http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010020500164715
Jum'at, 5 Februari 2010
BURAS
'Onbeschop', Foto Presiden Diinjak!
H. Bambang Eka Wijaya
DI coffee shop sebuah hotel Jakarta, seorang bule memakai t-shirt
bersulam kincir angin di dada kiri menonton televisi yang menghadap ke arahnya.
"Onbeschop!" entaknya melihat tayangan berita, lalu beranjak dengan wajah
tak nyaman!
"Kenapa si bule ngacir sewot seperti disengat lebah?" tukas Umar. "Apa
arti ucapannya tadi?"
"Entah!" jawab Amir. "Tapi lihat berita di televisi, ternyata si bule
gerah melihat tayangan foto presiden dan wakil presiden--pasangan
SBY-Boediono--diinjak-injak demonstran!"
"Apa ruginya dia, harus sewot?" timpal Umar. "Kita saja yang empunya itu
presiden tak begitu!"
"Tunggu dulu!" entak Amir. "Kita yang setiap hari melahap berita seperti
itu jadi imun, tidak merasa aneh! Logika kita sudah kebas, mati rasa! Beda
dengan si bule yang pertama melihat foto kepala negara diinjak-injak, sukar
diterima logikanya!"
"Dia sewot mungkin karena kecewa pada dirinya, salah memilih negeri
tujuan wisata!" timpal Umar. "Semula dia pilih Indonesia karena promosi tradisi
peradabannya adiluhung--par excellences! Sampai di sini ia menemukan
sebaliknya, peradaban yang amat rendah, demokrasi tanpa etika! Bagi bule yang
lebih dulu mengenal demokrasi, terjebak situasi seburuk itu serasa kecemplung
sumur!"
"Maka itu, kita yang harus introspeksi total!" tegas Amir. "Kalau warga
asing saja tak nyaman melihat foto kepala negara dari negeri yang dia kunjungi
diinjak-injak, masak kita warga negaranya sendiri terlalu bebal untuk bisa
menyadari hal itu sebagai perbuatan amat buruk, berdemokrasi tanpa etika! Belum
lagi jika mengingat dwitunggal pemimpin bangsa itu merupakan lambang negara!"
"Selain itu, saudara-saudara sebangsa kita, terutama demonstran, juga
perlu diingatkan untuk menjunjung asas praduga tak bersalah!" timpal Umar.
"Untuk itu, spanduk, poster, foto, dan happening art dalam demo harus dijaga
proporsinya pada sifat karikatural, bukan vonis, apalagi mengeksekusi! Jika
dalam perjuangan kita tidak menghormati prinsip-prinsip hukum yang mendasar,
apalagi dengan sengaja melanggarnya, usaha menciptakan masa depan bangsa lebih
baik akan sia-sia, sebab pada saat yang sama kita rusak sendiri dasarnya secara
lebih buruk lagi!"
"Namun demikian, kalangan penguasa juga perlu diingatkan, demokrasi itu
proses interaksi!" tegas Amir. "Artinya, jika demo dengan cara-cara elegan saja
sudah mendapat respons memadai, sebatas cara-cara itu pula demokrasi berjalan
efektif! Tapi jika pihak penguasa mati rasa, peningkatan tahap demi tahap
intonasi pendemo tak dapat respons, interaksi selalu gagal, tak terelakkan
prosesnya berlanjut hingga ke tingkat yang tak bisa ditoleransi--seperti juga
demokrasi formal yang tak beretika! Tapi tampak, semua itu produk sekaligus
bukti kegagalan interaksi penguasa dalam komunikasi politik berdemokrasi!"
[Non-text portions of this message have been removed]