http://www.mediaindonesia.com/read/2009/12/12/112470/18/1/Perebutan-Kekuasaan-Timbulkan-Radikalisme


Perebutan Kekuasaan Timbulkan Radikalisme 


Minggu, 20 Desember 2009 06:08 WIB      
JAKARTA--MI: Perebutan kekuasaan merupakan salah satu pemicu timbulnya 
radikalisme. Hal itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan 
Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto di Jakarta, Sabtu (19/12). 

"Perebutan kekuasaan sesama Muslim telah memperlambat laju pengembangan 
kelompok Muslim itu sendiri, bahkan dapat melahirkan radikalisme dalam berbagai 
bentuk kekerasan dan pertikaian antarkelompok," katanya saat membuka Konferensi 
Persaudaraan Muslim Dunia. 

Jika pemimpin Muslim telah bersepakat, katanya, maka Islam akan selalu menjadi 
agama yang teduh, penuh dengan kedamaian dan membawa kesejahteraan. Karena itu, 
ia berharap para pemimpin umat Muslim dari beberapa negara yang hadir dalam 
konferensi ini dapat menjadi fasilitator perdamaian di negara-masing-masing. 

Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 
(PBNU) melalui International Conference of Islamic Scholars (ICIS) bekerja sama 
dengan The World Forum for Proximity of Islamic School of Thought yang berpusat 
di Iran. Konferensi yang digelar dalam rangkaian pramuktamar NU ke-32 itu 
diikuti oleh 100 ulama dan cendekiawan antara lain dari Iran, Mesir, Syiria, 
Lebanon, Libya, Irak, Palestina, Jordania, Malaysia, Thailand, Filipina, 
Singapura dan Indonesia. 

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang juga Sekjen ICIS dalam sambutannya 
mengatakan, di tengah tantangan krisis global ternyata konflik internal masih 
melanda warga Muslim di beberapa negara. Menurutnya, sebagian kelompok Muslim 
kurang memahami konsep ukhuwah islamiyah atau persaudaraan Muslim. Menurutnya, 
salah satu faktor yang menghalangi ukhuwah Islamiyah, adalah kurangnya 
kesadaran akan pentingnya persatuan di antara berbagai elemen Muslim seluruh 
dunia. 

"Kurangnya kesadaran ilmiah bahwa ajaran Islam secara fundamental memberikan 
ruang untuk berbeda pendapat sepanjang tidak keluar dari prinsip-prinsip 
keimanan yang ketentuan syariat yang baku," katanya. 

Faktor lainnya adalah permusuhan pribadi atau kelompok yang dilegitimasi oleh 
ajaran yang dikembangkan aliran tertentu serta persoalan politik yang dibawa ke 
lingkup agama. "Beberapa konflik yang melanda umat Islam di beberapa negara 
harus diakui lahir dari friksi-friksi politik," katanya. (Ant/OL-06) 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke