http://www.jambiekspres.co.id/index.php/opini/8908-koin-prita-dan-dokter-indonesia.html


      Rabu, 16 Desember 2009 10:35

     
      Koin Prita dan Dokter Indonesia  
      Oleh: M. Yusuf Suseno

       

      SAAT vonis denda 204 juta rupiah dijatuhkan kepada Prita Mulyasari, 
sontak beribu simpati datang dari masyarakat. Rakyat merasakan ketidakadilan 
telah menimpa Prita. Kemarahan publik melahirkan gerakan pengumpulan koin untuk 
Prita. Mengapa koin? Sebab, uang receh itu didaulat sebagai lambang perlawanan 
rakyat kecil kepada sistem yang lebih besar. Dalam kasus ini, kubu yang besar 
adalah RS Omni Internasional yang dipandang sebagian orang telah bersikap cukup 
arogan, plus sistem peradilan yang dinilai tak memihak rasa keadilan rakyat 
kecil. 

      Bukan hanya anggota Komisi Yudisial yang prihatin atas putusan itu, 
Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih pun ikut gerah. Tim mediasi dari Depkes 
diutus untuk kembali menengahi pertikaian antara Prita dan RS Omni. ''Hubungan 
dokter-pasien seharusnya tolong-menolong, bukan tuntut-menuntut,'' kata Menkes 
(JP 9/12/09). Kegelisahan Menkes itu membuktikan bahwa selain mengganggu rasa 
keadilan, gerakan koin untuk Prita juga merepotkan pucuk pimpinan birokrasi 
kesehatan di negeri ini. 

      Mengapa demikian? Sebagai kasus yang semula berbau dugaan malapraktik 
yang dilakukan RS Omni Internasional terhadap Prita (meski tak terbukti), 
konflik ini telah menjadi cermin bagi dunia kesehatan di tanah air. Kericuhan 
yang diliput luas oleh media tersebut mewakili hubungan pasien, dokter, serta 
rumah sakit yang makin rapuh. 

      Komentar dan pertanyaan masyarakat pun beragam. Salah satu yang paling 
penting dijawab adalah pertanyaan tentang kualitas pelayanan kesehatan di tanah 
air. Apa yang terjadi dengan pelayanan kesehatan dalam negeri? Mengapa banyak 
orang kaya yang lari ke Singapura dan Penang untuk berobat? Apakah semata 
karena teknologi kesehatan? Benarkah berita tentang dugaan malapraktik di media 
massa yang muncul tiap minggu itu? 

      Era krisis kepercayaan tersebut telah diramalkan jauh-jauh hari. Suatu 
hari, Sir William Osler, Bapak Kedokteran Modern, ditanya tentang definisi 
dokter yang pintar. Dia dengan lugas menjawab, ''Sesungguhnya tak ada seorang 
pun yang bisa disebut dokter yang pintar. Di dunia ini hanya ada dua macam 
dokter. Dokter yang baik dan dokter yang buruk." 

      Kita boleh tidak setuju terhadap Sir William. Namun secara tak langsung, 
Profesor Abraham Verghese, seorang ahli penyakit infeksi sekaligus penulis 
terkenal dari Amerika, berkata, ''Seorang pasien yang menyukai dokternya takkan 
pernah menuntut, apa pun yang terjadi, apa pun bujukan si pengacara."

      Kedua pernyataan tokoh dunia kedokteran dari era yang berbeda itu 
sebenarnya telah menjawab penyebab meruncingnya hubungan pasien dan dokter 
dalam beberapa kasus. Sayang, hal itu tak kunjung disadari oleh para pemegang 
kebijakan, pemilik industri kesehatan, maupun para komunitas dokter.

      S.G. Jeffs, seorang dokter Inggris, yang jika masih hidup pastilah akan 
dianggap puritan, puluhan tahun lalu menulis hal yang sangat mendasar. Satu 
prinsip yang seharusnya terus ditekankan para dosen kepada para mahasiswa di 
fakultas kedokteran. ''Nobody is another case of... You have no cases. You have 
patients who are human beings with feelings and emotions." Kalimat ini mungkin 
terdengar aneh. Siapa pula yang masih berbicara tentang perasaan dan emosi 
dalam dunia masa kini yang tergesa? 

      Para perumus kurikulum pendidikan dokter di masa mendatang seharusnya 
terus memberikan porsi lebih besar kepada pendidikan dan latihan komunikasi. 
Sehingga mahasiswa kedokteran memiliki bekal kemampuan berkomunikasi yang 
lengkap, jujur, sabar, empatis, positif, dan mudah dimengerti. Sebab, hanya 
dokter yang dapat berkomunikasi dengan baik, berempati, dan bisa meletakkan 
dirinya pada sudut pandang pasienlah yang akan selamat dari ancaman krisis 
tuntutan malapraktik.

      Di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, praktik kedokteran 
kadang-kadang dipaksa berubah hanya untuk menjadi baut kecil dari bisnis jasa 
rumah sakit. Hal yang sama juga terjadi di belahan dunia lain. Apa arti dokter 
yang pintar tapi dianggap kurang ramah, yang kesibukannya tenggelam di tengah 
keluhan pasien? Bukankah ini berarti para dokter Indonesia juga harus siap 
mengumpulkan koin guna menghadapi jutaan rupiah tuntutan malapraktik?

      Sungguh, Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli. Alat-alat di rumah sakit 
rujukan pun cukup lengkap. Bahkan, Amerika dan Eropa pun mengakui bahwa mereka 
tidak ahli dalam semua penyakit. Berbagai jenis penyakit infeksi khas dunia 
ketiga seperti malaria, demam berdarah, dan penyakit jantung rematik yang akrab 
dengan kedokteran Indonesia tak selalu dikuasai Barat. 

      Namun, mengapa RS di Singapura dan Penang menjadi tujuan pasien dari 
Indonesia? Itu disebabkan mereka berusaha membuat nyaman pasien dan keluarga. 
Juga kesiapan dokter untuk berkomunikasi dan memberikan informasi secara utuh. 
Apalagi mereka sangat sadar bahwa rakyat Indonesia adalah pangsa pasar yang 
besar, dan layanan kesehatan adalah industri jasa yang menjanjikan. Tanpa orang 
Indonesia, rumah sakit di Singapura dan Penang akan merugi karena investasi 
yang tak kembali.

      Saat ini dunia layanan kesehatan Indonesia tengah menghadapi tantangan 
sangat berat. Dan jawabannya ada di tangan pihak-pihak yang memegang kendali 
masa depan. Selain pemerintah dan organisasi profesi, yang tak kalah bermakna 
adalah fakultas kedokteran, pencetak dokter Indonesia yang kini mulai muncul 
dan menjamur di mana-mana. 

      Di tangan mereka dokter Indonesia dibentuk. Apakah mereka nanti memandang 
pasien secara holistik, sebagai manusia seutuhnya, atau semata melihat pasien 
yang hanya terjangkit kasus maag yang tak sembuh-sembuh. 

      *) M. Yusuf Suseno , dokter umum, saat ini tinggal di Surabaya
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke