http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=13370

2010-01-28 
Ironi Kepemimpinan


Sonny Eli Zaluchu 

Masih segar dalam ingatan, peristiwa pelemparan sepatu oleh wartawan stasiun TV 
Al-Baghdadia, Muntazer al-Zaidi, kepada pemimpin dunia kala itu George Bush. 
Tepat satu tahun kemudian, di bulan yang sama, peristiwa itu berulang kepada 
pemimpin lain, Silvio Berlusconi, PM Italia. Bedanya, Berlusconi tidak mampu 
menghindar sehingga dilaporkan dua giginya rontok, hidung retak dan wajahnya 
bersimbah darah, akibat wajahnya dilempari patung dalam jarak sangat dekat oleh 
seorang pria yang ditengarai pernah menderita sakit jiwa. Kemudian yang 
terakhir di negara kita sendiri, di tengah sidang Pansus Century yang sedang 
meminta keterangan Wakil Presiden Boediono, orang nomor dua di Indonesia ini 
diteriaki maling oleh seorang aktivis dari atas balkon. 

Seolah menjadi sebuah tren perilaku, kekecewaan kepada pemimpin telah mengalami 
pergeseran bentuk aktualisasi dalam ruang publik. Pemimpin bukan lagi sosok 
sakral yang untouchable. Terlebih, jika pemimpin tersebut memiliki celah di 
dalam dirinya, maka tinggal menunggu waktu untuk dipermalukan oleh seseorang. 
Menarik untuk disimak, apakah yang menyebabkan peristiwa semacam itu harus 
dialami oleh seorang pemimpin politik?


Berawal Dari Kekecewaan

Berbagai peristiwa yang bersifat menyerang atau mempermalukan pemimpin, 
sebetulnya tidak jauh melenceng dari apa yang disebut dengan aktualisasi 
kekecewaan. Bukan kepada mereka secara pribadi, lebih mengarah pada kapasitas 
di mana mereka mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin. Sebetulnya, dalam 
tingkat yang paling rendah, para mahasiswa yang menghadiahi para pejabat 
politik kita dengan - maaf - kutang dan pakaian dalam wanita, juga 
merepresentasikan kekecewaan mereka terhadap pemimpin yang dianggap gagal 
mengemban tugasnya. Celakanya, para pemimpin kita justru menepuk dada 
menyatakan dirinya berhasil dan tidak melakukan introspeksi.

Ketika pemimpin yang menerima mandat dari rakyat berubah mengecewakan, menjadi 
otoriter, bahkan tidak becus dalam menjalankan kepemimpinannya, dirinya pasti 
akan menghadapi berbagai bentuk ungkapan kekecewaan. Apabila jalan formal sudah 
buntu, dan protes sudah tidak didengarkan, maka tindakan "mempermalukan" 
menjadi pilihan terbaik. 

Menjadi seorang pemimpin bukanlah sekadar tampil di puncak kekuasaan lalu 
beretorika dengan pidato yang memukau dengan penampilan yang elegan. Juga tidak 
dibutuhkan silat lidah dalam merespon sebuah permasalahan dan melemparkan 
tanggung jawab kepada pihak lain. Atau mengulang-ulang kata "lupa" saat 
seharusnya memberi pertanggung-jawaban publik seperti yang kita dengarkan dalam 
beberapa pertemuan Pansus Century. Seorang pemimpin punya integritas moral yang 
bukan saja dinilai oleh UU atau produk hukum lainnya tetapi oleh masyarakat 
luas. Itu sebabnya seorang pemimpin perlu menjaga kepercayaan publik dan jangan 
sampai mengecewakan mereka.

Sejujurnya, tindakan mempermalukan adalah ungkapan protes yang telah mengalami 
metamorfosis. Unjuk rasa dan demonstrasi sebagai ungkapan ketidakpuasan 
kontemporer, tak lagi populer karena ternyata tidak membawa hasil yang 
signifikan mempertobatkan seorang pemimpin. Efek publisitasnya kurang menggigit 
karena kegiatan tersebut biasa terjadi, berada pada titik jenuh dan tidak lagi 
mampu menghasilkan kejutan yang membetot perhatian publik (public shock 
effect). Sementara itu, aspirasi yang diperjuangkan dalam berbagai demo, tidak 
pernah mendapat perhatian atau tanggapan penguasa. Akibatnya, kekecewaan 
terhadap pemimpin semakin terakumulasi dan mengarah pada ketidakpercayaan. Maka 
tidak mengherankan, pengungkapan kekecewaan itu berwujud pada perilaku untuk 
mempermalukan di ruang publik. Pengalaman Bush, Berlusconi, Boediono adalah 
contoh konkretnya.

Menyadari betapa pentingnya aspek kepercayaan yang harus dipelihara oleh 
seorang pemimpin, menyadarkan kita bahwa kepemimpinan tidak hanya butuh azas 
legal formal, berupa pengesahan hukum ataupun legitimasi politik atas kekuasaan 
atau kepemimpinannya. Juga bukan karena dukungan mayoritas di parlemen. 
Mengandalkan itu saja dalam situasi dimana rakyat mulai sadar akan hak-haknya 
dan aktif dalam perjuangan sipil bahkan berani mengkritisi pemerintah, tidaklah 
cukup. Dibutuhkan yang namanya legitimasi kepercayaan publik. Ini yang paling 
susah diperoleh dan dipelihara. Semula publik bisa menjadi pendukung utama. 
Tetapi seiring waktu di mana mereka menjumpai banyak pelanggaran, kekecewaan, 
ketidakpastian hukum dan merasa dipermainkan bahkan diperbodoh, legitimasi itu 
dapat saja terkikis bahkan ditarik kembali. Tanpanya, seorang pemimpin hanya 
akan memimpin secara de jure! Masyarakat akan melawannya di setiap kesempatan 
yang mereka miliki.

Coba cermati perilaku para pemimpin yang gagal. Kecenderungan mereka adalah 
otoriter, lamban memberi reaksi kepada tuntutan publik, tetapi cepat memberi 
tanggapan jika hal itu menyangkut diri atau kroninya. Pemimpin yang gagal, 
sebetulnya dinilai dari pengaruhnya yang semakin berkurang. Orang mulai enggan 
mengikutinya dan melorot popularitasnya. Dalam bentuknya yang paling sederhana, 
ketika seorang pemimpin mulai menuai goncangan, dipertanyakan kredibilitasnya 
dalam berbagai forum dan orang mulai berani mengritiknya secara terbuka, bahkan 
melemparinya dengan sesuatu untuk mempermalukan. Itulah tanda awal dimana 
dirinya telah kehilangan legitimasi publik dan tinggal menunggu waktu 
dimakzulkan.

Kepercayaan publik adalah sebuah wilayah tak terlihat tetapi potensial 
menguatkan atau melemahkan kredibilitas seorang pemimpin. Maka seorang pemimpin 
seharusnya memegang teguh azas kepercayaan publik.


Stigma Rakyat

Mempertahankan kepercayaan publik adalah tanggung jawab seorang pemimpin. 
Dirinya dipilih bukan oleh parlemen atau mesin politik lainnya, tetapi melalui 
mekanisme pemilu di mana rakyat menyumbangkan suaranya. Jika dirinya sampai 
terpilih menjadi pemimpin, maka pertanggungjawaban kepemimpinannya adalah 
dihadapan rakyat. Dikatakan, pemimpin tersebut memiliki stigma rakyat.

Kata stigma artinya tanda. Dari sana kemudian muncul istilah stigmata. Pertama 
kali diperkenalkan secara sekular oleh Alexander Agung. Pada waktu pemimpin 
besar ini memilih sekelompok serdadu elite-nya, mereka dipilih atas kehebatan 
militernya dalam berbagai pertempuran hidup-mati. Sehingga, melalui sebuah 
upacara kehormatan, Alexander Agung menandai mereka dengan huruf A, tepat di 
dada, menggunakan stempel besi merah membara yang sudah dipanaskan. Cap A pada 
tiap serdadu terpilih, melekat seumur hidup dan menjelaskan bahwa mereka adalah 
milik Alexander. Jika serdadu yang ditandai ini melakukan kesalahan, dirinya 
akan mempertanggungjawabkannya pada Alexander sebagai pemilik.

Demikian halnya pemimpin yang dipilih oleh rakyat. Stigma rakyat melekat di 
dalam dirinya, hatinya, pikirannya bahkan hidupnya. Inilah yang disebut modal 
terbesar seorang pemimpin yang lahir dan dipilih oleh rakyat. 

Masalah besar akan muncul manakala sang pemimpin justru berbalik melukai rakyat 
yang memilihnya ketika gagal mengatasi sejumlah persoalan kebangsaan yang 
sebetulnya begitu mudahnya dilakukan. Jika hal demikian terjadi, publik tidak 
segan melakukan tindakan melawan atau mempermalukan pemimpinnya. 

Sebuah kepemimpinan berubah menjadi ironi jika ternyata melahirkan kekecewaan, 
kritik yang terus-menerus dan dianggap pengkhianat oleh orang-orang yang pernah 
memilihnya. Kalau tidak segera memperbaiki diri, akan lahir gerakan 
pembangkangan sipil yang menurunkan para pemimpin seperti itu. Semoga hal ini 
tidak dialami oleh pemimpin negara ini. 

Penulis adalah pengkaji teologi politik


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke