Wuah... Tulisan yg bagus. Kalau boleh Bung Airlangga mengkaji kepemimpinan SBY 
sejak menjadi tentara, Asospol, Kaster, Men ESDM dan Menko Polkam. Setelah itu 
mengkaji kepemimpinannya dlm rentang 2004-2009 dlm menghadapi situasi internal 
dan eksternal. Maka pertanyaannya, apakah mungkin SBY seberani BK? Pertanyaan 
lebih lanjut, apakah semangat kebatinan (nilai-nilai yang membentuk karakter) 
dan keilmuan SBY setara BK ? Lihat produk intelektual BK (himpunan tulisan spt 
terangkum di DBR)dan bandingkan dg produk intelektual SBY.
Mungkin akan ada jawaban, SBY bukan BK. Masing2 mempunyai karakter sendiri2. 
Dan masing2 memberi hasil pada anak bangsa.
Yang patut dicatat, tiap waktu dan zaman melahirkan anaknya sendiri. Tapi ada 
yg tidak berubah: apakah kita setia pada konstitusi kita dan mencintai anak 
bangsa dg benar, baik dan adil. Atau kita kita sekadar menjalankan power n 
glory, lalu mengatasnamakan kesuksesan jabatan yang ditampuk sebagai kesuksesan 
masyarakat seperti yg diucapkan tokoh2 Mafia Berkeley hingga saat ini?
Saya menghadapi kenyataan bahwa justru para pejabat itu yang menihilkan 
semangat dan kejuangan BK. Perilaku dan intelektualitas mereka yg demikian 
mereka pertontonkan di kantor2 pemerintahan.
Tapi tidak usah bersedih, toh akhir hidup mereka akan dinikmati oleh anak cucu 
mereka, terhina atau bermartabat sebagaimana anak cucu BK, Soeharto, 
Abdurrahman Wahid, Soedharmono atau Umar Wirahadikusuma.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Satrio Arismunandar <[email protected]>
Date: Tue, 16 Feb 2010 21:04:46 
To: news Trans TV<[email protected]>; kampus 
tiga<[email protected]>; <[email protected]>; sastra 
pembebasan<[email protected]>; ex menwa UI 
2<[email protected]>; Pers Indonesia<[email protected]>; 
ppiindia<[email protected]>; nasional list<[email protected]>
Subject: [ppiindia] Saatnya Seberani Bung Karno




From: airlangga pribadi <[email protected]>
Date: Tuesday, February 16, 2010, 7:36 PM


  



Ijinkan saya memposting tulisan saya di Jawa Pos 

Jawa Pos
Opini
[ Senin, 15 Februari 2010 ]
Saatnya Seberani Bung Karno
Oleh: Airlangga Pribadi

Integritas pemimpin pada saat krisis diuji oleh keberanian menghadapi masalah 
yang ada di depannya tanpa mengeluh. Ketika hari-hari terakhir ini kita 
disuguhi model komunikasi politik Presiden SBY yang terkesan menghindar dari 
persoalan, saya terkesima saat membuka kembali lembaran naskah pidato 
Proklamasi RI dari Bung Karno pada 1966 yang berjudul Jas Merah (Jangan 
Sekali-kali Melupakan Sejarah).

Dalam pembukaan pidato tersebut, Soekarno menegaskan di tengah tekanan politik 
bertubi-tubi menghadangnya, dia tetap menunjukkan dirinya tegak berdiri sebagai 
presiden Republik Indonesia di hadapan seluruh rakyat. Melalui pidatonya, Bung 
Karno memperlihatkan bahwa dia tidak lari dari persoalan politik yang 
dihadapkan kepada dirinya. Dia menjawabnya satu per satu, mulai besarnya 
anggaran yang dia gunakan untuk merebut Papua sampai persoalan posisi politik 
dari Supersemar.

Meski pada akhirnya Soekarno tidak dapat mempertahankan kekuasaan, pidato 
tersebut memberi kesan yang sangat kuat bahwa sebagai presiden, Soekarno tidak 
mengeluh kepada rakyat atas tekanan politik yang dihadapi. Soekarno berusaha 
menenteramkan hati rakyat bahwa dia masih mampu mengelola kondisi politik di 
saat krisis. Sejarah mencatat, bagaimana Soekarno memperlihatkan jiwa kesatria, 
bahkan pada pertempuran politik pada masa akhir kepemimpinannya.

Keutamaan memimpin sebagai presiden seperti inilah yang tengah kita tunggu 
terkait dengan penyelesaian kasus bailout Century. Komunikasi politik Presiden 
SBY saat ini yang memperlihatkan kepada publik bahwa dirinya adalah korban yang 
dizalimi dan menyerahkan tanggung jawab kepada para pembantunya, dapat 
melunturkan kepercayaan publik. Ketika hal itu terjadi, setidaknya ada tiga 
langkah komunikasi politik yang seharusnya dilakukan SBY untuk memulihkan 
integritas pemerintahannya.

Ambil Tanggung Jawab

Pertama, sudah saatnya Presiden SBY menyadari bahwa memosisikan diri sebagai 
korban pertarungan politik dan mengharap simpati publik dalam kondisi krisis 
justru akan meluluhlantakkan kepercayaan publik akan hadirnya pemimpin yang 
tangguh dan bersama bisa menghadapi segala persoalan. Posisi sebagai korban dan 
menghindar seperti ini saatnya diubah. Apabila pada situasi normal, presiden 
dapat memberikan wewenang kepada para pembantunya untuk merumuskan kebijakan 
maupun menjawab pertanyaan publik atas berbagai persoalan pemerintahan, pada 
situasi krisis langkah yang berbeda harus diambil.

Sekarang saatnya bagi Presiden SBY untuk tampil sendiri dengan mengambil 
tanggung jawab dari Boediono dan Sri Mulyani dengan menyatakan bahwa dirinya 
mengetahui kebijakan bailout Bank Century dan menjelaskan secara jernih alasan 
dan kondisi-kondisi yang mengharuskan pemerintah mengambil tindakan tersebut. 
Meski kebijakan tersebut kemudian dinilai salah oleh pihak parlemen dan publik, 
keterusterangan dan mengakui kesalahan tidak membuat integritas presiden luntur 
di hadapan rakyatnya, selama pemimpin tidak melakukan praktik korupsi.

Kejujuran dan keberanian sikap tersebut dapat membangun citra diri Presiden SBY 
sebagai pemimpin yang tegar dan berani meski dihantam krisis politik yang kuat 
di hadapan rakyat Indonesia. Sekaranglah saatnya memperlihatkan kepada rakyat 
Indonesia bahwa kemampuan Presiden SBY menyelesaikan persoalan yang ada di 
depannya bukanlah pencitraan publik semata, namun benar-benar karakter otentik 
dirinya.

Kedua, sudah saatnya SBY menghadapi dengan tegar segenap kekuatan oposisi 
politik, baik di tingkat kekuatan politik maupun kekuatan masyarakat sipil. 
Bukanlah tindakan arif bagi presiden di era sistem politik demokrasi, 
menyerukan ancaman kudeta kepada publik. Saat membaca sejarah, kita menjadi 
saksi bagaimana mantan Presiden Indonesia KH Abdurrahman Wahid berani 
menghadapi lawan-lawan politiknya para legislator, di gedung DPR RI.

Tidaklah salah apabila Presiden SBY belajar dari momen tersebut. Saatnya dia 
tidak menghindar dan justru memanggil para aktivis dan agensi-agensi politik 
yang saat ini melakukan protes. Bukankah pada saat bertugas sebagai perwira 
tinggi pada masa Orde Baru, dirinya dikenal sebagai jenderal yang rajin 
berdialog dengan para intelektual dan aktivis gerakan mahasiswa. Tunjukkan 
kepada rakyat sebagai pemimpin yang selama ini menyerukan pentingnya optimisme. 
SBY siap dan mampu berdialog dengan lawan politiknya dengan segenap argumen dan 
penjelasan yang jernih dan rasional.

Ketiga, sebagai presiden tidak sepatutnya SBY mudah memberikan respons-respons 
reaktif dan emosional. Kepemimpinan yang efektif dalam kondisi krisis 
diperlukan, terutama pada saat-saat sekarang, ketika kritik dan tekanan politik 
tengah bertubi-tubi dialamatkan kepadanya. Sejarah kepemimpinan dunia 
memberikan contoh kepemimpinan efektif, saat Jenderal Charles De Gaulle 
menghadapi krisis gerakan mahasiswa pada 1968.

Pada situasi yang sangat genting di bawah ancaman revolusi sosial, De Gaulle 
bertindak tenang. Dia tidak mudah terpancing oleh tekanan dan provokasi 
politik, dan pada saat yang tepat hadir di hadapan rakyat Prancis dengan 
menunjukkan integritasnya sebagai presiden. Kemampuan De Gaulle menjalankan 
komunikasi politik secara efektif terbukti berhasil mengembalikan kepercayaan 
publik dengan memperlihatkan kapasitasnya sebagai pemimpin untuk menyelesaikan 
persoalan politik yang dihadapi rakyat Prancis.

Pendeknya, yang dibutuhkan Presiden SBY untuk memimpin di saat krisis adalah 
keberanian menghadapi persoalan yang muncul sebagai akibat dari kebijakan pada 
masa kepemimpinannya. Semoga beliau sadar bahwa saat ini bukanlah situasi 
normal, namun krisis politik terhadap pemerintahannya yang membutuhkan 
kehadiran pemimpin yang berani. (*)

*). Airlangga Pribadi, pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga 









      

[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke