http://www.suarakarya-online.com/news.html?category_name=Opini
Natal di Tengah Korupsi dan Kiamat Oleh Stevanus Subagijo Kamis, 24 Desember 2009 Bagi umat Kristiani, Natal mempunyai banyak makna. Keselamatan, sukacita, damai sejahtera yang religius atau pohon Natal, Santa Claus, pesta juga baju baru yang sekuler. Itulah Natal yang kelihatan dan terkesan gampang, bukan Natal yang tersirat dan sulit seperti Natal pertama di Betlehem. Bagi dunia, Natal ditunggu sebagai church social responsibility (CSR) atau christian(ity) social responsibility. Pertanggungjawaban gereja, orang Kristen, dan kekristenan mestinya memancar keluar saat Natal. Ini bukan berarti di luar Natal tidak ada tanggung jawab, tetapi Natal mestinya menjadi momentum untuk lebih bertanggung jawab lagi mencari solusi bagi problem dunia ini. Natal bukan hanya mengemban tanggung jawab rohani soal keselamatan kekal, penghapusan dosa atau pemulihan hubungan dengan Allah lewat kelahiran Yesus, tetapi itu semua juga mutlak direfleksikan dalam kehidupan dunia ini. Natal membawa misi mewujudkan kehendak Allah, agar bumi seperti surga: "Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga." Sebab, saat Natal pula "pertanggungjawaban" Allah atas dosa manusia diwujudkan dengan melakukan "bakti nyawa", dalam diri kelahiran Yesus itu yang kelak berujung salib. Tapi, Natal 2009 ini secara khusus patut kita catat. Sebab, pada tahun ini kasus dugaan korupsi bergemuruh mengisi keseharian kita. Perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri & Kejaksaan Agung serta skandal Bank Century sampai hari ini mengingatkan kembali akan pekerjaan rumah memberantas korupsi yang tak habis-habisnya. Pohon korupsi sudah membesar, ditebang sukar, bahkan menjadi pohon tua besar nan angker. Ditunggui makhluk-makhluk halus (aktor intelektual) sehingga untuk memberantasnya butuh buldoser. Tapi, pada saat yang sama, ketika gempita antikorupsi merebak di DPR, parlemen jalanan (demo) dan di parlemen maya (facebook), bibit korupsi terus disemai. Itulah sebabnya, korupsi patah tumbuh hilang berganti, tak ada habisnya. Namun, itu bukan berarti semangat memberantas korupsi tamat. Dua ribu tahun yang lalu, Natal juga hadir di tengah-tengah dunia yang korup. Justru di situlah Natal menjadi penting, menyadarkan kita bahwa keselamatan kekal lebih penting daripada keselamatan di dunia ini. Natal menawarkan keselamatan yang kekal. Karena itu, tanpa korupsi pun orang bisa selamat jasmani dan rohaninya. Namun, keselamatan Natal yang nirkorupsi lebih sulit dan tidak instan dengan harta dan uang di tangan. Keselamatan Natal membutuhkan penyangkalan diri dan memercayakan hidup kepada Juru Selamat itu. Kasus korupsi pada Natal pertama yang bisa kita cermati adalah skandal genosida Herodes atas bayi-bayi laki-laki berumur 2 tahun. Inilah korupsi mental dan kejiwaan Herodes yang merasa terancam jabatan, kekuasaan, termasuk harta bendanya jika kelak Yesus Sang Raja itu lahir, memberontak, dan merebut posisinya. Ketakutan, kekhawatiran, dan kekikiran Herodes telah membutakan tindakannya yang diduga telah membantai 14.000 anak-anak laki-laki dan mungkin juga perempuan atau orangtuanya yang mempertahankan anak itu dari tangan prajurit Herodes. Herodes keliru karena jiwa sehatnya terkorupsi oleh ketamakan, kekayaan, dan kekuasaannya. Herodes menyambut Natal dengan pedang dan pembunuhan. Korupsi telah membutakan Herodes. Korupsi pun telah membutakan orang-orang zaman sekarang. Dengan berteriak antikorupsi, dunia berharap bahwa korupsi akan terkikis habis. Tapi, Natal mengajarkan sebaliknya. Natal tidak diwartakan dengan "awas tidak selamat" atau "awas dosa membawa ke neraka". Sebaliknya, Natal diwartakan dengan tawaran bukan ancaman, "juru selamat itu telah lahir", "janji keselamatan kekal" diberikan cuma-cuma. Natal tidak dipropagandakan atau dikampanyekan secara besar-besaran. Bahkan, Natal cenderung inklusif, sederhana bahkan hina. Natal hanya mengetuk hati nurani jernih dan jujur bahwa dunia berdosa ini sudah lelah dengan usaha untuk selamat. Dunia ini tidak jujur bahwa dirinya tidak mungkin menaati hukum Taurat seratus persen, sehingga selalu dalam ancaman hukuman atas pelanggaran. Natal dengan jujur mengetuk hati kita bahwa kita hanya perlu kerinduan untuk diselamatkan. Kita butuh "juru selamat" secara pribadi. Dunia yang sudah lelah dengan kecamuk problem-problemnya terhalusinasi dengan eskatologianya sendiri. Proyek kiamat atau hari akhir yang menjadi ranah agama, bahkan di agama sendiri membutuhkan pewahyuan, penelitian dan penubuatan secara jujur oleh dunia yang sudah lelah ini, diadopsi untuk menjadi solusi dari problem-problem dosanya. Dunia menciptakan "juru kiamat"-nya sendiri untuk menandingi Natal, tak sabar dengan Juru Selamat yang sudah lahir 2.000 tahun lalu. Salah satunya dengan mempercepat kiamat. Rekayasa kiamat baik lewat ajaran-ajaran sesat maupun film Kiamat 2012 yang direspons antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa dunia ini sudah mencapai puncak kelelahan yang luar biasa. Saat Natal pertama bukan berarti eskatologia model kiamat ini tidak muncul. Diduga, kiamat itu sudah terasa dekat manakala pembantaian anak laki-laki oleh Herodes bisa saja identik dengan dampak mengerikan pemanasan global saat ini. Natal menjadi antiklimaks dari adanya kasus korupsi dan isu kiamat, dua hal yang mencerminkan rasa frustrasi manusia akhir zaman. Korupsi pertanda hilangnya iman bahwa Allah masih memelihara hidup ini bagi mereka yang berkenan kepadaNya. Kiamat tanda manusia lari dari persoalan hidup dan ingin mempercepat eskatologia buatannya sendiri yang semu. Natal membawa keselamatan rohani dan jasmani. Tanpa harus korupsi, Natal mengembalikan semangat pemeliharaan Allah, bahkan jaminan hidup dari Allah sendiri. Natal juga menjadi antitesis dari obsesi kiamat yang merupakan cermin putus asanya dunia ini. Natal membawa pengharapan, janji keselamatan di dunia, bahkan keselamatan kekal kelak. Tak peduli kiamat hari ini atau ribuan tahun nanti, Natal menyediakan keselamatan kekal dan bukan histeria kiamat. Keselamatan kekal yang pasti diperoleh tanpa perlu repot dipastikan kapan datangnya. Kunci dari itu semua hanya satu: sejauh mana kita mau menyangkal diri bahwa kita terpojok dalam mencari jalan keluar. Dengan berserah mengesampingkan itu semua dan menerima Natal yang sedang datang, Natal tetap bisa dihadirkan dengan gempita dan menjadi jalan keluar bagi korupsi dan kiamat.*** Penulis adalah peneliti pada Center for National Urgency Studies Jakarta [Non-text portions of this message have been removed]

