http://hariansib.com/?p=105281

  


Gempuran Produk China Bagaikan Hantu
Posted in Berita Utama by Redaksi on Januari 5th, 2010 
Jakarta (SIB)
Kebangkrutan menghantui pelaku usaha kecil dan menengah, khususnya industri 
kecil mulai dari bahan pangan, sandang dan obat-obatan. 'hantu' itu tidak lain 
produk China yang kian membanjiri dalam negeri terkait perdagangan bebas 
Asean-China yang sudah berlaku tahun ini.


Nyali para pedagang di Pasar Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, misalnya 
kian ciut. Pasalnya, sejak lima tahun terakhir ini saja produk China mulai 
pakaian termasuk pakaian dalam hingga elektronik sudah menggempur pasaran lokal.
Harga produk China yang jauh lebih murah dengan cepat menguasai pasaran lokal. 
Tak heran, kini produk dalam negeri menjadi terasing di negara sendiri. Sungguh 
ironis!


Ujung-ujungnya sejumlah pedagang mengeluh di tahun baru 2010 ini bukannya 
optimis penjualan bakal meningkat dibandaing tahun lalu. Justru sebaliknya, 
bayangan kebangkrutan sudah di depan mata. Apalagi jika pemerintah tutup mata 
atau tidak mampu berbuat banyak dalam membantu usaha kecil dan mikro dari 
ambang kehancuran. "Dimulainya perdagangan bebas se-ASEAN apalagi dari China, 
membuat kami makin kelimpungan dalam melanjutkan usaha," keluh Hidayat (40), 
pedagang pakaian dewasa dan anak-anak yang berjualan di lantai dasar blok BKS 
No 59.60 Pasar Cipulir, Kebayaroan Lama, Sabtu (2/1).


Jauh sebelum perdagangan bebas pun, Hidayat maupun pedagang lainnya di pasar 
ini sudah amat morat-marit agar bisa tetap berjualan. Apalagi produk pakaian 
China belakangan ini terus menjejali pasaran domestik dengan keunggulan harga 
lebih murah ketimbang produk lokal ditambah modelnya yang sangat variatif alias 
trendy.
separo harga


Memulai usaha sejak tahun 1991, Hidayat bersama bosnya memproduksi sendiri 
pakaian khususnya celana panjang jeans dan bahan untuk anak-anak dan dewasa. 
Untuk menghemat biaya, produk sengaja di buat di Pekalongan, Jawa tengah. Jika 
penjualan ramai seperti menjelang Idul Fitri, bisa seminggu dua kali barang 
dagangan itu dipasok dari Pekalongan. Jika hari biasa, minimal seminggu. Bahkan 
dua minggu sekali jika omset sedang melorot.
Di tokonya, ia tidak melayani eceran melainkan lusinan. Harga satu lusin celana 
jeans untuk anak-anak misalnya Rp 460 ribu/lusin dan untuk dewasa Rp 660 
ribu/lusin. Celana bahan ukuran dewasa berkisar Rp 600 ribu/lusin. Dibandingkan 
dengan produk buatan China, celana jeans anak-anak tersebut bisa dijual dengan 
harga Rp 360 ribu/lusin.


Dari penjualan celana bahan dewasa misalnya, Hidayat mengaku untung paling 
banter Rp 60 ribu/lusin. Pasalnya, selain sudah terbentur pada mahalnya ongkos 
jahit juga bahan material seperti kancing, resleting dan assesoris juga sudah 
membengkak. Upah jahit celana bahan dewasa Rp 12 ribu/potong plus modal bahan 
celana dan assesoris seluruhnya sudah Rp 540 ribu/lusin.


"Kami nggak berani ambil untung banyak, karena bisa jadi pelanggan kabur ke 
pedagang lain yang menjual harga lebih murah. Apalagi produk pakaian China 
makin menggurita saja," ucap Hidayat dengan nada getir, diamini sejumlah 
pedagang lainnya.
Kegelisahan juga dirasakan Azis, pedagang di Pasar Cipulir yang sejak tahun 
1990 memproduksi dan menjual kemeja pria dewasa. Bengkel kerjanya juga berpusat 
di Pekalongan, Jawa Tengah, sengaja demi menghemat biaya produksi. Ditokonya, 
ia melayani penjualan eceran dan lusinan. Satu kemeja pria tangan pendek Rp25 
ribu/potong dari modal sekitar Rp22.500/potong. Kemeja pria tangan pendek 
buatan China bisa dibawah Rp20 ribu/potong. "Gempuran pakaian produk China 
memang sangat membuat kami selaku pedagang kecil menjadi ketar-ketir," keluh 
Azis. "Nggak tahu nih apakah bisa bertahan atau nanti cukup jadi pedagang 
saja." 

pertahankan mutu
Terlepas dari itu, Hidayat menambahkan, pihaknya tetap berusaha menggaet 
pelanggannya agar tidak berpaling seratus persen ke produk China. Asalkan, mutu 
jahitan dan mutu bahan tetap dijaga. Kedua hal inilah yang menjadi kelemahan 
pakaian produk China. "Pakaian buatan China memang lebih murah dibanding buatan 
lokal. Tapi selama ini kualitas jahitan apalagi lebih bagus buatan kita," 
ujarnya bangga.


Di samping itu, pemerintah harus cepat bertindak meski memang tidak bisa 
berbuat banyak sebagai konsekuensi era perdagangan bebas tersebut. Kecuali 
gencar membina pedagang dan pelaku usaha kecil/mikro seperti penambahan modal 
dengan bunga rendah, peningkatan mutu produk serta pemasaran agar lebih dikenal 
masyarakat luas.
Syarat lainnya, pemerintah dan masyarakat agar mampu meningkatkan rasa cinta 
tanah air (nasionalisme) yang salah satunya cinta akan produk dalam negeri. 
Jangan tergiur dengan produk dalam negeri. Jangan tergiru dengan produk luar 
yang berbuntut menyengsarakan produk domestik. "Aku Cinta Produk Indonesia yang 
dulu pernah digembor-gemborkan saat Order Baru hendaknya kini mulai digalakkan 
kembali. Jangan hanya slogan oleh kalangan pejabat yang pada akhrinya tidak 
direspon positif oleh rakyatnya," tandas Hidayat.


Membanjirnya produk China tidak hanya di pasar tradisional, di sejumlah barang 
dari negeri Tirai Bambu ini makin menguasai pasar. Mulai dari sepatu, tas, 
pakaian, barang elektronik hingga pernak pernik lainnya yang menjadi incaran 
konsumen. Jika kondisi ini terus berlanjut, cepat atau lambat produk lokal 
bakal hancur menambah jumlah pengangguran dan menyesengsarakan rakyat.bagai 
hantu


"Pasar Bebas Asia tanpa pengawasan yang ketat bagaikan hantu bagi pedagang. 
Apalagi pemerintah tidak konsisten terhadap penegakan aturan sehingga akan 
menggilas produk dalam negeri," kata Jacky Sutiono, Ketua Paguyuban Pedagang 
Glodok.
Jacky menyadari sekalipun pasar bebas ini tidak bisa dibendung, tapi jika 
selektif barang impor dengan pengenaan peraturan masih bisa menyelamatkan 
perdagangan di Indonesia. Misalnya, meringankan pajak dan memberi kemudahan 
kepada pedagang di dalam negeri. Sekarang ini pemerintah masih memungut 
berbagai pajak kepada pemilik toko, PPN-PPH, pajak reklame, pajak iklan, pajak 
bumi dan bangunan, juga adanya retribusi.


"Kini adanya Pasar Bebas Asia, dikhawatirkan berakibat banyaknya produsen 
gulung tikar, pedagang kehilangan usahanya, pengangguran bertambah dan akhirnya 
tindak kriminal meningkat. Jika keamanan tidak menjamin orang tidak akan bisa 
berusaha dengan tenang, pedagang yang kuat akhirnya memilih eksodus ke luar 
negeri," jelasnya.
Sebelum pemberlakuan pasar bebas saja, omset penjualan barang di Glodok 
mengalami penurunan mencolok sampai 70 persen. Barang elekteronik China jauh 
lebih murah. Misalnya Hand Phone Black Barry buatan Jepang di atas Rp5 juta 
tapi ada buatan China cuma Rp 1 juta.


DVD player produk Jepang sekitar Rp 2 juta/unit, DVD China hanya Rp 200.000, 
LCD 32 inc buatan Jepang Rp 5 juta- Rp7 juta/unit, LCD 21 inc produk China Rp 
2,5 juta.
Ternyata produk China tidak hanya membanjiri dalam bentuk barang, pakaian, 
makanan, obat-obatan, tapi sudah masuk ke perbankan. "Sudah beberapa perbankan 
yang membuka usahanya di negara ini dengan mengambilalih usaha perbankan 
domestik. Jadi sudah merambah ke berbagai sektor. Tidak jelas, apa maksud 
pemerintah mengeluarkan kebijakan ini," ujar Jacky prihatin. (PK/n)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke