Refleksi : Untuk apa maanfat bagi rakyat? Kalau rezim berkuasa mementingkan 
manfaat untuk rakyat, maka tentu sekali tidak demikian halnya.

http://www.harianterbit.com/artikel/info/artikel.php?aid=83332


Biofuel Kelapa Sawit Tak Banyak Memberi Manfaat Untuk Rakyat

      Tanggal :  26 Dec 2009 
      Sumber :  Harian Terbit 



JAKARTA - Pengembangan energi alternatif biofuel yang ramah lingkungan dari 
bahan nabati minyak kelapa sawit dinilai tidak memberikan banyak manfaat kepada 
rakyat kecil. Pasalnya, hasil produk bahan bakar nabati tersebut lebih memenuhi 
kepentingan pengusaha, pemilik modal, dan negara-negara maju.

Hal itu terungkap dalam diskusi publik bertema "Membedah Program Biofuel 
sebagai Jalan Baru Energi Alternatif" yang diselenggarakan Wahana Lingkungan 
Hidup (Walhi) Provinsi Sumatera Selatan, di Palembang.

Hadir sebagai narasumber, di antaranya, pengajar pertanian-bioteknologi dan 
ioteknologi yang juga Tim Penyusun Lumbung Pangan Provinsi Sumsel, Faizal Daud; 
Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) Ahmad Safrudin, dan Ketua 
Gerakan Perjuangan Hak Tanah Adat, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Edi Saputra.

Ahmad Safrudin menyatakan, dalam pengusahaan lahan untuk kepentingan biofuel di 
wilayah Provinsi Sumatera Selatan selayaknya lebih mempertimbangkan kepentingan 
rakyat daripada kepentingan pemilik modal atau pengusaha. Pasalnya, dalam 
pengembangan energi bahan bakar nabati yang ramah lingkungan, tak terlepas dari 
kepentingan kapitalis global dari negara maju.

"Negara-negara maju harus pula menurunkan karbon rumah-rumah kaca dan oke saja 
kalau biofuel mau dikembangkan asalkan dengan pilihan yang tepat dan tidak 
salah sasaran," kata Safrudin.

Dia mengatakan, jika saja pemerintah ataupun pengusaha pemilik modal dan 
kapitalis-kapitalis mau mengembangkan biofuel dari bahan nabati, minyak kelapa 
sawit, sepatutnya pula mempertimbangkan asas manfaat dan fungsi lahan. 
Pasalnya, amat sangat disayangkan jika menggunakan areal tanah rakyat ataupun 
lahan gambut.

"Untuk pengembangan biofuel, silakan saja menggunakan lahan kosong ataupun 
lahan kritis dan tidak menggusur tanah rakyat dan tidak merusak lahan gambut," 
katanya.

Safrudin mempertanyakan, kenapa Pemerintah Provinsi Sumsel tidak mengembangkan 
energi gas bumi yang melimpah di wilayah ini, malah justru mengembangkan 
biofuel dari minyak kelapa sawit.

Edi Saputra mengatakan, pihaknya akan menerima pembangunan proyek biofuel jika 
memang untuk kepentingan rakyat. Selama ini yang terjadi malahan banyak 
pengusaha yang merampas tanah rakyat. "Kalau dahulu sebelum ada perusahaan 
perkebunan swasta, kami hidup damai. Sekarang, satu, sering berkonflik," 
ujarnya.(tbt)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke