Refleksi: Tolak bisa saja diucapkan tetapi apakah mempunyai kekuatan melawan  
kemauan yang dipertuan agungkan.
  ayo adu kuat
 

http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=118381

[ Sabtu, 20 Februari 2010 ] 


Golkar-PKS Tolak Selamatkan Boediono-Sri Mulyani 


JAKARTA - Aksi lobi Partai Demokrat dan komponen pemerintah lain, tampaknya, 
tak mempan untuk Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dua partai 
itu berjanji tidak akan memperlunak sikap terkait kesimpulan akhir hasil 
investigasi Pansus Angket Kasus Bank Century. 

Bahkan, nama Boediono dan Sri Mulyani akan disebut secara eksplisit sebagai 
pihak yang paling bertanggung jawab dalam pengucuran dana talangan (bailout) 
Bank Century Rp 6,7 triliun.

''Pansus akan banci kalau tidak mampu menyebutkan siapa yang paling bertanggung 
jawab dalam kasus Bank Century. Golkar akan menyebutkan nama siapa yang 
bertanggung jawab. Itu merupakan tujuan pansus ini,'' tegas Bambang Soesatyo, 
anggota pansus dari Fraksi Golkar, dalam diskusi di gedung DPR, kemarin (19/2). 

Bambang awalnya memang tidak menyebutkan nama. Namun, setelah dipancing pakar 
komunikasi politik dari UI Effendy Ghazali yang juga menjadi pembicara apakah 
pihak yang paling bertanggung jawab itu adalah Boediono dan Sri Mulyani, dia 
spontan mengangguk.

Menurut Bambang, Golkar tidak akan mengubah pandangan awalnya. Yakni, ditemukan 
adanya indikasi pelanggaran hukum, penyalahgunaan wewenang, dan adanya potensi 
kerugian negara dalam kasus Bank Century. ''Sulit bagi kami untuk berpaling 
dari fakta-fakta yang ada. Istilahnya, ditembak pun kami tidak akan mundur,'' 
ujarnya. 

Berkembangnya isu reshuffle, lanjut dia, juga tidak berpengaruh bagi Golkar. 
''Golkar tidak akan berguling-guling nangis minta jangan dicopot kadernya (dari 
kabinet, Red),'' ungkapnya.

Andi Rahmat, anggota pansus dari FPKS, juga menegaskan, kesimpulan akhir pansus 
harus berani menyebut nama pejabat negara yang paling bertanggung jawab atas 
pelanggaran yang dilakukan. 

''Kalau nggak ada namanya, bukan temuan, tapi pengaburan. Kalau gubernur BI 
waktu itu, ya Boediono. Masak gubernur BI waktu itu Darwin Nasution atau Sabar 
Anton Tarihongan. Masak Ketua KSSK Zainal Abidin. Kan bukan. Jadi, kita sebut 
namanya. Itu konsekuensi jabatan,'' ujarnya.

Dia juga meminta agar risiko politik bila Boediono dan Sri Mulyani lengser 
tidak terlalu didramatisasi. Dia membandingkan dengan lengsernya Presiden 
Soeharto dan Presiden Abdurrahman Wahid yang tetap tidak ''memorak-porandakan'' 
keutuhan NKRI. 

''Saya ingat, ada demo di depan BEI (Bursa Efek Indonesia). Kalau Sri Mulyani 
turun, ekonomi kita akan anjlok. Itu dramatisasi. Kalau Achsanul Qosasi jadi 
menteri keuangan, memangnya kenapa? Jangan-jangan jauh lebih hebat dari Sri 
Mulyani. Sebagai orang Makassar, saya senang Pak Amir Syamsuddin jadi Wapres,'' 
kata Andi.

Wakil ketua komisi XI yang kebetulan juga anggota pansus Achsanul Qosasi serta 
Sekjen DPP Partai Demokrat Amir Syamsuddin yang juga hadir dalam diskusi hanya 
tersenyum kecut saat mendengar pernyataan Andi Rahmat itu.

Andi menambahkan, bisa jadi langkah tersebut akan mengakhiri ketidakpastian 
dalam politik. ''Melanjutkan pemerintahan dan menciptakan stabilitas 4,5 tahun 
ke depan itu penting,'' tegasnya.

Amir Syamsuddin menyampaikan bahwa Partai Demokrat mau mengakui adanya 
pelanggaran-pelanggaran. Terutama dalam proses akuisisi dan merger Bank 
Century. Tapi, dia meminta agar hal itu tidak serta-merta dianggap sebagai 
kejahatan. Apalagi kalau tudingan dialamatkan kepada Partai Demokrat dan SBY. 

''Untuk indikasi pidana, ada ahli hukum pidana perbankan. Kita yang 
amatir-amatir ini jangan coba-coba jadi ahli. Kalau kita sebarkan keahlian kita 
yang amatir ini kepada masyarakat, itu cenderung akan menyesatkan,'' katanya. 
(pri/agm)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke