http://www.harianterbit.com/artikel/rubrik/artikel.php?aid=83965


Lawan politik SBY terus menggoyang

      Tanggal :  05 Jan 2010 
      Sumber :  Harian Terbit 



JAKARTA - Pakar komunikasi politik Universitas Indonesia Esa Unggul, M 
Jamiluddin Ritonga mengingatkan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
harus membaca 'permainan' yang dilakukan lawan-lawan politiknya. Bila tidak, 
kata Jamiluddin kepada Harian Terbit, Senin (4/1), bukan tidak mungkin Ketua 
Pembina Partai Demokrat tersebut harus lengser dari jabatannya seperti yang 
dialami KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) beberapa tahun silam. 

Letupan yang terjadi belakangan ini mulai dari kasus Cicak vs Buaya, skandal 
Bank Century dan terakhir Gurita Cikeas, kata Jamiluddin, adalah bagian usaha 
dari para lawan politik SBY untuk menjatuhkan yang bersangkutan dari kekuasaan.

"Jadi, lawan-lawan politik SBY bakal terus menggoyang pemerintahan dengan 
menciptakan kampanye busuk yang menggambarkan bahwa SBY-Budiono sebagai sosok 
rakus, tidak adil, dan hanya memikirkan kelompok atau orang dekat dia saja."

Sosok rakus, kata dia, digambarkan melalui buku Gurita Cikeas, sementara 
ketidakadilan digambarkan melalui isu Bank Century dan Cicak vs Buaya.

Kampanye busuk yang cenderung tendensius itu, lanjut dia, dimaksudkan agar 
rakyat, terutama para pendukungnya, tidak lagi mempercayai dengan duet 
SBY-Budiono. Kalau target ini sudah tercapai, para lawan politik SBY 
diperkirakan akan membeberkan lemahnya kinerja presiden dan wakil presiden. 
"Jadi, kondisi terjadi sekarang adalah ibarat bisul muda yang terus digoyang 
supaya matang dan siap pecah. Kondisi ini terus dijaga lawan-lawan politik SBY."

Untuk menangkat skenario busuk tersebut, kata dia, sebaiknya SBY tidak 
melayaninya dengan jalan balas mengeluarkan statemen atau sejenisnya tetapi 
bekerja untuk menuntaskan program yang telah disusun dalam usaha 
mensejahterakan rakyat sesuai dengan janji yang bersangkutan ketika kampanye 
pilpres lalu. 

Hal ini, kata Jamiluddin, perlu dijaga SBY karena rakyat Indonesia umumnya 
lebih percaya kepada bukti kerja, bukan jargon-jargon politik.

"Presiden SBY juga perlu melakukan konsolidasi terhadap koalisasi yang 
kelihatannya sekarang sudah tidak solid. Komitmen partai yang berkoalisasi, 
sebagaimana tertuang dalam kontrak politik, harus ditagih agar Pemerintahan SBY 
dapat berjalan efektif. "Sejak dilantik 20 Oktober lalu, belum terlihat kinerja 
Presiden SBY beserta para pembantunya kecuali sibuk menjawab berbagai tudingan 
yang diarahkan kepada mereka."

Sifat reaktif SBY, kata Jamiluddin, sebaiknya juga harus dikurangi, agar 
masyarakat tidak menilai Presiden tipikal yang emosional. Ketegaran harus 
ditunjukkan sehingga rakyat tetap yakin bahwa SBY dapat melindungi mereka. 

Hal ini perlu dilakukan SBY mengingat saat ini rakyat terombang-ambing oleh 
aneka isu yang saling kontradiktif.

Untuk mengklarifikasi semua tudingan minor, sebaiknya bukan dilakukan SBY, 
melainkan juru bicara presiden saja. "Dukungan penjelasan juga diperlukan dari 
partai-partai koalisasi agar rakyat mendapat gambaran tentang solid dan 
kokohnya Pemerintahan SBY - Budiono," demikian Jamiluddin. (akhir)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke