Refleksi : Kalau sang presiden mau bertemu harus pakai kurir dan diumumkan di 
surat khabar, padahal kedua-duanya beridam di satu kota, masing-masing punta 
telepon.  Lantas bagaimana  wong cilik bisa bertemu? Apakah harus diumumkan 
melalui TV? Hidup feodalisme!?

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=12885

2010-01-06 
Hasrat SBY Bertemu Mega



Hasrat Presiden SBY bertemu Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, tetap 
besar. Sumber SP di Jakarta, Rabu (6/1), menyatakan keinginan tersebut pernah 
disampaikan melalui suami Megawati, Taufiq Kiemas yang juga Ketua MPR dan Ketua 
Dewan Pertimbangan Pusat PDI-P.

Taufiq pernah menyampaikan keinginan SBY kepada salah satu politisi senior 
PDI-P agar diteruskan ke Megawati. "Mungkin Pak Taufiq sudah enggan 
menyampaikan hal itu secara langsung, karena Mbak Mega selalu menolaknya," 
ujarnya.

Sumber itu mengemukakan, SBY hanya meminta sedikit waktu saja untuk bertemu 
Megawati. Hal itu dilakukannya dalam upaya merangkul semua golongan agar 
bersama-sama menyukseskan periode kedua pemerintahannya. Tetapi sampai 
sekarang, Megawati belum memberikan jawaban, apakan menerima atau menolak 
bertemu SBY. "Tetapi jika melihat Mbak Mega yang selalu memegang prinsip, 
jawabannya pasti tidak. Bagi Mbak Mega, prinsip itu harus tetap dipegang," 
ujarnya.

Dia mengemukakan, terpilihnya Taufiq sebagai Ketua MPR yang juga didukung 
Partai Demokrat, diperkirakan akan menjadi jembatan komunikasi antara SBY dan 
Mega. "Tetapi kenyataan tidak demikian. Mbak Mega tetap tidak ingin bertemu 
dengan Pak SBY," katanya.

SBY dan Mega sempat bertemu saat mengambil nomor urut pasangan capres-cawapres 
dalam Pilpres 2009. Namun, tidak satu kata pun keluar dari mulut keduanya. 
Mereka hanya berbasa-basi saling berjabat tangan. Pertemuan lain terjadi saat 
debat capres, tetapi tetap saja tak ada komunikasi di antara mereka. [M-16]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke