From: Nur Nur <[email protected]>
Subject: Menelaah Berita Kompas dan Republika tentang Dulmatin
To: [email protected]
Date: Friday, March 12, 2010, 3:12 PM














Menelaah Berita Kompas dan Republika tentang Dulmatin 


Friday, 12 March 2010 14:19 

   Koran Kompas terlihat  pro dengan tindakan Polri/Densus 88 dalam menangani 
kasus Dulmatin

Oleh: Nuim Hidayat* 

Kematian Dulmatin (9/3) menjadikan media massa berlomba-lomba menyiarkan berita 
tentang ‘teroris’. TVOne dan MetroTV bersaing menyajikan liputan langsung 
beberapa hari dari Pamulang. Bahkan TVOne telah mendahuluinya dengan siaran 
langsung operasi polisi di pegunungan Aceh, sebelum terjadinya ‘operasi 
pembunuhan‘ Densus 88 di Gg Asem dan Gg Madrasah di Pamulang.

Kedua TV ini juga menghadirkan pengamat-pengamat teroris, jaringan Noordin atau 
jaringan al Qaida. Ada siaran langsung dari TVOne pada 10 Maret yang ‘cukup 
nakal’ ketika seorang reporternya (perempuan) menyiarkan langsung dari tempat 
kejadian dengan mewawancarai seorang laki-laki tua di Pamulang, tempat 
kejadian. Saksi yang melihat kejadian penembakan itu menyatakan melihat 
langsung bagaimana seorang polisi membekuk korban yang akhirnya terjatuh, 
kemudian didor tiga kali disitu. Ia mengucapkan kesaksian itu, sambil 
mempraktikkan penembakannya dengan memegang reporter itu!

Beberapa pengamat menyesalkan operasi tembak langsung di tempat yang dilakukan 
Densus 88. Karena belum jelas di pengadilan kesalahan-kesalahan mereka. Entah 
mendapat tekanan siapa, Densus 88 akhir-akhir ini menjadi garang dan cenderung 
menafikan pengadilan untuk menghukum para ‘teroris’. Beberapa pengamat lainnya 
membuat stigmatisasi dengan mengaitkan Dulmatin dan kawan-kawannya dengan 
pengalaman mereka di Afghanistan, Moro, dan Ambon. Seolah-olah adalah perbuatan 
kriminal yang tak terampunkan bagi mereka yang merelakan dirinya berjihad di 
ketiga tempat itu. Apa yang dikatakan pengamat, memang tergantung pada ideologi 
dan keilmuan yang dimiliki mereka.

Menarik apabila kita membandingkan sekilas (untuk detilnya Anda bisa baca 
sendiri) apa yang diberitakan Kompas dan Republika hari ini (10/3/2010) tentang 
peristiwa yang menyangkut Dulmatin ini. Dari sini, kita akan melihat bagaimana 
ideologi sebuah media berjalan dalam meliput atau menyikapi sebuah peristiwa. 
Seperti kita ketahui, berita adalah laporan suatu peristiwa. Dan lebih jelas 
lagi, sikap sebuah media semakin terang dengan melihat tajuknya.

Tentang Dulmatin atau teror ini, Kompas di halaman depan membuat tiga artikel 
di halaman satu (halaman paling bergengsi). Artikel pertama berjudul “Aliansi 
Susun Taktik Baru (judul besar), Dulmatin Persiapkan Semua Proyek Pelatihan 
(judul kecil)”.  Artikel kedua berjudul “Ada Harapan Hubungan RI dengan 
Australia Cerah”, dan artikel ketiga bertitel “Teroris Memanfaatkan Kelompok di 
Aceh”.

Di artikel-artikelnya Kompas terlihat  pro dengan tindakan Polri/Densus 88 
dalam menangani kasus Dulmatin.  Kompas mengutip panjang lebar keterangan dari 
Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Kepala Desk Antiteror Kementerian 
Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Ansyaad Mbai. Dengan Ansyaad Mbai 
Kompas juga menurunkan artikel wawancara khusus.

Ada satu hal yang menarik ketika Kompas mau mengutip ucapan yang ‘sedikit 
berseberangan’ dengan keterangan Polri. Meski hanya satu alinea.

Kompas menulis: “Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda 
Ismail, justru menilai, operasi pemberantasan terorisme saat ini masih jauh 
dari komprehensif.  Pemerintah hanya menerapkan cara legal formal melalui 
operasi kepolisian.  Fenomena kembalinya aksi mantan napi teroris adalah cermin 
kegagalan upaya deradikalisasi.”

Selain menurunkan artikel berita, Kompas juga menurunkan dua artikel opini 
tentang Dulmatin. Artikel pertama berjudul “Aceh Bukan Rumah Teroris” (Hamid 
Awaluddin) dan artikel kedua berjudul “Ancaman Terorisme Baru” (Arianto 
Sangaji).

Dalamn tajuknya,  Kompas hari ini menurunkan judul ‘Setelah Tewasnya Dulmatin’. 
Kita cuplikkan :

“Kepastian tewasnya Dulmatin, satu dari tersangka teroris di Pamulang, setelah 
Noordin M Top dan Azahari, melengkapi keberhasilan polisi. Polisi perlu kita 
apresiasi. Mengutip Kepala Polri, masih ada satu target.  Namanya dirahasiakan, 
tetapi diduga Umar Patek –ahli perakit bom berdaya ledak tinggi. Dulmatin dan 
Umar Patek masuk dalam daftar pencarian orang. Upaya Polri, bahkan sampai tiga 
personel Densus 88 tewas dalam penyergapan di Aceh, tidaklah sia-sia.  Perlu 
disyukuri.  Keberhasilan ini bukanlah titik akhir. Terorisme masih hidup, tidak 
hanya di Indonesia, juga di berbagai belahan dunia lain. Sebagai gerakan, 
terorisme bermakna strategis dalam bentuk peledakan bom dan simbolis dalam 
bentuk penanda keberadaan.  Terorisme merupakan bentuk nihilisme dengan ciri 
matinya kebebasan, dominasi kekerasan dan pemikiran yang diperbudak….”

Di alinera terakhir tajuk Kompas tertulis :

“Apa tindak lanjut konkret? Upaya kuratif perlu dibarengi sikap terus ngeh yang 
diwujudkan memoderasi pemahaman keagamaan secara progresif dan proaktif! 
Membangun sikap keberagamaan sebagai sesama peziarah, terbuka dan bersemangat 
plural, jati diri Indonesia.”

Koran Republika

Republika di halaman depan juga membuat tiga artikel. Artikel pertama berjudul 
“DNA Dulmatin Cocok (judul besar), The 10 Million Dollar Man (judul kecil).”  
Artikel kedua berjudul “Presiden SBY: Hilangkan Saling Curiga.” dan artikel 
ketiga berjudul “Yang Pulang untuk Berpulang.” Republika tidak menurunkan 
artikel opini tentang Dulmatin.

Berlainan dengan arah Kompas, Republika cenderung kritis dengan tindakan 
Polri/Densus 88 dalam menangani kasus Dulmatin. Republika menyindir pengumuman 
terbunuhnya Dulmatin pertama kali ke publik dilakukan Presiden SBY di depan 
Parlemen Australia. Republika menulis lead beritanya: “Ratusan orang di gedung 
parlemen Australia menyambut pengumuman itu dengan tepuk tangan” dan memberikan 
judul gambar Presiden SBY sedang berpidato dengan tulisan: “Makin Mesra”.

Empati Republika kepada Dulmatin (meski Republika tidak setuju dengan aksi 
teror), makin terlihat di artikelnya yang ditulis oleh wartawannya Darmawan 
Sepriyosa: “Yang Pulang untuk Berpulang.” Di artikel itu Darmawan menceritakan 
riwayat hidup Dulmatin, kehebatannya, dan kebohongan pemerintah Filipina yang 
berulang-ulang mengumumkan kematian Dulmatin.

Di akhir tulisannya, Darmawan menulis: “Sudah lama wanita itu mengaku 
menyerahkan nasib sang anak kepada Tuhan. Ia bahkan berujar, jika Dulmatin 
meninggal, tak usah repot membawa jenazahnya pulang ke rumah. “Mati dimana saja 
tidak masalah karena semua di tangan Allah,” kata dia, wanita tegar itu. “Bila 
ajal tiba, tak soal tempat berkubur…”

Di tajuknya yang berjudul Sampai Kapan Terorisme? Republika mengritik sikap 
pemerintah dalam menangani terorisme. Republika menulis:

“Cara Indonesia membasmi terorisme benar-benar mengikuti cara Amerika Serikat. 
Awalnya penegakan hukum, yaitu tangkap, interogasi dan adili. Kini hanya ada 
satu cara: tembak di tempat…”

“Selama ini pemerintah menyebut bahwa jaringan terorisme berakar pada pejuang 
Indonesia di Afghanistan serta mujahidin Muslim di Ambon dan Poso. Mereka 
awalnya adalah orang-orang yang memiliki semangat membela sesama umat Islam 
yang dibiarkan dunia internasional terus dijajah Uni Soviet.  Mereka juga 
awalnya orang-orang yang bersemangat membela umat Islam di Poso dan Ambon yang 
dibiarkan oleh polisi dan tentara dibantai pihak lain.  Namun setelah wilayah 
konflik tersebut damai, mereka tak mampu beradaptasi dengan situasi normal. 
Sebagai masyarakat sipil, tentu mereka tak memiliki sistem dan prosedur 
adaptasi. Hal itu berbeda dengan pasukan militer. Selesai bertugas di medan 
perang, mereka harus mengikuti terapi dan proses adaptasi terlebih dulu sebelum 
kembali ke keluarganya…”

Selamat membaca!

Penulis adalah Dosen Ilmu Jurnalistik, STID M Natsir 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke