Mencari Perdamaian Dunia

Rabu, 15 Oktober 2003

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid


Penulis merasa belum pernah sesibuk minggu pertama bulan Oktober 2003 ini.
Mulanya pada tanggal 10 September, penulis didatangi Duta Besar Prancis di
Jakarta, yang menyampaikan undangan Kementerian Luar Negeri Prancis, agar
menghadiri sebuah simposium di Paris Perancis tanggal 2-4 Oktober. Penulis
menerima undangan itu karena Presiden Jacques Chiraq mengusulkan agar
penulis menyampaikan makalah dalam acara itu, dan waktu presentasi penulis
jatuh pada tanggal 2 Oktober. Ini adalah suatu kehormatan, karena berarti
apa yang dikemukakan penulis akan menjadi pertimbangan bagi kebijakan luar
negeri bangsa itu di masa depan. Tema simposium itu sendiri, yaitu
"Agama-agama, Terorisme dan Toleransi" harus ditinjau oleh penulis dari
pandangan agama Islam. Suatu kehormatan pula, bahwa pandangan penulis yang
dianggap mewakili pandangan kaum Muslimin di Indonesia, dinilai pantas
menjadi masukan simposium itu. Kesempatan ini jug menunjukkan peranan negeri
kita yang semakin bertambah besar, karena memiliki kaum Muslimin moderat
terbanyak di seluruh dunia.


Seminggu kemudian, penulis menerima telepon dari New York yang meminta
kesediaan penulis menyampaikan pandangan tentang pembentukan sebuah badan,
yaitu Dewan Perdamaian Antar-Agama Internasional, yang dipersiapkan sebagai
lembaga penasehat bagi Dewan Keamanan PBB di masa depan. Pertemuan itu
sangat penting, namun penulis menjawab sudah ada undangan Prancis. Namun
pada saat yang bersamaan penelpon itu menyatakan sebaiknya penulis meminta
penundaan waktu penyampaian makalahnya guna memungkinkan penyampaian
pandangan penulis di New York. Permintaan dari New York itu penulis lakukan
dan Kementerian Luar Negeri Prancis menyetujui penundaan sehari, menjadi jam
9.30 pagi waktu Paris tanggal 3 Oktober. Ketika New York mengetahui hal itu,
penulis diminta langsung kesana untuk menyampaikan pandangan-pandangannya
tentang Dewan Perdamaian yang akan didirikan keesokan harinya (3 Oktober
2003).


Keesokan harinya penulis tiba di airport John F. Kennedy jam 12 tengah hari,
dan selanjutnya diantarkan Konsulat Jenderal RI di New York menuju ke tempat
acara tersebut. Dalam makan siang jam 13.00, penulis menyampaikan pidato
berisikan pandangan-pandangannya mengenai Dewan tersebut. Penulis menyambut
gembira adanya lembaga tersebut karena itu berarti bahwa PBB dalam
merumuskan dan mengambil kebijakan luar negeri tidak hanya bersandar kepada
pertimbangan-pertimbangan geopolitics saja. Pertimbangan seperti itu akan
terasa sangat sempit, apalagi kalau di dasarkan kepada informasi yang salah.
Contohnya adalah kebijakan pemerintah Amerika Serikat saat ini atas Iraq. Da
yang selalu ditekankan adalah rangkaian penembakan dan pemboman terhadap
tentara A.S yang dilakukan orang-orang mantan Presiden Saddam Hussein.
Padahal itu belum tentu benar.


Tidak ada negeri tetangga Iraq yang ingin negara tersebut menjadi kuat
melalui pemerintahan demokratis. Turki, Syria, Jordan dan Kuwait dapat
dianggap mendukung orang-orang yang menyerang tentara A.S itu, belum kalau
dihitung Mesir dan Saudi Arabia. Karena itulah sudah waktunya sebuah lembaga
dunia -seperti Dewan Perdamaian yang akan didirikan- memberikan
pertimbangan-pertimbangan yang bukan geopolitis. Pidato penulis pada acara
makan siang itu diterima oleh para hadirin, walalupun banyak diantara mereka
adalah para diplomat yang berkiprah di lingkungan PBB. Walaupun belum tentu
semuanya dapat memerima pandangan penulis itu, paling tidak mereka yang
menentangnya berdiam diri saja dan membiarkan pendapat penulis itu diterima
oleh penyelenggara.


*****


Setelah jam 12 tengah hari waktu New York penulis tiba di airport John F.
Kennedy, jam 5 sore waktu negar itu penulis sudah terbang kembali ke Paris
dengan Air France. Di Paris, penulis menyatakan adanya pendangkalan agama
dan salah pengertian di dalam kaum muslimin sendiri sebagai sebab utama bagi
munculnya terorisme di banyak negeri Muslim. Pendangkalan agama terjadi
karena "kaum militan" muslim yang kebanyakan dari mereka peraih gelar dari
"pendidikan umum" tidak menggali banyak hal tentang Islam. Ketika mereka
memperoleh "gelar" di berbagai bidang pengetahuan " Barat" seperti
kedokteran dan teknologi, mereka tidak diajar mengenai peradaban Islam
sendiri "secara benar". Umpamanya saja, mereka tidak tahu bahwa kaum
muslimin menggunakan penafsiran ulang (reinterprestasi) dalam merumuskan
pandangan hokum mereka.


Begitu pula mereka tidak membedakan dua macam pendekatan utama yang
digunakan dalam melihat perkembangan sejarah Islam yang panjang. Yaitu
pendekatan budaya kaum Muslimin, terutama yang menyangkut response kaum
Muslimin atas tantangan-tantangan yang dihadapi agama tersebut. Pendekatan
lain adalah pendekatan institusional yang lebih mementingkan responsi
berbagai lembaga yang didirikan kaum muslimin guna menjawab tantangan
–tantangan tersebut.


Karena lebih mementingkan pendekatan institusional itu, maka dengan
sendirinya berbagai responsi budaya terhadap tantangan yang mengancam
kehadiran lembaga itu tidak terlihat oleh mereka. Tantangan yang timbul
tidak dianggap sebagai masukan untuk memperbaiki keadaan, melainkan dianggap
sebagai bahaya dari luar yang akan mematikan Islam sebagai lembaga.


*****


Dengan melihat "tantangan Barat" sebagai bahaya yang harus dilawan dengan
segala cara, mereka menganggap bahaya mengancam Islam sebagai cara hidup
yang mereka kenal. Satu-satunya cara yang mereka kenal untuk "melawan"
adalah dengan menggunakan kekerasan, kalau perlu dengan meledakkan bom
seperti di Bali dan Jakarta (Hotel Marriott). Mereka tidak menghitung jumlah
korban yang berjatuhan. Tapi keadaanya sekarang yang terancam adalah
keseluruhan cara hidup kaum Muslimin sendiri. Mereka lupa pada kenyataan
bahwa jawaban untuk "tantangan Barat" itu adalah pelestarian cara hidup itu
sendiri, dan menggunakan prinsip seleksi atau pilihan. Mana yang memang
harus dirubah; merubah apa yang ada dalam diri kaum muslimin dengan tanpa
merubah keyakinan keagamaan mereka.


Dalam kegalauan itu, masuk pula segala isapan jempol yang tidak berdasarkan
kenyataan. Beberapa tahun yang lalu, penulis diundang ke Tokyo oleh Koran
Yomiori Shimbun (beroplah 12 Juta eksemplar sehari), untuk mendiskusikan
konsep perbenturann budaya (Clash of Civilization) dari Samuel P. Huntington
seorang profesor dari universitas Harvard di Amerika Serikat.. Penulis
melihat sang Profesor dengan teorinya itu mengggambarkan "pohon Islam" yang
berbeda dari "pohon Barat." Namun sang Profesor melupkan kenyataan bahwa
"hutan Islam" yang setiap tahun mengirimkan ratusan ribu orang untuk belajar
teknologi dan pengetahuan alam lainnya ke nagara Barat yang dikategorikan
sebagai masyarakat atau bangsa berindustri maju/ Advance Industry.


Tentu saja mereka tidak hanya belajar teknologi, pengetahuan alam,
pengorganisasian dan manajemen -secara barat saja, melainkan juga mengambil
apa yang diperlukan bagi kelestarian budaya –Islam- mereka dari tempat
mereka belajar di negara barat. Dengan demikian mereka mengambil bentuk luar
"serba Barat' (seperti pakaian dan alat-alat kebutuhan tiap hari), tapi
dengan tetap berpegang dan berusaha mencapai "sasaran-sasaran Islam". Hal
ini justru bertolak belakang dengan apa yang dikatakan dalam bahasa NU
dengan "memelihara yang baik dari masa lampau dan mengambil apa yang lebih
baik dari sesuatu yang baru" (Al Muhafa dzatu a'la al-Qadima al-Shalih wa
al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah). Karena itulah mereka menggunakan kekerasan
termasuk teror, karena tidak mengerti perjalanan sejarah mereka sendiri.
Memang mudah mengatakan mereka harus memahami sejarah Islam yang panjang,
namun tentu saja "keharusan" itu tidak mudah dilaksanakan dalam kenyataan
hidup, bukan?


Yogyakarta, 9 Oktober 2003


-- 
"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke