Aku membuka dan mengintip ke dalam suatu kotak pandora, yakni diri sendiri. 

Embrio manusiawi hampir mirip dengan embrio ikan, kera, atau binatang lain, 
karena semua embrio terjadi dari telur ber-sel tunggal dan langkah demi langkah 
dibangun dengan terus membentuk sel2 baru.

Kesederhanaan struktur yang dengan segera berubah. 
Perkembangan yang semakin hari semakin maju dan lama kelamaan embrio itu 
menjadi suatu individu.

Pada permulaannya setiap embrio hanya mempunyai bagian2 sederhana, yang mutlak 
dibutuhkan untuk hidup terus. Kemudian pada waktu yang tepat, terbentuklah 
alat2 badan yang lebih kompleks strukturnya dan yang tentu saja merupakan 
semacam tingkat permulaan bagi bentuk2 lengkap yang terakhir.

Menurut suatu rencana teratur, sel2 disusun menjadi suatu tubuh manusia. Setiap 
jenis sel harus muncul pada waktu dan tempat yang tepat.



Kemudian aku melihat dia duduk di sana, di atas bebatuan yang runtuh. 
Kupandangi dia, dan dia balas memandang. Tampak berpikir sejenak, lalu berkata 
dengan suaranya yang tenang, manis, tapi menyebalkan.

"Kalau dipikir2, seluruh kehidupan ini sebenarnya hanya mimpi. Kalian manusia, 
adalah pemimpi yang hebat. Kalian bermimpi kalau kalian pintar. Kalian bermimpi 
kalau kalian penting. Kalian bermimpi kalau kalian istimewa. Yang pasti, kalian 
punya daya khayal yang tinggi. Kalian mempersenjatai diri untuk membela manusia 
terhadap berbagai bahaya yang dahsyat ; dan tahu2 semua orang memastikan bahwa 
manusia sedang menuju kesempurnaan. Kalian menugaskan diri menjaga perbatasan, 
antara hidup dan mati, dunia ini dan dunia berikutnya, siang dan malam, benar 
dan salah." Dia terkikik geli, "Tapi aku harus berterima kasih pada kalian."

Aku tercenung.
"Untuk apa ?" Aku bertanya ragu2.

"Aku tidak pernah menyadari betapa indahnya duniamu ini." Jawabnya, tertawa, 
"Kau tahu kan, kalian pada dasarnya suka bermimpi. Gambaranmu tentang dunia 
adalah sebuah panorama dan kau menjadi pusat perhatiannya, betul kan ? Luar 
biasa !" Suara tadi kini tertawa dengan nada keras dan dingin.

Aku refleks mengecamnya. 
"Menurut pendapatku, bukan salahmu juga kalau kau tumbuh menjadi seseorang yang 
begitu dingin dan tidak punya hati. Mungkin semua ini adalah kesalahan 
lingkunganmu. Mungkin kau tidak cukup mendapatkan perhatian. Sayangnya, hal2 
seperti itu selalu saja terjadi."

Ketawanya semakin keras. 

Malam tidak pernah sekelam ini. Kegelapan di mana2, terasa getir, dan tak 
berbintang.

Semua ini hanya mimpi. Mimpi dalam mimpi. Tidak ada yang bertahan lama. 
Semuanya akan berakhir. Yang bisa kita lakukan adalah belajar bermimpi. Tapi 
sudah terlambat untuk itu.

Apakah aku yang sesungguhnya benar2 ada ?
Apakah aku benar2 ada ?
Atau sebenarnya, hanya pikiranku yang bermimpi tentang aku ?

Aku berdiri, mengepalkan tangan, dan berteriak ke arah badai serta menumpahkan 
seluruh kemarahan yang ada dalam diri. Petir menyambar. Dua garis cahaya 
melintas, menyeberangi padang dan naik menuju awan, menggembalakan badai. Awan2 
panik dan berpencar. Gumpalan2 awan besar menggeliat dan berteriak di langit 
yang mendidih.

Mataku lekat menatap langit. Hujan tercurah. Kemudian badai bergulung menjauh, 
dengan bergemuruh.

Aku tidak yakin pikiranku yang mana yang sekarang bekerja. Aku lelah.
Aku merasakan kecepatan jiwaku.

Rasakanlah ! Lamat2 aku mendengar nasihat Hobbes. Sesuatu yang terpusat hanya 
pada diri ini berbicara banyak. Pada saat itu, seseorang sungguh menjadi diri 
yang riil, bukannya kesadaran palsu, yang tidak teralienasi dari pandangan2 
luar. 

Dan kemudian, seperti seseorang yang terbangun dari tidur di atas awan, aku 
merasakan kedalaman. Kedalaman waktu di masa2 sebelumnya. Aku merasakan bukit2 
bernafas. Aku mendengar rumput2 tumbuh.
Orang itu berusaha mencegah, tapi itu sama saja mencoba menghentikan waktu.

Rahasianya adalah jangan bermimpi. Rahasianya adalah tetap terjaga. Tetap 
terjaga itu terasa lebih berat.
Aku telah terjaga dan aku nyata. Aku tahu dari mana aku berasal, dan ke mana 
aku akan pergi. Aku tidak akan pernah lagi merasa setinggi langit, setua 
perbukitan, dan sekuat lautan.

Aku telah dianugerahi sesuatu untuk beberapa saat dan harga yang harus kubayar 
adalah mengembalikannya.
Dan imbalannya,....adalah mengembalikannya.

Tidak heran jika banyak orang suka bermimpi, karena tidak banyak yang sanggup 
untuk tetap terjaga, untuk melihat segala sesuatu sebagaimana mestinya. Kita 
bisa saja menghabiskan satu hari penuh dari waktu kita untuk memandangi dan 
mengagumi keindahan, dan tidak menyelesaikan tugas kita yang sesungguhnya. 
Mimpi2 yang mengaum.

Bukankah menurut Descartes, dalam segala2nya, manusia adalah kesadaran ; 
walaupun bagaimana ia hadir sebagai manusia, suatu keutuhan, bagaimana sampai 
disebut suatu diri, adalah sungguh misteri.

Manusia ditinggikan, tetapi tetap sendirian. Kalau ini harus diterima, manusia 
haruslah bebas, sehingga yang menjelaskan manusia tidak lagi akal melainkan 
seninya, dengan membawa keteraturan kepada chaos, yang tidak lagi dibimbing 
oleh alam. Ia yang menerima dirinya, menerima chaos dari kesan dan keinginan, 
sesuatu yang bahkan keutuhannya diragukan.
Ia tahu pasti di mana ia berada, siapa dia sebenarnya, dan apa ia sesungguhnya.



Dan karya seni manusia yang terbesar adalah dirinya sendiri.

Untuk itu, manusia patut mendapat penghargaan tertinggi, dan harus diperlakukan 
secara sangat terhormat dengan cinta yang mendalam, baik kepada pribadi sendiri 
dan pribadi orang lain.

Ini bukan mimpi. Ini adalah sebuah kenangan. Negeri yang di bawah gelombang. 
Negeri yang hidup. Negeri ini ada dalam tulang2ku. Aku ingat. 

Orang2 tersebut tidak memilih tugas2 itu. Ia diberi tugas itu. 


Aku melihat setitik cahaya, jauh di sana. Sebuah bintang. Rendah. Bergerak. 
Cahaya itu membesar dan datang berkelok2.
Sebuah cahaya yang berkilau dalam kegelapan.


Apakah suatu dunia dengan hidup manusia lebih baik daripada dunia tanpa hidup 
manusia ?
Dapatkah ras manusia akan selalu ada jika tindakan melahirkan, hanyalah suatu 
hal yang melulu merupakan refleksi rasional belaka ?

Nietzsche bahkan melihat bahwa kendati ketidakbahagiaan lebih umum daripada 
kebahagiaan, eksistensi hidup sungguh lebih baik daripada non-eksistensi. 

O... apakah manusia sehingga Engkau perhatikan ?






Kirim email ke