Refleksi : Salah makan bisa diare abadi.  Bukankah yang mengurusadalah  
orang-orang pandai bergelar ilmu pengetahuan? Koq bisa salah makan? Ilmu apa 
yang mereka kuasai?


http://batampos.co.id/Kolom/Catatan_Dahlan_Iskan/Dampak_Pembangkit_Listrik_yang_Salah_Makan_%281%29.html

      Dampak Pembangkit Listrik yang Salah Makan (1)  
      Selasa, 17 November 2009  

      Dicari, Payung yang Berhemat Rp10 Triliun 


      Direktur utama PLN harus melakukan ini. Terutama kalau semua orang 
menghendaki kelistrikan Indonesia bisa baik. Tapi, semua direktur utama PLN, 
baik yang lalu, yang sekarang, maupun yang akan datang tidak akan bisa 
melakukan ini.
      Bayangkan. PLN memiliki banyak sekali pembangkit listrik raksasa yang 
mestinya dijalankan dengan gas, kini harus diberi makan solar. PLTG "salah 
makan" ini meliputi sekitar 5.000 MW! Yang 740 MW dua buah ada di dekat 
Jakarta. Yang 1.000 MW ada di Gresik. Yang 750 MW ada di Pasuruan. Dan di 
beberapa tempat lagi di Jawa ini. 


      PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) itu tentu didesain untuk diberi 
"makan" gas. Namun, PLN tidak bisa mendapatkan gas. Bukankah negeri ini punya 
banyak gas" Juga dikenal sebagai pengekspor gas" Ya. Itu benar. Tapi, untuk PLN 
terlalu banyak persoalannya. Kalau saya uraikan di sini bisa menghabiskan 
seluruh halaman surat kabar ini. Yang jelas, akibat tidak bisa mendapatkan gas, 
PLTG-PLTG tersebut diberi makan solar. Memang desain mesinnya memungkinkan 
untuk itu, meski kapasitasnya berkurang sampai 15 persen. Maka PLTG itu sudah 
sepantasnya kini disebut PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Solar). 


      PLTG "salah makan" inilah salah satu penyebab utama kesulitan PLN dan 
sekaligus kesulitan menteri keuangan. PLTG "salah makan" inilah yang menjadi 
salah satu penyebab direksi PLN beserta seluruh staf dan karyawannya telah 
menjadi bangsa pengemis. Tiap bulan PLN harus mengemis ke menteri keuangan 
untuk bisa mendapatkan subsidi. Pada 2008 saja, subsidi itu mencapai Rp 60 
triliun setahun. Baca: Rp 60.000.000.000.000. 


      Mengapa? 


      Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas, biaya produksi listriknya bisa lebih 
murah. Tinggal hampir separonya. Harga gas kini sekitar 7 dolar AS/ton 
ekuivalen. Padahal, harga solar 16 dolar AS/ton ekuivalen. Solar itulah 
"makanan" PLTG yang harganya lebih mahal, tapi rasanya lebih pahit. Kapasitas 
PLTG-nya turun 15 persen. Dengan menggunakan solar itu, asapnya begitu hitam. 
Kalau saja Anda melewati tol dari Bandara Cengkareng ke arah Tanjung Priok 
(Jakarta), menengoklah ke utara. Anda akan melihat di arah pantai dekat Ancol 
sana banyak cerobong yang mengeluarkan asap hitam. Itulah bukti nyata kasus 
PLTG "salah makan?. Cerobong yang mengeluarkan asap hitam itu pertanda PLTG 
tersebut lagi diberi makanan yang salah dan karena itu kentutnya yang mestinya 
tidak kelihatan menjadi jelas berwarna hitam. 


      Kalau saja 5.000 MW PLTG "salah makan" tersebut diberi makanan yang 
benar, PLN akan menghemat sedikitnya Rp 10 triliun. Itu per tahun! Pasti 
menteri keuangan yang cantik itu akan kelihatan semakin cantik karena mulai 
bisa tersenyum. Sang menteri barangkali selama ini kesal juga karena setiap 
bulan harus melayani pengemis subsidi dengan nilai yang begitu menggemaskan. 


      Ada lagi yang lebih menggemaskan. Sebagai orang swasta yang kalau 
melakukan investasi menggunakan 10 kalkulator (agar bisa berhemat), saya sangat 
gemas akan keputusan investasi seperti itu di masa lalu. Untuk investasi 5.000 
MW PLTG "salah makan" tersebut, menurut perkiraan saya, telah menghabiskan uang 
sekitar Rp100 triliun. Mayoritas dilakukan waktu Orde Baru. Anehnya, masih juga 
diizinkan pembangunan PLTG baru 740 MW di dekat Jakarta. PLTG ini memang milik 
swasta. Tidak memberatkan keuangan PLN. Tapi, ketika mulai membangun dulu, si 
swasta minta jaminan pemerintah bahwa pemerintah pasti bisa memberikan gas 
kepadanya. 


      PLTG baru itu akhirnya selesai dibangun. Masih gres. Baru sekitar dua 
bulan lalu selesai dan mulai beroperasi. PLTG ini memerlukan gas kira-kira 230 
MMBTU (Million Metric British Thermal Unit). Seperti sudah bisa diduga, 
pemerintah tidak bisa menyediakan gas dari sumber yang baru untuk memenuhi 
janjinya itu. Akibatnya, sangat parah. Baik secara fisik maupun secara akal 
sehat. Pemerintah dengan mudah memutuskan mengalihkan gas yang selama ini untuk 
jatah PLTG milik PLN ke PLTG baru milik swasta itu. Agar janjinya kepada swasta 
asing terpenuhi. Saya tidak sampai hati menuliskan akibat fisik yang 
ditimbulkan oleh kebijaksanaan ini. 


      Lalu, bagaimana bisa mengatasi persoalan PLTG "salah makan" ini? Mengapa 
membangun PLTG kalau sudah tahu tidak akan bisa mendapatkan gas? Mengapa 
membangun PLTG kalau setelah dijalankan mengakibatkan PLN/negara harus 
menderita kerugian Rp10 triliun/tahun? 


      Dirut PLN harus mengubah itu semua. Tapi, Dirut PLN, yang sekarang maupun 
yang akan datang, tidak akan mampu mengubahnya. Kecuali diberi payung hukum 
untuk boleh mengatasinya. Inilah payung yang sekali diberikan bisa menghasilkan 
penghematan Rp10 triliun per tahun. Payung, begitu sederhana barangnya. Puluhan 
triliun rupiah manfaatnya. (bersambung) 
     



http://batampos.co.id/Kolom/Catatan_Dahlan_Iskan/Dampak_Pembangkit_Listrik_yang_%94Salah_Makan%94_%282-Habis%29.html

      Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" (2-Habis)  
      Rabu, 18 November 2009  

      Dua Pilihan Akal Sehat Plus Satu Gila 


      Pertanyaan: Indonesia begitu kaya gas. Mengapa PLN sampai tidak bisa 
mendapatkan gas? Sehingga sebagian pembangkitnya, sekitar 5.000 MW, harus 
diberi "minum" solar yang dalam setahun menghabiskan uang PLN Rp80 triliun?
      Urusan ini rumitnya bukan main. Memang yang berhak mengatur perdagangan 
gas adalah pemerintah. Mestinya pemerintah bisa mengaturnya lebih baik. Tapi, 
saya masih belum tahu siapa yang disebut pemerintah itu. Yang jelas, 
pemilik-pemilik ladang gas adalah perusahaan swasta. Asing maupun domestik. 


      Para pemilik ladang gas tentu ingin menjual gasnya dengan harga terbaik. 


      Sebab, investasi untuk menemukan ladang gas tidak sedikit. Maka, PLN 
harus bersaing dengan pembeli-pembeli lain: pedagang luar negeri maupun 
pedagang dalam negeri seperti Perusahaan Gas Negara (PGN). 


      Keinginan lain para pemilik ladang gas adalah ini: pembeli harus 
mengambil semua gas yang dihasilkan suatu sumur, berapa pun jumlahnya. Di sini 
PLN ditakdirkan kurang bisa fleksibel. Sebuah pembangkit listrik tentu sudah 
didesain memerlukan gas sekian MMBTU (Million Metric British Thermal Unit). 
Sedangkan produksi sebuah sumur gas kadang kurang dari kebutuhan itu dan kadang 
sedikit kelebihan. 


      Dalam hal produksi sebuah sumur gas kelebihan, katakanlah 15 persen, dari 
kebutuhan sebuah pembangkit listrik, dilema muncul: dibeli semua PLN rugi, 
tidak dibeli semua pemilik sumur gas rugi. 


      Maka, mestinya, tidak ada jalan lain kecuali ada kerja sama yang sangat 
khusus antara PLN dan PGN. Kalau PLN mendapatkan sumur gas yang produksinya 
kelebihan, kelebihan itu bisa disalurkan ke PGN. Sebaliknya, kalau produksi 
sebuah sumur gas kurang dari jumlah yang diinginkan PLN, PGN yang harus 
menambah. 


      Sampai sekarang kerja sama seperti itu rasanya belum ada. Egoisme setiap 
perusahaan masih sangat menonjol. Padahal, dua-duanya milik pemerintah. 


      Memang itu saja belum cukup. PGN adalah juga sebuah perusahaan yang harus 
berlaba. Apalagi, sekarang sudah menjadi perusahaan publik. PGN sendiri 
kekurangan gas untuk melayani pelanggannya. Baik pelanggan rumahan dan terutama 
pelanggan industri. Maka, terjadilah persaingan ketat antara PLN dan PGN 
sebagai sama-sama pembeli gas dari ladang migas. Persaingan ini yang sampai 
sekarang belum mendapatkan jalan keluar. 


      Tentu ada yang berdoa agar kedua perusahaan itu jangan cepat-cepat rukun. 
Para pedagang solar (di dalam maupun di luar negeri) yang setiap tahun mengeruk 
uang PLN sampai Rp80 triliun akan kehilangan bisnis yang mengilap dari 
pedagangan solar. Bahwa itu membuat PLN dan pemerintah sulit, yang kurang 
pintar kan PLN dan pemerintah sendiri. 


      Tentu ide yang paling realistis adalah membangun LNG-gasifikasi terminal. 
PLN atau investor yang bekerja sama dengan PLN diminta membangun terminal 
LNG-gasifikasi. PLN atau investor bisa membeli LNG (Liquefied Natural Gas atau 
gas alam cair) dari mana saja dalam jumlah yang pas untuk kepentingan PLN. Bisa 
dari Tangguh di Papua, bisa dari Senoro di Luwuk (Sulteng) bisa juga dari Qatar 
atau Iran. Atau dari tempat lainnya. 


      LNG itulah yang kemudian diubah menjadi gas di sebuah terminal 
LNG-gasifikasi. Terminal ini bisa dibangun di sekitar Cilegon. Bahkan, sudah 
pula ada teknolgi baru: terminalnya dibuat terapung di lepas pantai Jakarta. 
Agar dekat dengan "PLTG salah makan" yang sekarang membuat masalah itu. 


      Saya tidak melihat jalan lain. Hanya dua itulah jalan keluarnya: kerja 
sama yang baik dengan PGN atau membangun terminal LNG-gasifikasi. Yang pertama 
harus difasilitasi pemerintah dan yang kedua harus difasilitasi pemerintah. 


      Memang masih ada jalan lain. Tapi, terlalu radikal. Lelang saja PLTG-PLTG 
itu! Daripada bikin penyakit yang mengisap darah keuangan pemerintah. Hasil 
lelang barang bekas itu untuk dibelikan PLTU bekas yang direkondisi seperti 
baru. 


      Jalan "gila" itu bisa menyelamatkan uang negara setidak-tidaknya Rp10 
triliun/setahun. Baca: 10.000.000.000.000/setahun. Kalau saja di swasta dan 
saya yang menjadi pemiliknya, saya akan lakukan yang terakhir ini. 


      Masih ada penghematan lain yang juga triliunan rupiah. Tapi, dua seri 
tulisan ini saja sudah bisa menggambarkan mengapa PLN mengalami kesulitan 
selama ini. Dan mengapa sulit pula dipecahkan. ***


     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke