Refleksi : Dilema dari selesma rezim kleptokratik?

http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=12891

2010-01-06 
Dilema Otonomi Daerah 2010


Robert Endi Jaweng

Tahun 2010 menjadi suatu tahapan krusial dalam perjalanan 
desentralisasi/otonomi daerah. Pada aras makro-kebijakan, inilah titik waktu 
bagi alih fase transisi ke konsolidasi desentralisasi, meski prosesnya bisa 
berjalan tak pasti, berliku. Sementara secara mikrostrategis, 2010 terbilang 
sebagai tahun efektif pertama Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, di mana 
otonomi dicek capaian 100 harinya, lalu ditetapkan langkah aksi satu hingga 
lima tahun ke depan. 

Ihwal isu makro, tantangan serius kita adalah masih macetnya desentralisasi di 
tataran elite. Sepanjang satu dasawarsa penerapannya, otonomi seakan hanya 
berisi urusan birokrasi/politisi, amat sarat agenda instrumentalis: kewenangan, 
pemekaran, pilkada, dan seterusnya. Faedah nyata bagi hidup rakyat masih serasa 
jauh panggang dari api. Hanya di sejumlah terbatas daerah, rakyat menikmati 
buah inovasi pelayanan publik dan peningkatan kinerja ekonomi.

Lihat saja manajemen fiskal pemda. Selain mal-administrasi pelaporan (status 
adverse dan disclaimer BPK), daerah belum juga berhasil mengurai masalah 
substantif terkait proporsi alokasi yang minim bagi belanja publik (rerata 25% 
dari total APBD) dan rendahnya daya serap anggaran sehingga di satu sisi kian 
mendistorsi porsi publik, pada sisi lain menggenjot pendapatan asli daerah 
(PAD) melalui bunga simpanan dana "nganggur" tersebut di perbankan (sertifikat 
BI).

Pada hal, ciri penanda bergesernya transisi ke konsolidasi tidak saja diukur 
dari selesainya penyesuaian aneka karakter regulasi desentralistik, tapi 
terutama justru pada beralihnya dominasi agenda instrumental-elitis menjadi 
substantif-publik. Tanpa terpenuhinya ciri ini, kita senantiasa berada di zona 
transisi permanen, tak bergerak ke mana-mana (involusi). Rakyat lalu makin 
sulit terintegrasi dalam sistem permainan yang ada, serta gagal merasakan 
faedah otda.


Dilema 2010

Dilemanya, saat ketika agenda substantif yang lebih kita butuhkan pada fase 
konsolidasi, justru sepanjang 2010 ini berjejal agenda instrumentalis. 
Sebagaimana pula yang menjadi prioritas Mendagri baru, kalender otonomi akan 
didominasi oleh pelaksanaan pilkada di 246 daerah, upaya penataan pemekaran, 
pengaturan peran provinsi, dan lain lain. Pemerintah jelas tak mau ambil resiko 
untuk tidak mengutamakan berbagai agenda tersebut.

Ihwal pemekaran, 2010 menjadi tahun penataan, baik di level kebijakan maupun 
kapasitas kinerja daerah baru. Kita tahu, selama ini mismanajemen kebijakan 
berlangsung merata pada setiap tahapan penting: di hulu belum ada desain dan 
peta jalan baru kebijakan, di tahapan proses terlihat lemahnya fasilitasi dan 
supervisi bagi DOB, dan di hilir belum kunjung dibuatnya evaluasi kinerja 
daerah hasil pemekaran. Mendagri menargetkan kelarnya evaluasi dan Grand Design 
itu masing-masing pada Maret dan Oktober 2010. 

Sementara itu, pelaksanaan pilkada tampaknya menjadi agenda otonomi paling 
rumit dan kritis tahun ini. Jika melihat carut-marut persiapannya, boleh jadi 
kita sedang memasuki status "darurat" pilkada. Sejumlah prasyarat bagi 
berlangsungnya suatu pemilu bermutu justru masih bermasalah, bahkan belum 
tersedia: regulasi operasional, manajemen kerja, institusi pengawasan, dukungan 
anggaran. Namun terlepas dari problem yang ada, pilkada tak boleh batal/mundur 
karena selang waktu tunda ke 2011 adalah opportunity cost besar bagi 
pembangunan daerah. 


Catatan Akhir

Kita seakan digiring ke pilihan yang serba pelik. Dari sisi resiko dan 
kepentingan subjektif, elite politik/pemerintah hampir pasti mengutamakan 
agenda instrumentalis. Pembuktian faedah otonomi bagi rakyat, dalam bentuk 
prioritas alokasi anggaran, pelayanan publik, lapangan kerja, bukanlah perkara 
pokok. Setidaknya, itu yang terjadi pada 203 daerah hasil pemekaran atau di 246 
daerah yang menyelenggarakan pilkada tahun ini.

Ketika tahun politik nasional (2009) berganti menjadi tahun politik lokal 
(2010), situasi tetap sama biasanya bagi rakyat. Negara yang terus sibuk dengan 
dirinya tentu tak banyak membantu kehidupan mereka; malah rakyatlah yang dibuat 
repot dengan berbagai agenda elite. Persoalan tiadanya jaminan kesehatan, 
pendidikan, infrastruktur dasar, lingkungan usaha kondusif, akan bertahan 
menjadi isu-isu lazim keseharian kita. 

Melihat semua itu, saya sendiri merasa sulit menerka rute baru pasca-transisi 
ini: berharap ke fase konsolidasi, meski tetap merasa cemas dengan jebakan 
lorong tiada ujung transisi, bahkan melangkah mundur ke titik berangkat 
(sentralisasi) lantaran desakan rakyat yang tak merasakan manfaat riil sistem 
baru ini. Suatu nota keras bagi kita, terutama para elite penyelenggara negara.

Penulis adalah Manajer Hubungan Eksternal KPPOD, Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke