http://www.sinarhar apan.co.id/ cetak-sinar/ berita/read/ presiden- lebih-baik- respons-tuntutan -rakyat/ Rabu, 03 Pebruari 2010 13:57 Tanggapi Demo Presiden Lebih Baik Respons Tuntutan Rakyat OLEH: TUTUT HERLINA/ NINUK CUCU SUWANTI Jakarta – Kecaman yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap unjuk rasa belakangan ini dinilai sangat berlebihan. Sebaliknya, munculnya berbagai simbol aksi, seperti kerbau, merupakan reaksi dari ketidakpekaan para penguasa terhadap tuntutan rakyat. Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ari Dwipayana mengungkapkan hal tersebut ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (3/2). Ia menanggapi pernyataan Yudhoyono yang tersinggung dengan simbol kerbau yang dipertontonkan oleh pengunjuk rasa dari Gerakan Pemuda Cinta Tanah Air di Bundaran Hotel Indonesia (HI) beberapa waktu lalu. Di tubuh kerbau tersebut tertulis kata Si BuaYa yang kemudian dianalogikan sebagai SBY. Presiden bahkan menilai unjuk rasa itu telah menodai nilai-nilai demokrasi Pancasila karena tidak lagi menggunakan sopan santun. “Dia (Presiden) sangat berlebihan. Simbol dalam aksi itu adalah reaksi atas tindakan rezim terhadap aspirasi rakyat. Setiap masyarakat yang aspirasinya tidak tersampaikan pasti akan muncul reaksi yang lebih kuat lagi. Jadi, seharusnya Presiden merespons tuntutan itu bukan lantas mengancam,” kata Ari. Menurutnya, sebagai seorang pemimpin negara yang bersumpah mengabdi pada rakyat, Yudhoyono seharusnya memahami aspirasi yang muncul di masyarakat sebagai sebuah kritikan. Presiden tidak selayaknya menganggap kritikan tersebut sebagai sebuah ancaman. Sebaliknya, justru melalui kritik yang dilakukan oleh masyarakat tersebut mekanisme koreksi dalam sistem demokrasi menjadi lebih nyata. “Sebenarnya yang tidak pancasilais itu justru para elite politik karena tidak peka dengan rakyatnya. Kalau dia (Presiden SBY) bicara soal sopan santun, seharusnya dia sudah bisa memberikan sanksi kepada kadernya, Ruhut Sitompul, anggota DPR dan anggota Pansus dari Partai Demokrat yang jelas-jelas tidak menunjukkan etika moral dalam Pansus,” paparnya. Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens menambahkan, Yudhoyono saat ini mencoba menggunakan tameng demokrasi untuk menutupi aura militerisme. Sikap militeristik tersebut digunakan untuk melakukan represi terhadap para pengunjuk rasa. Sebagai seorang presiden, Yudhoyono seharusnya tidak dengan mudah memberikan komentar atas metode atau simbol-simbol yang digunakan dalam demonstrasi. Jika konsisten pada demokrasi Pancasila, Yudhoyono seharusnya telah menjawab persoalan substansi terkait kasus Bank Century. “SBY harus mengoreksi diri sendiri. Jangan sampai buruk muka cermin di belah. Kalau yang buruk objeknya, ya objeknya yang diperbarui, bukan cerminnya yang dirusak,” katanya. Sementara itu, koordinator Gerakan Pemuda Cinta Tanah Air Josep Rizal yang dihubungi secara terpisah menjelaskan, kerbau yang diusung dalam aksi beberapa waktu lalu merupakan sebuah simbol yang memiliki banyak makna, tergantung pada penafsiran masing-masing pihak. “Mungkin SBY memaknai dirinya itu seperti kerbau yang gemuk, lamban. Itu SBY memahaminya. Mungkin orang lain ada yang memaknai lain, atau mungkin sama dengan SBY,” paparnya. Karena itu, ia pun siang ini kembali melakukan Demo Kerbau Jilid II di Bundaran HI dengan membawa satu kerbau. Temanya, SileBay, Kebo Cengeng. Kamis, 04/02/2010 07:58 WIB Mengintip Istana Presiden Cipanas Anwar Khumaini - detikNews Jakarta - Siapa yang tidak kenal Istana Presiden Cipanas? Bangunan eksotik peninggalan Belanda itu kini masih kokoh meski dimakan zaman. Pesona gedung yang terletak di Jalan Raya Cipanas, Cianjur, ini tetap terjaga. Ada beberapa bangunan yang terletak di Istana Cipanas. Dari sekitar 17 bangunan yang ada, terdapat sebuah bangunan utama yang menghadap ke jalan raya yang disebut Gedung Induk. Selain bangunan induk, terdapat beberapa bangunan yang berupa paviliun yang diberi nama Paviliun Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Abimanyu, Antasena, dan Tumaritis. "Dari beberapa paviliun tersebut, ada paviliun yang bukan peninggalan Belanda, seperti Paviliun Nakula dan Sadewa," kata salah seorang karyawan Istana Cipanas, Kusnadi, di kompleks Istana Cipanas, Rabu (3/2/2010). Selain itu, ada beberapa bangunan penunjang lainnya seperti rumah bunga, kolam renang, kolam pancing, gedung bentol, rumah pemandian air panas I dan II, gedung kantor, masjid, museum dan perpustakaan. "Bangunan-bangunan tersebut sebagian juga bukan peninggalan Belanda," kata Kusnadi. Istana Cipanas yang dibangun sekitar tahun 1700-an ini memiliki luas sekitar 26 hektare. Didominasi oleh rerumputan hijau di atas tanah berkontur, istana ini juga dipenuhi oleh hutan lindung yang asri, rimbun dan indah. Tak cuma itu, aliran sungai kecil yang jernih disertai dengan gemercik air yang riuh, menjadikan istana ini sangat sayang untuk tidak dikunjungi. Istana Cipanas dibangun oleh Gubernur Jenderal Gustaaf William Baron Van Imhoff. Ide pembangunan muncul bermula saat ditemukannya suhu air bersuhu 43 derajat Celcius yang mengandung zat belerang dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dari luas tanah 26 hektare, cuma 8.000 meter persegi saja yang berbentuk bangunan. Sisanya merupakan padang rumput, tanaman hias serta hutan lindung. Pada masa pemerintahan Belanda, Istana Cipanas dipakai untuk peristirahatan para Gubernur Jenderal, seperti Gustaaf William, Andreas Cornelis de Graaff, Bonafacius Cornelis de Jonge dan Tjarda Van Starkenborgh. Pada masa pemerintahan Jepang, Istana Cipanas dipakai untuk tempat peristirahatan para pembesar Jepang yang sedang melakukan perjalanan ke Bandung dari Jakarta dan sebaliknya. Saat masa kemerdekaan, Istana Cipanas tetap digunakan sebagai tempat peristirahatan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarga. Peristiwa Bersejarah Meski digunakan untuk tempat peristirahatan, namun pada kenyataanya Istana Cipanas sering dijadikan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan politik, ekonomi dan hubungan antar bangsa. Pada 13 Desember 1965, ruang Gedung Induk menjadi tempat sidang kabinet yang dipimpin oleh Presiden Soekarno untuk menetapkan mata uang dari Rp 1.000 menjadi Rp 1 yang dikenal dengan istilah Saneering. Kegiatan lain adalah pada 17 April 1993 Presiden Soeharto menjadi penengah diplomasi antara pemerintah Filipina dan gerilyawan muslim Moro yang dipimpin oleh Nur Misuari. Perundingan tersebut dipimpin oleh mantan Menlu Ali Alatas. Pada 16 Juni 2005, Istana Cipanas menjadi tempat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Dalam kesempatan ini, Presiden SBY memberikan Piala Adipura dan Kalpataru kepada para tokoh masyarakat dan para pejabat daerah. Dan, pada 1-3 Februari 2010, Istana Cipanas kembali dipakai untuk acara rapat kerja Presiden, para menteri serta para gubernur se-Indonesia. Istana Cipanas kembali jadi perbincangan, lantaran di tempat ini, SBY curhat tentang ulah para demonstran yang mengumpamakan SBY dengan kerbau. SBY pun menyentil demonstran itu. Namun pro dan kontra kembali muncul karena sebagai kepala negara dan pemerintahan, SBY dianggap tak usah menaggapi hal-hal yang tak substansial. Mau berkunjung ke Istana Cipanas? Anda harus mengajukan surat permohonan kepada Kepala Rumah Tangga Presiden. Waktu berkunjung tiap Senin sampai Jumat mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Khusus hari Jumat, waktu berkunjung dilanjutkan hingga pukul 16.00 WIB. (anw/lrn) [Non-text portions of this message have been removed]

