Refleksi : Dikunjungi supaya tahu adanya kemajuan yang dicapai.

http://hariansib.com/?p=104301#more-104301

Daerah Kumuh Jakarta Jadi Objek Wisata
Posted in Pariwisata by Redaksi on Desember 27th, 2009 
Jakarta (SIB)
Wisata Kemiskinan? Memang tidak lazim kedengarannya. Ngapain wisata ke lokasi 
padat hunian yang miskin dan kumuh? Tapi bagi turis asing, astaga.Inilah wisata 
yang punya daya tarik sendiri. Ronny Poluan memang seniman, jebolan Institut 
Kesenian Jakarta (IKJ). 'Anak Menteng' berusia 56 tahun ini punya Intuisi 
bisnis yang mungkin tak banyak dimiliki orang. "Saya ini aktivis sosial dan 
pernah aktif di Karang Taruna saat awal didirikan," ujarnya beberapa waktu lalu.
Profesi baru Ronny Poluan adalah menjual paket 'Jakarta Hidden Tour'. Oleh 
jaringan televisi internasional CNN yang sempat meliput pekerjaan Ronny Poluan, 
paket wisata itu disebut sebagai 'Wisata Kemiskinan'.


Ronny menepis tudingan miring soal kegiatannya. "Saya tidak menjual kemiskinan 
negeri saya. Saya juga anak bangsa yang punya nasionalisme. Tolong ini dicatat 
dulu, sebelum timbul pikiran-pikiran negatif," tutur pria berambut panjang 
penuh uban itu, di rumahnya di kawasan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta 
Timur. Menurut pengakuannya, separuh dari biaya tour yang dibayar turis ia 
berikan kepada masyarakat di daerah kumuh yang jadi objek wisata. "Di luar itu, 
ada beberapa turis yang kemudian secara langsung tergerak untuk memberikan 
bantuan kepada warga," tutur suami Anneke Rompas.


HUMANIS
Ronny menuturkan, ide bisnisnya muncul pada awal Februari 2008 tatkala ada 
warga negara asing minta dipandu berkunjung ke daerah-daerah slum (kumuh) di 
Jakarta. "Selain karena masa tugasnya di Jakarta sudah mau habis, orang asing 
itu juga sedang mengemban misi khusus untuk menyalurkan bantuan," kata Ronny 
yang enggan menyebut identitas dan negara asal orang asing itu. Tapi diakui, 
sebagian besar orang asing yang meminta jasanya berasal dari Australia, Amerika 
Serikat dan Jepang.


"Hari ini saya baru saja mengantar rombongan turis dari Jepang. Mereka mengaku 
melihat orang-orang kita dari sisi kemanusiaannya, humanis. Malahan ada yang 
langsung nyelutuk, Ronny, what can I do for you and those people," ujar Ronny 
menirukan keprihatinan turisnya. Menurut Ronny, daerah padat hunian maupun 
kumuh yang jadi favorit turis asing antara lain Kampung Luar Batang (dekat 
Pasar Ikan), Galur, Senen (permukiman di pinggir rel kereta api), Kampung Pulo 
(pinggiran kali Ciliyung, Kp. Melayu), dan Kampung Bandan dekat Kota Tua. 
"Orang asing itu ingin melihat kehidupan warga Jakarta apa adanya. Kalau 
melihat gedung-gedung tinggi, jelas di negara mereka lebih megah," ungkapnya. 
Sementara, orang asing yang bekerja di Jakarta (ekspatriat), memilih liburan ke 
daerah Puncak, Bali atau daerah pantai.


BERKAT FILM
Ronny, dengan basic pendidikan sutradara film pendek dan pemain teater, sering 
menemami kolega-kolega seninya dari mancanegara. Dia pernah membuat dua film 
dokumenter di Kampung Galur, Jakpus. Film semi dokumenternya berjudul Eye of 
the Day dan Shape of the Moon memenangi World Cinema Award dalam kompetisi 
Sundance Film Festival, AmerikaSerikat, tahun 2005.


Berkat dua film itulah, orang asing tertarik untuk melihat langsung kehidupan 
masyarakatnay di balik gedung-gedung pencakar langit, serta hingar bingar 
germerlapan dunia malam penuh hura-hura di Jakarta. Lewat satu perangkat 
komputer yang tidak baru lagi, dia memasarkan usahanya di website. Dia juga 
merasa terbantu dengan publikasi dari mulut ke mulut. Bahkan, Volunteering for 
International Development from Australia (VIDA) yang berbasis di Kent Town, 
South Australia, ikut membantu mengembangkan paket tour milik Ronny.
TARIF


Tarif tour berkisar antara USD 65 sampai 165 (Rp1,5 juta) per orang untuk paket 
jalan-jalan sekitar empat lima jam. Para turis biasanya dijemput pakai bus dari 
Hotel tempat mereka menginap. Pernah pula dijemput pakai Metro Mini atas 
permntaan turis itu sendiri.


"Mereka bilang, kok murah sekali. Setengah dari biaya itu, saya bagikan lagi ke 
warga yang daerahnya kami kunjungi. Terus terang, kalau bicara keuntungan, 
sangat tipislah," ujar Ronny. Rombongan tamu yang dibawanya rata-rata berkisar 
10-15 orang, pernah juga rombongan besar sampai 30 orang sehingga dia harus 
merekrut tenaga tambahan. Umumnya, para turis tidak mau kunjungan mereka 
diliput wartawan.


Melalui paket 'Jakarta Hidden Tour' itulah, Ronny juga memperlihatkan 
keramahtamahan orang Indonesia, kerukunan kehidupan beragama di Indonesia. 
"Islam Indonesia adalah paling moderat. Meski daerahnya padat, atau tinggal di 
rumah kumuh, tapi tidak ada satu pun yang meminta-minta kepada turis kami. 
Justru para turislah yang spontan memberi."
Kalau ada pejabat atau pihak lain yang meragukan kiprahnya, Ronny mengajak 
mereka untuk terjun melihat langsung. "Buat apa mereka protes, kalau 
kenyataannya kemiskinan selama ini cuma dipolitisir, sementara rakyat tetap 
miskin," katanya. (PK/u)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke