http://www.mediaindonesia.com/read/2009/12/12/114220/70/13/Koalisi-Mulai-Goyah


Koalisi Mulai Goyah 


Rabu, 30 Desember 2009 00:01 WIB      
KOALISI besar pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, belum apa-apa, 
sudah ribut. Sepak terjang anggota koalisi dalam Pansus Angket Century adalah 
pemicunya. 

Partai Demokrat, pemimpin koalisi, melalui anggotanya yang vokal, Ruhut 
Sitompul, menuduh anggota koalisi bermain dua kaki dalam menentukan agenda 
pansus. Partai Demokrat mulai merasa dikhianati. 

Salah satu yang memperkuat kecurigaan Demokrat adalah rekomendasi pansus agar 
Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dinonaktifkan selama 
masa pansus bekerja. Rekomendasi itulah yang mendorong Ruhut menuduh anggota 
koalisi bermain dua kaki dengan agenda masing-masing. 

Tentu, tuduhan Ruhut ditampik. Anggota koalisi yang merasa jadi target 
tudingan, Golkar, PKS, dan PAN, mengatakan tidak berniat untuk mengkhianati 
koalisi. Pansus Angket Century, dengan Demokrat menjadi salah satu pendukung 
kuat, adalah untuk membongkar setuntas-tuntasnya kebohongan dan menegakkan 
setegak-tegaknya kebenaran. Ini juga posisi berdiri Presiden Yudhoyono. 

Sejak awal pembentukannya, koalisi besar seperti ini sudah dikritik secara 
tajam. Dan, sudah diperkirakan jauh-jauh hari bahwa koalisi segemuk sekarang 
hanya menunggu waktu untuk pecah. Dan, sekarang itu terlihat mulai rapuh. 

Inilah koalisi superkuat. Bila alokasi jabatan publik, entah menteri entah 
pejabat lembaga tinggi negara lainnya, dipakai sebagai petunjuk komitmen 
koalisi, hanya dua partai kecil, Hanura dan Gerindra, yang tidak menjadi 
anggota. Sisanya, tujuh partai yang menguasai lebih dari 90% kursi di DPR 
adalah mitra pemerintah. 

Jadi, tidak perlu heran kalau koalisi ini dalam perjalanan waktunya akan tidak 
selamanya solid. Itu tidak hanya disebabkan belum terciptanya budaya koalisi, 
tetapi juga disebabkan oleh koalisi itu sendiri dipaksakan seperti mencampur 
minyak dengan air. 

Koalisi yang lazim adalah yang diikat oleh persamaan ideologi. Atau kalau 
ideologi semuanya sama, yaitu Pancasila, harus ada kesamaan dalam platform. 
Dengan demikian, yang pantas berkoalisi sesungguhnya adalah antara Demokrat, 
Golkar, dan PDIP yang sama-sama berwatak nasionalis. Di kubu yang satunya 
adalah koalisi antara partai-partai berbasis Islam seperti PPP, PKB, PAN, dan 
PKS. 

Tetapi dalam praktik, kelaziman ini dilanggar. Mengapa? Karena ternyata politik 
di Indonesia adalah politik pragmatis. Demi kepentingan dekat dan sesaat 
alur-alur kepantasan dan kepatutan dilanggar. Politik dilaksanakan dan didikte 
oleh target-target jabatan semata. 

Dengan semangat pragmatisme seperti ini, koalisi pemerintahan SBY diramalkan 
akan selalu gonjang-ganjing. Dengan demikian, koalisi besar yang semula 
ditakutkan akan menimbulkan kartel politik mulai terlihat sebaliknya. Koalisi 
besar ternyata mulai menimbulkan kerumitan, terutama dari seorang SBY untuk 
menjaga soliditas. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke