Refleksi : Mungkin untuk mencegah pasir melekat di badan, rambut, masuk hidung 
harus pakai burkha :-)

http://regional.kompas.com/read/2010/02/01/21442488/Waduh..Badai.Pasir.Terjang.Pantai.Kuta.Bali


Waduh, Badai Pasir Terjang Pantai Kuta Bali

Senin, 1 Februari 2010 | 21:44 WIB
DENPASAR, KOMPAS.com - Aktivitas di pantai Kuta, Bali terganggu badai pasir 
dari angin barat yang cukup kencang, bahkan pasir putih itu sampai menutupi 
ruas jalan raya Kuta. 

"Sekarang anginnya kencang sekali, sejak tadi pagi kami sudah melihat 
penghadang ombak berupa batu besar yang ada di depan Hotel Kartika Plaza sampai 
hancur," Kata Ketua Satgas Pantai Kuta I Gusti Ngurah Tresna di Kuta, Bali, 
Senin (1/2/2010). 

Hancurnya batu penghadang ombak seberat mencapai satu ton membuat pihak Kartika 
Plaza mendatangi satgas pantai dan minta membantu menangani masalah tersebut. 

Petugas kemudian meminjam loader (pengangkut sampah) milik Dinas Kebersihan dan 
Pertamanan Badung untuk menimbun kembali puing-puing kerusakan batu penghadang 
ombak. 

"Kami sudah didatangi pihak Hotel Kartika Plaza, dan kami mengatakan untuk 
menangani itu harus orang yang ahli di bidangnya," katanya. 

Apalagi satgas menilai, yang memiliki proyek dan urusan untuk menangani 
kerusakan penghadang ombak adalah pihak Pemerintah Provinsi Bali. 

Dari delapan batu seberat kurang lebih satu ton itu, enam batu penghadang ombak 
rusak dihantam abrasi, sehingga mengancam daratan. 

"Kami sudah hubungi Pak Rai Yusa yang menanggani reklamasi pantai itu untuk 
membantu menanganinya. Kalau tidak diperbaiki nanti pasir itu tergerus 
semuanya," kata Ngurah Tresna. 

Sementara itu, pimpinan proyek Pekerjaan Umum Bali Rai Yusa mengatakan 
kerusakan batu tersebut akan dikoordinasikan dengan tim penanganan abrasi. 

"Untuk batu yang hancur, kami akan koordinasikan dulu dengan tim kami yang 
mengurusi abrasi," katanya. 

Dilihat dari sketsa kasarnya, batu tersebut akan dikumpulkan dulu 
puing-puingnya, dan akan dicoba dirapatkan untuk sementara. 

Sebab, jika tim memaksakan bekerja saat angin barat masih terjadi, itu akan 
merugikan. "Kalau dipaksakan untuk mengerjakan itu, akan sia-sia," kata Rai 
Yusa. 

Saat ini yang bisa dikerjakan tim, terus memonitor. "Monitoring tidak bisa 
dilakukan dengan terburu-buru. Perlu waktu satu sampai dua tahun," katanya.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke