(Dikutip dari:
http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/simplifikasi.html)

 
Simplikasi merupakan salah satu teknik intelijen yang telah dikembangkan di 
dunia Barat maupun Timur serta sangat sering dilakukan oleh pemerintahan rezim 
militer dalam melakukan proses pembodohan kepada publik. Sebagai bagian dari 
suatu metode merusak logika publik, simplifikasi sangat cepat diterima publik 
dan apabila dilakukan repetisi (pengulangan secara terus-menerus) maka publik 
akan menerimanya sebagai kebenaran.

Dalam artikel kali ini, saya ingin mengungkapkan simplifikasi fitnah aktivis 
dan politisi Barat terhadap Tentara Nasional Indonesia dan Intelijen Indonesia.

Pertama.

Simplifikasi perilaku TNI dan Intelijen yang melanggar HAM warga negara 
Indonesia. Berangkat dari simplifikasi permasalahan kemudian dibungkus dengan 
generalisasi organisasi, secara efektif citra buruk sebagai pelanggar HAM berat 
terus-menerus dihembuskan oleh aktivis Barat dan sejumlah politisi kepada 
patriot-patriot Bangsa Indonesia. Hal itu mengandalkan fakta-fakta di masa 
lalu, misalnya kasus Timor-Timur, Aceh, Maluku dan Papua serta sejumlah modus 
lama penguasaan militer terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Walaupun 
kasus HAM yang terjadi sangat lokal atau bahkan individual, maka akan 
disederhanakan dalam kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh institusi, 
padahal kedua hal tersebut amat sangat berbeda. Tujuannya adalah melemahkan 
moralitas dan menghancurkan citra TNI dan Intelijen. Publik sangat senang 
dengan simplifikasi karena mudah dicerna akal karena menghindari detail duduk 
persoalan.

Simplifikasi kedua adalah, penciptaan image monster Kopassus yang sangat hebat 
bagaikan gerombolan pembunuh profesional. Padahal kasus yang melibatkan 
Kopassus dapat dihitung dengan jari tangan, misalnya penculikan, pembunuhan di 
masa lalu yang mana kasusnya juga telah diproses melalui pengadilan. Hal ini 
sebenarnya mencerminkan ketakutan kebangkitan Indonesia yang semakin kuat 
seiring dengan demokrasi yang seharusnya menghapuskan semua keraguan tentang 
perubahan Indonesia. Sayangnya sangat jarang orang Indonesia yang melakukan 
pembelaaan terhadap TNI dan Intelijen. Blog I-I melakukan pembelaan dan 
membongkar niat busuk asing semata-mata untuk membuka mata kita bahwa 
diperlukan kecerdasan, ketajaman berstrategi dalam mendukung kemajuan Indonesia 
Raya. Kita tidak perlu emosi atau bahkan kehilangan moral karena ada 
pihak-pihak yang terus-menerus melakukan tekanan.

Simplifikasi ketiga adalah belum selesainya reformasi sektor keamaman di 
Indonesia. Entah apa yang diinginkan oleh pihak-pihak anti Indonesia dalam soal 
reformasi keamanan. Apakah Indonesia yang begitu besar dan luas tidak boleh 
memiliki pasukan yang besar dan kuat serta tersebar di seluruh nusantara? 
Dengan posisi yang berda di perlintasan arus perdagangan internasional dan 
tersebarnya pulau-pulau serta kekayaan sumber daya alam, sangat wajar apabila 
Indonesia ingin membangun kekuatan militer yang sesungguhnya sangat inward 
looking, yaitu mempertahankan kedaulatan negara. Indonesia tidak pernah 
berpikir untuk memproyeksikan kekuatan militernya keluar, misalnya menyerang 
negara tetangga. Tetapi pencitraan Indonesia sebagai negara didominasi militer 
masih saja terus dihembuskan, untuk apa?

Jawabannya adalah untuk memperlambat peningkatan hubungan militer dengan sesama 
negara demokrasi. Hubungan militer tersebut dalam artian kerjasama militer 
berupa training dan pembelian alat perang. Salah satu caranya adalah dengan 
memfitnah TNI dan Intelijen sedemikian rupa sehingga dapat menghalangi proses 
kerjasama bilateral Indonesia dengan sesama negara demokrasi seperti AS, 
Australia, Inggris, Jerman, Perancis, dll. 

Sebagai bukti perhatikan propaganda ETAN, HRW, Amnesty International, dll yang 
mencitrakan secara sepihak lembaga-lembaga keamanan Indonesia, anehnya bahkan 
mereka tidak pernah komunikasi secara sehat dengan lembaga-lembaga keamanan 
Indonesia yang difitnah. Mereka ingin mendikte kita bukan?

Bagaimana kita menyikapinya? Jawabnya sangat sederhana yaitu hadapi dengan 
cerdas secara frontal pihak-pihak yang menekan Indonesia, dan minta pembuktian 
atas fitnah-fitnah yang mereka lakukan. Pada saat yang bersamaan kita teruskan 
reformasi internal sesuai dengan pemikiran asli Indonesia dan tunjukkan kepada 
dunia bahwa kita adalah bangsa yang besar yang mampu membangun militer dan 
intelijen Indonesia yang profesional, serta bukan pelanggar HAM, sebaliknya 
pelindung rakyat Indonesia yang dicintai oleh rakyat.

Senopati Wirang

 


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke