----- Forwarded Message ----
From: Lestari Alamkoe
Subject: Dengarkan Candi-candi Bicara...
Lestari Alamkoe (bagusfathi).
Dengarkan Candi-candi Bicara... Feb 1, '10 9:29 AM
for everyone
Biarkan candi-candi itu bicara. Maka mereka tidak
sekadar menjadi panji-panji yang membawa kita pada mitos
dan mistisisme. Ada kebijaksanaan yang
akan mereka bisikkan dari sana.
Candi-candi itu bertutur tentang tata ruang. Melihat
sebagian candi di Jawa Tengah seperti Gedongsongo, Cetho,
Sukuh, Ratu Boko, dan Dieng, jangan
kaget kalau ada keteraturan dalam
ruang di situ. Batu-batu itu tidak
tersusun begitu saja di lokasi yang dipilih asal-asalan,
tetapi merupakan hasil dari keteraturan yang tersebar.
âKalau dari konsep arsitektur
modern, ordering system itu
membuktikan kalau ada religi dari pelakunya,â kata
arsitek Andy Siswanto.
Sistem keteraturan yang dipegang teguh ini berhubungan
dengan kepercayaan tentang pencapaian nirwana.
Nilai-nilai religi tersebut
dimanifestasikan dalam candi.
Seakan hendak meniru perjalanan ritual manusia menuju
kesempurnaan, candi adalah hasil imajinasi kreatif
tentang nirwana. Dan memang, ketika kabut
turun, undak-undakan candi itu
pun seperti menjadi sebuah negeri
di awan.
Hasil dari kebijaksanaan masa lalu ini hadir dalam
karya-karya estetis yang terintegrasi dengan alam. Candi
Gedongsongo, misalnya, terdiri dari
lima kelompok candi yang
dibangun mengikuti kontur lereng Gunung Ungaran dan
menghasilkan jalur berbentuk tapal kuda pada ketinggian
1.300 meter. Masing-masing kelompok
terdiri dari satu hingga tiga candi
kecil yang konon dibangun pada abad
ke-7 ketika wangsa Syailendra berkuasa.
Berjalan kaki dari kelompok candi yang satu, walau harus
ngos-ngosan karena menanjak, hati tenang karena
ditemani hutan pinus dan ladang
penduduk. Di tengah perjalanan yang
mendadak menurun, ada kawahâyang menurut
kepercayaan penduduk setempat mengeluarkan napas Rahwanaâserta
sumber air. Setelah itu, jalan kembali
menanjak menuju akhir
perjalanan, yaitu kelompok candi kelima yang duduk
di pangkuan Gunung Ungaran.
Semakin sepi
Rasanya, perjalanan dengan jalan setapak Candi
Gedongsongo membawa kita semakin ke atas, semakin sepi,
dan semakin sendiri. âAda rangkaian
ritual perjalanan untuk menangkap
fenomena jagat raya,â kata Niken
Wirasanti, staf pengajar Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pola serupa terjadi di Candi Dieng. Kompleks candi yang
terletak di basinâcekungan sisa kawahâini merupakan
kompleks bangunan Hindu tertua di Jawa
Tengah. Percandian Dieng yang
terdiri dari Candi Semar, Arjuna,
Srikandi, Gatotkaca, Puntadewa, dan Bima ini tersebar di
dalam cekungan pada ketinggian 2.100 meter. Kompleks
candi yang terpencar-pencar ini
dikelilingi perbukitan yang
membuat kita merasa berdiri di dasar sebuah mangkok.
Padang rumput yang luas diselingi ladang kentang dan
perkebunan penduduk, berpusat pada Candi
Arjuna yang terletak di
tengah-tengah, dan menjadi pusat perjalanan
spiritual yang dilingkari bukit.
Walau sekilas terlihat acak, ada pola yang berhubungan
dengan kondisi tanah di basin Dieng ini. Konon, pihak
pembangunâdeveloper kalau mengikuti
istilah saat iniâkala itu harus
melakukan uji kelayakan tanah dulu sebelum
membuat sebuah bangunan yang dirancang berusia ratusan
tahun. Caranya dengan membuat sebuah lobang, lalu
diisi dengan air. Selang
beberapa saat, dilihat bagaimana
rembesan airnya. Semakin sempit rembesannya, berarti
semakin padat tanah tersebut.
âCandi Dieng dibangun dengan sebelumnya diteliti seperti
itu. Bayangkan bagaimana orang pada waktu itu mencari
lokasi yang sangat spesifik sesuai
rangkaian ritual dan
syarat-syaratnya,â kata Gutomo, staf Balai Pelestarian
Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Belakangan,
baru ditemukan bahwa tanah tempat
candi-candi itu berdiri, terutama
di kompleks candi utama di tengah
basin, yaitu Candi Arjuna, adalah golongan tanah breksi
vulkanik yang sangat keras, berbeda dengan jenis tanah
di sekitarnya.
Prinsip keteraturan memang menjadi dasar sejak titik
awal, yaitu pemilihan lokasi. Ketinggian dan
ketersediaan air menjadi salah satu syarat utama
pembangunan candi-candi penyembahan.
Keberadaan candi-candi itu di
tempat yang tinggi, didasarkan pada
kepercayaan pra-Hindu yang menganggap roh-roh leluhur
tinggal di gunung.
Sementara kedekatan dengan sumber air juga merupakan
keharusan karena air adalah salah satu elemen terpenting
dari sebuah upacara. Bahwa kebanyakan
candi menghadap ke timur dan
barat juga berkaitan dengan perjalanan hidup
yang dimulai dari kelahiran dan kematian. âCandi itu
sangat struktural, lihat saja sumbu-sumbunya yang
berhubungan dengan kosmik,â kata
Andy.
Pemilihan tempat juga mempertimbangkan gejala alam,
seperti suhu, nuansa pagi dan malam, kabut dan kawah
gunung berapi yang membawa manusia ke sebuah
penjelmaan dari nirwana itu
sendiri. Sebut saja misalnya Candi
Sukuh (970 meter) dan Candi Cetho (1.400 meter),
keduanya di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar.
Jalan menanjak dan berkelok-kelok harus
ditempuh sebelum tiba di kedua
candi ini. Efek matahari terbit dan
tenggelam pada candi yang terbentang searah timur-barat
ini, ditambah dengan latar tubuh gunung yang
menjulang di belakangnya,
menciptakan suasana yang magis dan
misterius.
Undakan-undakan yang merupakan bangunan utama candi
membawa peziarah naik ke âatasâ. âItulah lambang langit
sebagai dunia atas yang dihuni zat
spiritual yang dipahami sebagai
tujuan hidup manusia,â kata Niken.
Selain tata ruangnya, masing-masing ornamen pada tiap
candi dengan terperinci merujuk pada makna tertentu.
Setiap simbol, sekecil apa pun, adalah bagian
dari sebuah narasi besar yang
dirancang sejak awal untuk menjadi
âjiwaâ candi tersebut. Candi Sukuh dan Candi
Cetho, misalnya, banyak memiliki beragam hiasan yang
menggambarkan kesuburan manusia. Hadirnya lingga dan
yoni, rahim, hingga alat kelamin dibuat
sebagai ornamen yang merujuk
pada proses hidup manusia.
Kecanggihan lainnya, struktur candi juga mengakomodasi
kondisi alam Indonesia yang beriklim tropis dan banyak
gempa. Struktur batuan candi
yang disusun tanpa perekat
menggunakan hukum gravitasi, yaitu menggunakan sistem
batu pengunci. Salah satu keunggulannya, karena
sambungannya tidak solid, bangunan ini elastis
dan relatif tahan gempa. Gutomo
dari BP3 juga bercerita, telah
diteliti bahwa pencahayaan yang sengaja minim dan
sirkulasi udara dari empat penjuru lubang di atap
menjadikan candi sebagai tempat semadi.
Pola alam
Apa yang terlihat acak dalam konsep ruang candi
sebenarnya membentuk pola keteraturan yang mengikuti
pola alam. Ruang sekitar menjadi unsur
figuratif dari sebuah bangunan. Ini
yang dalam perspektif arsitektur
modern disebut dengan environmental design, yang dengan
rasional mempertimbangkan aspek lingkungan.
Setidaknya ini bisa menjadi cermin tata ruang perkotaan,
yang tentunya tidak bisa langsung diperbandingkan
karena memiliki religi yang
berbeda. Ketika nirwana digantikan
oleh kebutuhan ekonomi sebuah rancangan, menjadi
pertanyaan besar apakah rencana ruang kota dapat
menjawab kebutuhan yang baru tersebut.
Banyak unsur utama arsitektur modern kota besar seperti
estetika dan efisiensi yang tidak mampu terpenuhi,â
kata Andy merujuk pada contoh
kasus kawasan Sudirman-Thamrin.
Ruang sekadar menjadi sisa yang tidak terdefinisi dari
beton-beton yang dihunjamkan sebagai gedung. Inilah
wajah âcandi-candi modernâ paling
gampangnya bisa dilihat di âpusat
peradaban mutakhir Indonesiaâ, yaitu
sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin.
Arsitek Marco Kusumawijaya bercerita tentang proyek
âMembayangkan Jakartaâ, yang menemukan bahwa daerah
Sudirman-Thamrin itu tidak memiliki fungsi
hunian yang menimbulkan
kehidupan. Yang ada hanya kantor dan kantor
lagi. Sementara sebuah contoh kasus menyebutkan, dari 91
orang yang bekerja di sebuah gedung di
Jalan Sudirman, hanya satu
orang yang tinggal di sana. Yang lain, ya
selamat terjebak kemacetan.
Ketika masyarakat modern mengalami kegagapan dalam
mendefinisikan kebutuhan lewat kecanggihan ilmu
pengetahuan modern, dengarlah sebentar, ada
bisikan dari masa lalu...
Edna C Pattisina & dahono fitrianto
Sumber: http://kompas.com/kompas-cetak/0601/08/kehidupan/2352534.htm
[Non-text portions of this message have been removed]