82 versus 28 asyiknya …

Siapa tak kenal Franklin Chen Ning Yang (kelahiran Anhui) yang bersama 
TsungDaoLee adalah Nobelis 57 (teori paritas)? Tahun 1980an mahasiswa ITS pasti 
akrab, karena di kuliah-kuliah selalu saya perikan otak dan karyanya. Dia idola 
saya setelah Albert Einstein. Dia duta persahabatan ilmiah China-USA, dia ikon 
ilmuwan China yang kini menetap di negerinya kembali dan selalu muncul dari 
acara Olimpiade sampai pameran Seni 60 tahun kemerdekaan China. Dia yang kini 
anggota Akademi Ilmu China, sekaligus juga gurubesar di Universitas TsingHua, 
juga sigap hadir kemana-mana termasuk ke Universitas Teknologi Nanyang 
(Singapura) yang belakangan kebanjiran kunjungan para peraih Nobel, bahkan 
beracara perayaan 80 tahun GellMann itu. Hari-hari ini pun prof Kerson Huang 
(MIT) masih ngendon menjadi kiai-ilmu di negeri Singa itu. Jangan mimpi 
Ngendonsia kehadiran ya… (saya pernah 1990-an awal bawa prof hebat Jerman, 
bahkan UI sampai ITB saja tak minat) hihik..
Chen Ning Yang adalah Fellow berbagai himpunan dan akademi fisika China, 
Amerika, Taiwan, Rusia dll.
Kenapa kini Chen Ning Yang, yang di China akrab panggilannya Yang Zhenning, 
sontak muda kembali ?
Dia yang kehilangan isteri pertamanya (dikaruniai 3 anak) Chih-li Tu yang anak 
jenderal Kuomintang Du Yuming, meninggal tahun 2003, mendapat Anugerah Tuhan 
yang piawai! Isteri Baru! Bekas mahasiswanya itu, WengFan, dinikahi jagoan 
fisika yang saat itu 82 tahun, pada usia belia 28 tahun… Cukup bikin geger juga 
ditahun 2005 lalu diantara manusia yang mengenalnya maupun yang tidak. Hahaha…
Jadi nglungsungi alias metamorfosa kehidupan, membawa kebahagiaan. Malah mereka 
berdua kini mengedit syair lomba akbar Asian Games segala. Ciaila bukan ?
Begitulah, China menghargai para ilmuwan. Asosiasi ilmuwan bio AS pun merebak 
kini karena kerangka poros China AS soal ilmu pula. Bila suka, saya bias cerita 
soal pendidikan ilmuwan di China, sebab sejak 80-an saya di Aussie memang sudah 
berakrab dengan sobat-sobat Universitas Peking/Beijing. Dulu jurnal polimernya 
masih kertas roneo stensilan, kini….alamaak. Sementara kita, makin nyungsep, 
ilmuwan kita pada hengkang, yang tersisa di lembaga hanyalah koretannya belaka. 
Hehehe…
Maka kini, paling dahsyat adalah didik anak ponakan cucu sebaik mungkin. Ajari 
atau leskan bahasa MANDARIN, itu mutlak selain Inggris, minimal. Boleh juga sih 
tahu bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Nah, ajak dan dorong terus berjejaring 
dengan China, melanjutkan studi ke China… why not ?
Bagi yang minat sharing perkara begini, boleh kok japri.

Salam, merdeka.
(ditengah keterpurukan negeri kita oleh maraknya orang-orang keblinger konon 
pengamat dan pemimpin, sic!)


Kirim email ke