSI, Jakarta, Selasa siang lalu (15/12), Nadra 
menyambut ramah. Dia tampak bersemangat ketika ditanya seputar pengalamannya 
selama menjadi orang nomor satu di LPPOM MUI. 


''Tak terhitung sudah kisah menarik ketika kami bekerja,'' ujar pria yang 
menempuh gelar master di University of New England (UNE) Australia ini. Nadra 
pun menjelaskan secara rinci bagaimana prosedur sebuah produk hingga akhirnya 
dijamin kehalalannya. Mula-mula setiap perusahaan (produsen) harus mendaftarkan 
secara langsung ke kantor LPPOM MUI, di gedung MUI lantai 4 Jl Proklamasi, 
Jakarta. Saat itu sampel produk juga harus dibawa. Di sana mereka harus mengisi 
formulir, lalu menjelaskan bahan dan proses pembuatan produk yang dibawa. 
''Formulirnya memang tebal dan detail, karena kami tidak ingin melewatkan apa 
pun. Mungkin itulah kenapa kami kerap dituduh mempersulit,'' cerita Nadra.


Berbekal formulir tersebut, LPPOM MUI segera menugasi para auditor untuk 
bekerja secara independen. Mereka inilah yang menelusuri proses produksi produk 
yang akan diujikan. Jawa Pos sempat diajak menyaksikan bagaimana repot dan 
rumitnya para auditor ketika bekerja. 
Mereka yang mayoritas ahli kimia, ahli pangan, dan ahli produksi obat-obatan 
itu harus meneliti serta memelototi proses produksi mulai hulu hingga hilir. 
Semua bahan produk itu diteliti secara komprehensif, baik zatnya maupun proses 
mendapatkan zat tersebut.


Nadra mengatakan, di awal terbentuknya LPPOM MUI sekitar 20 tahun lalu, proses 
tersebut berlangsung cukup lama. Sebab, para auditor harus merunut asal 
bahan-bahan untuk menyusun sebuah produk. Inilah yang menyebabkan prosesnya 
cukup panjang. Sebab, tak jarang untuk keperluan itu, mereka harus berurusan 
dengan perusahaan-perusahaan lain. 


''Mengapa kami bekerja seperti itu? Sebab, prinsip kami sesuai Alquran, yaitu 
zero tolerance. Artinya, tidak bisa ditawar. Kalau halal ya halal, kalau haram 
ya haram. Setetes barang haram bisa membuat seluruh produk haram,'' tegasnya. 
Sekarang prosesnya bisa jauh lebih mudah. Sebab, sudah banyak produsen pembuat 
bahan-bahan penyusun produk yang diuji yang bersertifikat halal. "Ini lebih 
memudahkan," katanya. 


Yang menjadi musuh nomor satu bagi para auditor halal di LPPOM MUI, kata Nadra, 
adalah gelatin. Zat ini sering digunakan untuk memperindah dan memperhalus 
tekstur makanan. Biasanya digunakan pada bahan makanan. Antara lain, pembuatan 
yoghurt, permen, susu, kue, marshmallow, mentega, selai, jelly, pudding, dan 
kapsul.


Gelatin yang dibuat dari ekstrak tulang dan kulit hewan itu hampir tidak 
mungkin dideteksi sumbernya, apakah dari babi atau sapi. Hal itulah yang 
membuat auditor kerap terbentur jalan buntu. Mereka sulit memastikan apakah 
gelatin tersebut dari babi yang jelas haram atau dari sapi.


''Di dunia ini belum ada teknologi yang dapat mengurai asal gelatin. Gelatin 
dari sapi maupun babi hampir sama. Karena itu, kami bekerja sama dengan IPB. 
Kami adalah satu-satunya lembaga di dunia yang mengembangkan teknik analisis 
itu. Kini penelitian untuk merancang cara itu hampir tuntas,'' papar pria yang 
juga anak salah seorang tokoh MUI ini. 


Dia menambahkan, selama ini auditor halal kerap menemukan gelatin dalam 
pembuatan makanan atau obat. Karena itu, mereka selalu menelusuri perusahaan 
yang memasok bahan tersebut. Jika perusahaan pemasok gelatin termasuk dalam 
daftar produsen berbahan babi, rekomendasi halal bagi produk yang memiliki 
gelatin dalam daftar bahan pembuatnya itu tidak diluluskan. ''Tapi, yang sulit 
adalah jika gelatin itu hasil ekspor. Biasanya, kami rekomendasikan untuk 
mengganti dengan bahan yang berbahan sapi atau zat lain,'' katanya.


Nadra mengenang, proses paling rumit ketika yang mengajukan sertifikat halal 
adalah produsen essence atau rasa buatan. Sebab, produk itu mengandung 
sedikitnya 1.000-1.500 bahan kimia penyusun. Tuntutan zero tolerance membuat 
auditor bekerja hingga enam bulan lebih untuk memastikan kategori produk 
tersebut halal atau haram karena setiap zat penyusun itu harus diteliti di 
laboratorium. ''Kami ini diamanatkan oleh ratusan juta muslim di Indonesia. 
Jadi, ketika mulai bekerja, kami berkomitmen harus berani masuk neraka. 
Artinya, kami siap bertanggung jawab kepada Allah jika dalam analisis kami 
terjadi kesalahan,'' paparnya. ''Tapi, insya Allah, saya yakin bahwa selama ini 
kami telah bekerja semaksimal mungkin,'' lanjutnya.


Di bagian lain, Direktur Eksekutif LPPOM MUI Lukmanul Hakim menambahkan bahwa 
saat ini dirinya memiliki 75 personel auditor yang sangat profesional. Selain 
memiliki kemampuan teknis terkait kimia dan produksi bahan makanan, mereka 
telah terlatih secara ilmu fiqih untuk menganalisis halal dan haramnya sebuah 
zat. ''Kalau boleh saya katakan, personel kami ini gabungan antara ustad dan 
ilmuwan,'' kata pria 35 tahun itu. 


 

Lukman yang menggantikan posisi Nadra mengatakan, sulit menemukan sumber daya 
profesional yang memiliki dua sisi dalam bekerja. Yakni, ketelitian dan 
dedikasi profesi serta rasa tanggung jawab dan kejujuran kepada Allah. Karena 
itu, untuk menjaga personelnya tetap dalam peak performance, para auditor 
secara berkala duduk dalam majelis dan diberikan suntikan pemahaman Islam dan 
refreshment naluri pengetahuan ilmu terapan mereka. ''Tiap Jumat kami rapat dan 
bertemu. Selain mengaji, di sana problem dan temuan hal-hal baru kami bahas 
bersama dan mencari penyelesaiannya,'' katanya.


 

Lukman menyatakan, dalam bekerja, tak jarang auditor diiming-imingi suap dan 
hadiah dari perusahaan yang mengajukan sertifikasi halal. Namun, beruntung. 
Karena bekal agama dan profesionalisme selama ini, kata dia, dirinya tidak 
menemukan adanya pelanggaran kode etik oleh personelnya. ''Kami sering ditawari 
hadiah dan uang. Tapi, selalu kami tolak dengan tegas. Sebab, sekali kami salah 
langkah, nasib jutaan muslim akan ikut terjerumus dalam kesalahan kami,'' papar 
dia.


Dia mengakui bahwa dari sisi kesejahteraan, para auditor pasti tidak akan 
terpenuhi. Sebab, pendapatan auditor dalam menangani setiap berkas adalah Rp 
300 ribu per hari. Lazimnya, setiap berkas akan tuntas dalam waktu sehari atau 
dua hari saja. Karena itu, dia membolehkan auditor bekerja secara freelance di 
luar wewenang mereka menjadi tim MUI. ''Apalagi, karena sekarang bahan baku 
yang mereka gunakan sudah besertifikat, jadi proses pengecekan dan auditnya 
tidak lama,'' terang dia. (kum)
(scorpions)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke