Guru Bangsa Itu Telah Pergi

Kamis, 31 Desember 2009 | 02:58 WIB



Laa Ilaaha illa Allah..., Laa Ilaaha illa Allah..., Laa Ilaaha illa
Allah..., Muhammad ar Rasulullah....



Gema bacaan tahlil yang menyatakan keesaan Allah dan pengakuan atas
kerasulan Muhammad SAW itu menggema di lorong-lorong Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo, Jakarta, Rabu (30/12) malam, saat jenazah mantan Presiden
Abdurrahman Wahid dibawa dengan keranda dari Gedung Ruang Pacu Jantung
Terpadu RSCM menuju ambulans yang diparkir di depan Gedung A RSCM.



Tahlil itu diucapkan ratusan orang yang berdesakan mengiringi keranda
jenazah guru bangsa yang akrab dipanggil Gus Dur.



Semua ingin melepas kepergian Gus Dur. Tokoh agama, politisi, menteri,
pejabat negara, hingga rakyat biasa mengantar kepergian Gus Dur. Semua
tumpah ruah memenuhi lorong-lorong rumah sakit.



Mereka menunggu hingga ambulans milik Garnisun dengan nomor 6703-00 melaju
menuju rumah duka di Ciganjur, Jakarta Selatan.



Gus Dur meninggal dunia sekitar pukul 18.45 di RSCM. Tidak berapa lama,
kabar wafatnya presiden keempat itu pun tersiar luas.



Sejumlah tokoh bangsa pun berbondong-bondong datang ke RSCM untuk memberikan
penghormatan. Lorong menuju ruang Pusat pacu Jantung Terpadu, tempat Gus Dur
dirawat, penuh sesak. Penjagaan di pintu-pintu masuk langsung diperketat.



Satu per satu kerabat, kolega, pejabat, dan tokoh bangsa berdatangan. Ketua
Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi, Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia Patrialis Akbar, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih,
mantan menteri Alwi Shihab, dan banyak tokoh lain berdatangan ke rumah
sakit.



Tidak hanya tokoh Islam, tokoh lintas agama juga datang untuk memberikan
ungkapan dukacita.



Selama menunggu jenazah Gus Dur keluar dari ruang perawatan, warga dan
simpatisan menggelar doa tahlil di Lantai 5 Ruang Pacu Jantung Terpadu RSCM.
Doa-doa dilantunkan dengan tulus dan khusyuk.



Sempitnya ruangan membuat siapa pun warga yang ada di ruang itu berdesakan,
tak peduli jabatan atau kedudukannya. Semua warga masyarakat dari berbagai
lapisan tunduk dalam kedukaan yang mendalam.

Saat jenazah Gus Dur dibawa keluar, sempat terjadi dorong-dorongan antara
awak media, petugas keamanan, dan masyarakat yang ingin melihat keranda Gus
Dur dari dekat.



Sejumlah pelayat yang berhasil memegang keranda Gus Dur tak kuasa membendung
tangis.



Pendorong demokrasi



Bagi Indonesia, Gus Dur adalah guru bangsa. Ia bukan hanya tokoh
multikulturalisme, tetapi juga pendorong demokrasi di Indonesia. Mengawinkan
demokrasi dengan nilai-nilai Islam yang dipelajarinya sejak kecil.



Pendapat itu di antaranya diungkapkan Staf Ahli Presiden Daniel Sparringa
dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie setelah mengantar
jenazah Gus Dur keluar rumah sakit.



Daniel kembali mengingat peristiwa tahun 1991 saat ia menyusun disertasi.
”Saya punya rekaman panjang hasil wawancara dengan beliau soal demokratisasi
di Indonesia,” tuturnya.



Jauh sebelum reformasi digaungkan, Gus Dur telah lebih dahulu memikirkan
bagaimana mendorong demokratisasi di Indonesia.



Cucu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama itu bahkan menjadi perekat hubungan
antarumat beragama.



Saat itu, lanjut Daniel, Gus Dur telah memikirkan bagaimana cara
merekonstruksi bangsa.



Saat menjabat presiden, buah pikiran itu diterjemahkan Gus Dur dengan
menyatukan perbedaan agama, suku, dan bangsa di bawah bingkai demokrasi.



Ia berhasil meyakinkan bangsa bahwa demokrasi bisa dikembangkan bersama-sama
dalam masyarakat yang majemuk.



”Gus Dur membantu saya untuk mengerti negeri ini, pelajaran yang sangat
berharga,” kenangnya.



Bahkan, Jimly menilai Gus Dur sebagai pahlawan pluralisme dan demokrasi
Indonesia. Menurut dia, Gus Dur adalah satu-satunya presiden yang bisa
mengarahkan opini publik, bukan larut mengikuti opini publik, seperti
dilakukan pemimpin bangsa saat ini.



”Gus Dur itu tidak tunduk kepada massa, tetapi selalu bisa mengarahkan
massa. Orang seperti Gus Dur sangat dibutuhkan bangsa ini,” katanya.



Totalisme Gus Dur dalam memikirkan nasib bangsa terlihat dari
obrolan-obrolannya sebelum meninggal. Beberapa saat sebelum pergi, Gus Dur
masih sempat memikirkan masalah bangsa.



Ia terus berdiskusi tentang bagaimana masa depan bangsa ke depan.



”Tadi, sekitar jam 17.00 saat kami berkumpul di ruangan, beliau masih
ngobrol soal bangsa ke depan. Bercerita panjang lebar,” kata Achid Yaqub,
mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur yang dekat dengan
Gus Dur.



Gus Dur telah mencurahkan segenap pemikiran, tenaga, dan harapan untuk masa
depan bangsa. Terus berpikir bagaimana mengubah bangsa agar menjadi lebih
baik.



Kini, guru bangsa itu telah pergi. Selamat jalan Gus Dur....



(Anita Yossihara/ M Zaid Wahyudi)



Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/31/02585512/guru.bangsa.itu.telah.pergi


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke