Refleksi : Mungkin infantilsme masih kurang, tetapi yang lebih cocok ialah 
gangsterisme, karena kerusakan kepada masyarkat tidak tanggung-tanggung dan 
sulit diatasi..

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010021910251753

Jum'at, 19 Februari 2010

OPINI


Infantilisme Politik Elite Negeri 
Thomas Koten
Direktur Social Development Center


Salah satu kritik pedas yang selama ini dilontarkan publik ke hadapan Presiden 
Yudhoyono adalah kritik tentang mudahnya presiden tersinggung dan mengeluh atas 
ulah rakyat yang menohok kepribadian dan kepemimpinannya. Keluhan dan 
ketersinggungan terakhir yang dikemukakan Presiden Yudhoyono adalah soal kerbau 
yang dihadirkan dalam aksi demonstrasi yang mengkritisi 100 hari 
pemerintahannya, 28 Januari lalu. Persiden tersinggung dan mengeluh karena 
kerbau yang diberi nama Si Bu Ya kemudian diganti namanya menjadi Si le Ba Y 
itu dihadirkan dengan semangat konotatif terhadap dirinya.

Okelah bahwa berdemonstrasi dalam mengisi ruang-ruang demokrasi yang telah 
dibangun bersama, memang dibutuhkan kepatutan. Karena demonstrasi yang 
merupakan hak menyatakan pendapat rakyat dan dilindungi undang-undang 
dibutuhkan kesopanan, di mana di negeri ini ada rambu-rambu budaya dan 
batas-batas norma kepatutan dan garis-garis hukum dan tata aturannya. Namun, 
menjadi persoalan ketika segala kreativitas rakyat yang diungkapkan dalam aksi 
demonstrasi itu disambut dengan ketersinggungan dan keluhan oleh seorang 
presiden yang sebenarnya sangat diharapkan selalu tampil optimistis dalam 
menghadapi segala persoalan masyarakat bangsa dan negara.

Mengapa? Karena ketika kita sepakat mengusung demokrasi ke dalam sistem politik 
kita, maka seorang pemimpin harus siap menerima segala konsekuensinya. Sebuah 
pemerintahan yang membolehkan demonstrasi adalah pemerintahan yang tidak 
supersensitif. Tentu pula pemerintahan tersebut harus memberikan garis-garis 
peraturan yang jelas sebagai bingkai demokrasi.

Namun, teradopsi pertanyaan, mengapa seorang pemimpin apalagi presiden, 
"diharuskan" pantang mengeluh dam mudah tersinggung? Atau dalam bahasanya 
Editorial Media Indonesia (4-2), kalau presiden terus mengeluh kepada 
rakyatnya, kepada siapa lagi rakyat mengeluh? Bagaimana mengerlingnya?

Infantilisme Elite

Identifikasi yang senantiasa diarahkan kepada para pelaku politik di panggung 
kekuasaan atau seorang pemimpin-pemangku kekuasaan adalah orang yang memiliki 
sosok kepribadian yang agung, berwibawa dan berkharisma dengan karakter yang 
kuat. Karena ia merupakan tokoh sentral yang memiliki peran strategis yang 
dapat menentukan perkembangan masyarakat bangsa dan negara.

Di situlah kemudian filsuf Friederick Willhem Nietzsche menggarisbawahi tentang 
perlunya manusia super di dunia untuk menjadi pemimpin. Hal itu diungkapkan 
lewat konsepsinya tentang Ubermensch. Manusia super yang tidak takut kepada 
siapa pun, itulah satu-satunya yang pantas memimpin sebuah negara.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin bisa memimpin bawahannya jika segala 
kelemahannya dapat dibaca dan diketahui oleh bawahannya, seperti lamban, mudah 
mengeluh, cepat tersinggung dan lain-lain? Bukankah ini tidak saja cermin dari 
kelemahan seseorang menjadi pemimpin, tetapi juga ketidakdewasaan 
(infantilisme) kekanak-kanakan dalam berpolitik?

Sebenarnya perilaku infantil dalam politik ini bukan saja ada pada presiden, 
tetapi juga dipertontonkan oleh para elite negeri. Atau, indikator fenomena 
infantilisme para elite politik itu dapat dilacak pada mengentalnya aneka 
perilaku politisi negeri beberapa tahun belakangan ini. Perilaku egoistik dalam 
berpolitik, ingin menang sendiri dalam meraih kekuasaan, termasuk dalam 
pertarungan memenangkan wacana politik di bidang-bidang legislatif, eksekutif, 
dan seterusnya, tidak lain juga adalah cermin dari perilaku infantil itu. 
Dengan perilaku infantil, para wakil rakyat bukan lagi memperjuangkan 
kepentingan rakyat dan bangsa, tetapi mengutamakan kepentingan diri nan 
egoistik, cermin ketidakdewasaan politik alias infantil (kekanak-kanakkan).

Pematangan Emosi

Perilaku infantil yang dipertontonkan seorang pemimpin atau orang-orang di 
tataran elite negeri, apa pun alasannya, tidak bisa dibenarkan dari perspektif 
kepemimpinan, apalagi jika itu dilakukan untuk meraih simpati. Pemimpin yang 
mudah dan sering mengeluh sebagaimana dalam penilaian publik dus konsepsi 
Nietzsche, tidak lebih sebagai indikasi kelemahannya. Dan keluhan yang terus 
menerus dipertontonkan jelas berubah menjadi sinisme. Ini berbahaya, karena itu 
harus dibuang jauh-jauh dan segera dibangkitkan naluri dan semangat 
kepemimpinan yang agung, berwibawa, berkharisma, kuat-perkasa, yang penuh 
optimistik untuk menjadi penemu solusi dari semua persoalan yang dihadapi 
masyarakat.

Juga seorang elite politik harus meninggalkan perilaku infantil, yang ingin 
menang sendiri, dan segera "mendewasakan" diri menjadi politisi sejati yang 
memiliki kecerdasan nalar, keikhlasan nurani, dan kepedulian sosial yang luwes 
dan terbuka bagi siapa saja. Di atas semua ini, kepentingan bangsa harus 
diutamakan dari kepentingan apa pun.

Bagi pemimpin di tingkat eksekutif dan yudikatif, mengulangi kata-kata Bung 
Karno, "Sabdanya adalah undang-undang dan komandonya adalah ketetapan hukum". 
Tetapi, tatkala semua itu disulap menjadi hanya sekadar keluhan dan 
ketersinggungan, dus dengan mempertontonkan emosi yang meledak-ledak, cermin 
ketidakmatangan emosional, maka pamor seorang pemimpin akan hilang, dan citra 
kesejatian para politisi pun lenyap. Dan itu tentu akan bermuara pada kian 
merosotnya kepercayaan rakyat dan terkikisnya legitimasi, yang bisa berakibat 
sangat buruk bagi perkembangan demokrasi dan kemajuan bangsa.

Untuk itu, dikembangkannya kedewasaan perilaku dalam politik dan pematangan 
emosi serta dibangkitkan keagungan dan kewibawaan bagi para politisi di tingkat 
elite bukan saja penting tetapi menjadi sangat urgen untuk dilakukan agar 
kepada mereka kepercayaan tetap terjaga dan di pundak mereka harapan selalu 
digantungkan. Dalam hal ini, kebiasaan berkeluh kesah dan mudah tersinggung 
serta keinginan menang sendiri dalam pertarungan politik, mesti dikubur 
dalam-dalam agar di tataran elite negeri segera terhapus infantilisme, cermin 
ketidakberdayaan, yang menjadi sumber kegagalan bangsa ini dalam menghadapi 
persaingan global, khususnya di era kita mulai memasuki gerbang pasar bebas 
ASEAN-China ini

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke