Lansiran terbaru dari majalah Forbes, terdapat tujuh orang Indonesiayang masuk 
dalam daftar seribu orang
di seluruh dunia yang mempunyai kekayaan minimal satu Milyar USDollar atau 
sekitar hampir
sembilan setengah Trilyun Rupiah.
 
Dilihat dari perbandingan kekayaan mereka itu menunjukkan walau kata
banyak orang bahwa ekonomi dunia sedang dilanda krisis dan Indonesiaterancam 
krisis serupa
yang sistemik, ternyata jumlah kekayaan mereka justru bertambah besar.
 
 
Jumlah kekayaan dari ke tujuh orang terkaya di Indonesiaitu mencapai lebih dari 
seratus limapuluh Trilyun Rupiah.
 
Ke tujuh orang Indonesia tersebut adalah Michael Bambang Hartono alias Oei Hwie 
Siang, Robert Budi Hartono
alias Oei Hwie Tjhong, Martua Sitorus
alias Thio Seng Hap, Peter Sondakh,
Sukanto Tanoto alias Tan Kang Hoo,
Low Tuck Kwong, Chairul Tanjung.
 
 
Pada urutan teratas adalah Michael Bambang Hartono alias Oei Hwie Siang, dan 
Robert Budi Hartono
alias Oei Hwie Tjhong. Mereka adalah
anak dari Oei Wie Gwan, pendiri
pabrik rokok Djarum. Saat ini mereka melalui Farindo Holding Ltd menguasai 51
persen saham bank BCA.
 
Kakak beradik milyuner Indonesia ini pada tahun 2009 ada di peringkat
400 dengan total kekayaan sebesar Rp. 15,81 Trilyun, lalu pada tahun 2010
melonjak naik ke peringkat 258 dengan total kekayaan sebesar Rp. 32,55 Trilyun.
 
 
Menyusul dibawahnya di peringkat ke 316 adalah Martua Sirotus alias Thio Seng 
Hap. Pemilik dari Wilmar International
Ltd yang mempunyai nama panggilan A Hokini pada tahun 2009 berada di peringkat 
ke 522 dengan jumlah kekayaan sebesar
Rp. 13,02 Trilyun, sedangkan di tahun 2010 ini melejit ke peringkat 316 dengan
jumlah kekayaan sebesar Rp. 27,90 Trilyun.
 
 
Selanjutnya adalah pemilik Grup Rajawali, Peter Sondakh. Milyuner ini
pada tahun 2009 berada di peringkat ke 701 dengan kekayaan sebesar Rp. 9,30
Trilyun, sedangkan di tahun 2010 ini melesat ke peringkat 437 dengan jumlah
kekayaan sebesar Rp. 20,46 Trilyun.
 
 
Disusul kemudian oleh Sukanto Tanoto alias Tan Kang Hoo. Milyuner pemilik Raja 
Garuda Mas Grup ini pada tahun
2009 berada di peringkat ke 450 dengan kekayaan sebesar Rp. 14,88 Trilyun,
sedangkan di tahun 2010 ini peringkatnya melorot menjadi ke 536, walau jumlah
kekayaannya tidak melorot namun bertambah menjadi sebesar Rp. 17, 67 Trilyun.
 
 
Di peringkat berikutnya ditempati oleh dua orang Indonesiayang berhasil menjadi 
pendatang baru
dalam daftar orang dengan minimal kekayaan sebesar Satu Milyar USDollar.
 
 
Low Tuck Kwong pemilik Bayan Resources ini pada tahun 2010 ini berada
di urutan peringkat ke 828 dengan total kekayaan sebesar Rp. 11,16 Trilyun.
 
 
Lalu, Chairul Tanjung pemilik bank Mega dan Trans TV menjadi pendatang
baru di urutan 937 dengan total kekayaan sebesar Rp. 9,30 Trilyun.
 
 
Akhirulkalam, jika dilihat
dari daftar diatas, pada tahun 2009 yang lalu Indonesia hanya mencatatkan lima
orang saja dengan total kekayaan sekitar enam puluh delapan Trilyun Rupiah
saja, sedangkan pada tahun 2010 ini berhasil bertambah menjadi tujuh orang
dengan total kekayaan lebih dari seratus lima puluh Trilyun Rupiah.
 
Sedikit banyaknya ini tentu ada andil prestasi dari pemerintah Indonesiadalam 
menambah jumlah orang Indonesiayang mempunyai kekayaan lebih dari satu
Milyar USDollar dan pertambahan kekayaannya hampir tiga kali lipat dari tahun
sebelumnya.
 
Namun, bagaimana dengan
sekitar Dua Ratus LimaPuluh Juta orang lainnya ?. Sudah
berapa banyakkah dari mereka itu yang telah ikut tersejahterakan tingkat
kehidupannya ?. Bagaimana
dengan perfomance prestasi di seputar Gini Index ?.
 
 
Wallahualambishshawab.
 
 
*

Catatan Kaki:
Artikel yang berjudul ‘ Cukup 1 Riyal Saja ’
 dapat dibaca dengan mengklik di sini .

*
Tujuh Orang
Terkaya di Indonesia
http://ekonomi.kompasiana.com/2010/03/12/tujuh-orang-terkaya-di-indonesia/
*




Pemerintah memastikan tidak akan ada kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) 
dan TDL (Tarif Dasar Listrik) pada tahun 2010 meskipun harga minyak dunia saat 
ini masih berfluktuasi.
 
Demikian pernyataan yang dikemukakan oleh Hatta Rajasa, Menteri Koordinator 
Bidang Perekonomian, pada hari Rabu tanggal 13 Januari 2010,
 
Pernyataan tersebut dikutip dari sebuah berita berjudul ‘Pemerintah Pastikan 
Harga BBM dan TDL Tidak Akan Naik’, yang dapat diakses langsung ke sumber 
beritanya dengan mengklik di sini.
 
 
Selain itu, dari sumber berita yang lain disebutkan juga bahwa masyarakat tak 
perlu khawatir TDL akan naik begitu memasuki 2010. Pemerintah telah berjanji 
tidak akan menaikkan tarif listrik.
 
Berkaitan dengan janji pemerintah yang tidak akan menaikkan tarif listrik itu, 
Menko Perekonomian mengatakan bahwa dibandingkan dengan menaikkan TDL, 
pemerintah akan lebih fokus kepada upaya membenahi sektor kelistrikan secara 
menyeluruh dimulai dari PLN.
“Kita akan coba selesaikan permasalahan di PLN”, kata Hatta Rajasa.
 
Menko Perekonomian mengakui bahwa tidak adanya kenaikan TDL tersebut akan 
membuat beban subsidi makin berat. Meskipun demikian, potensi tambahan beban 
subsidi itu masih akan bisa di-cover oleh APBN. “Tambahan beban subsidi itu 
masih dalam range yang bisa diatasi APBN kita”, kata Hatta Rajasa.
 
 
Pernyataan itu tentu melegakan hati rakyat Indonesia. Paling tidak, dengan 
tidak adanya kenaikan TDL maka biaya perongkosan kehidupannya tidak akan 
menjadi naik.
 
Namun sekalipun lega, sebagian gelintir dari rakyat Indonesia juga meyakini dan 
menyadari serta memaklumi bahwa lain Menko Perekonomian lain pula Menteri 
Keuangan, dalam arti kata apa yang menjadi kebijakannya Menko Perekonomian itu 
belumlah tentu akan sepenuhnya diamini oleh Menteri Keuangan.
 
 
Belum berselang satu tahun dari pernyataannya Menko Perekonomian itu, apa yang 
diyakini oleh segelintir rakyat Indonesia itu menemukan kenyataannya.
 
Menteri Keuangan, Sri Mulyani, memberikan pernyataan yang intinya memastikan 
bahwa tarif dasar listrik akan naik pada Juli 2010 sebesar 15 persen.
 
“TDL naik sebesar 15 persen per Juli 2010“, kata Sri Mulyani.
 
Pernyataan Menteri Keuangan itu disampaikannya pada jumpa pers soal RAPBN-P 
2010, pada hari Senin tanggal 8 Maret 2010, di Gedung Depkeu.
 
 
Jadilah rakyat Indonesia harus mulai bersiap-siap untuk menyediakan lebih 
banyak lagi uang untuk membiayai perongkosan kehidupannya yang tentunya akan 
otomatis menjadi naik lantaran kenaikan TDL itu.

Pengeluaran biaya rumah tangga yang pasti bertambah adalah biaya bulanan bayar 
listrik.
 
 
Tentu dalam persoalan beban pengeluaran perongkosan hidup ini, para cerdik 
pandai akan menasihati dan memberikan solusi atas pemasalahan itu agar rakyat 
Indonesia mulai belajar menghemat pemakaian listrik jika tak mau biaya bulanan 
bayar listrik menjadi bertambah.
 
Selanjutnya, disamping biaya bayar tagihan listrik, tentu pengeluaran biaya 
rumah tangga juga akan bertambah dengan adanya kenaikan harga barang-barang 
kebutuhan hidup yang lainnya.
 
Kenaikan harga barang-barang itu tentu sesuatu yang logis dan wajar, mengingat 
kenaikan TDL itu akan membuat biaya produksi barang otomatis menjadi naik pula.
 
Dalam persoalan ini pula, para cerdik pandai juga sudah mempunyai nasihat dan 
solusinya. RakyatIndonesia disamping berhemat, juga harus mulai belajar kreatif 
serta berkerja lebih keras dan lebih giat lagi agar mendapatkan peningkatan 
pendapatan sehingga peningkatan pengeluaran rumah tangga itu dapat teratasi.
 
 
Terlepas dari segala nasihat dan solusi yang diberikan oleh para cerdik pandai 
itu. Memanglah yang menjadi persoalan terbesar disebagian besar rumah tangga di 
Indonesia itu adalah ketimpangan antara pendapatan dan pengeluaran.
 
Tentunya para cerdik pandai juga sudah mempunyai jawabannya atas akar 
permasalahan dari ketimpangan antara pendapatan dan pengeluaran ini.
 
Akar permasalahannya tentu tidak jauh-jauh dari soal kemalasan, ketidak 
kreatifan, dan segala hal yang berkait dengan kekurangan dan kelemahan serta 
keburukan dari sebagian besar rakyat Indonesia.
 
 
Sebagian besar rakyat Indonesia tentu mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh 
para cerdik pandai itu pastilah mutlak benar adanya. Apalagi para cerdik pandai 
itu bergelar Doktor bahkan Profesor di bidang ilmu Ekonomi.
 
Sehingga dengan menyadari sepenuh-penuhnya tentang segala kekurangan dan 
keburukan yang ada di dirinya itu, maka rakyat Indonesia nrimo saja. Meskipun, 
setiap tahun berganti tahun, pendapatannya belum tentu naik tapi perongkosan 
kehidupannya pasti naik.
 
 
Perongkosan kehidupan yang pasti terus mengalami kenaikan pada setiap tahunnya 
itu, mengutip penuturan dari para cerdik pandai, disebut sebagai inflasi.
 
Inflasi itu ada yang karena tarikan permintaan (Demand Pull Inflation) dan ada 
yang karena desakan biaya (Cost Push Inflation).
 
Inflasi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, pasti mutlak akan terus ada. 
Karena inflasi yang terkendali itu katanya justru merupakan hal yang baik dan 
dibutuhkan bagi memacu perkembangan ekonomi suatu negara.
 
Konon katanya, tak ada satu pun negara yang ada di dunia ini yang tidak 
mengalami inflasi.
 
 
Berkait dengan segala kemaslahatan inflasi itu, tentunya rakyat Indonesia 
mengamini saja penjelasan dari para cerdik pandai itu.
 
Walaupun ada juga yang manggut-manggut mengamininya tapi sambil 
bersungut-sungut karena harga-harga barang di tahun ini menjadi lebih mahal 
dibandingkan tahun kemarin, dan akan menjadi bertambah mahal lagi di tahun 
depan, dan berlanjut terus bertambah mahal di tahun-tahun depannya lagi.
 
Sedangkan pada kenyataan kehidupannya menunjukkan fakta bahwa tingkat kenaikan 
penghasilan dan pendapatannya itu terus menerus setiap tahunnya berada dibawah 
tingkat inflasi riil yang terus terjadi setiap tahunnya itu.
 
Dan, akibatnya yang tahun kemarin barang itu masih mudah terbeli, namun ditahun 
ini mungkin menjadi untuk membeli barang yang sama itu haruslah dengan 
merelokasi dulu dari alokasi pos kebutuhan lainnya.
 
Begitu juga halnya dengan hal-hal lainnya yang merupakan komponen dari 
perongkosan kehidupan, serta hal yang berkait erat dengan kebutuhan kehidupan. 
Tentunya termasuk pula diantaranya adalah biaya pendidikan dan sekolah, serta 
biaya kesehatan dan pengobatan.
 
 
Namun sekalipun ikut mengamininya pula, ada di segelintir kalangan yang merasa 
heran dan merasa ganjil dengan fenomena inflasi itu yang dikatakan sebagai 
sesuatu hal memberikan maslahat dan pasti terjadi di semua negara.
 
Segelintir kalangan itu menengarai bahwa di negara Saudi Arabia, di negara ini 
tentunya tak mempunyai pakar ahli perekonomian negara yang pilih tanding dengan 
tingkat kehebatan kelas dunia seperti misalnya yang sekaliber Profesor Boediono 
dan Doktor Sri Mulyani, ternyata di negara teluk itu ada barang-barang 
kebutuhan masyarakat kebanyakan yang dari zaman baheula sampai hari ini 
harganya tetap saja hanya 1 Riyal saja.
 
Mungkin bagi mereka yang pernah mengunjungi negara itu, barangkali saat mereka 
menunaikan Ibadah Hajiyang merupakan salah satu dari Rukun Islam, atau 
barangkali saat mereka menjalankan ibadah Umroh untuk menambah bekal amalan di 
akhirat kelak, atau barangkali mereka berkunjung ke sana dalam sesuatu 
keperluan yang lainnya, akan menemukan fenomena bahwa minuman ‘Teh Susu’ yang 
banyak dijual di lapak-lapak atau di kios-kios pinggiran jalan itu per gelasnya 
harganya 1 Riyal saja.
 
Menurut mereka yang pernah beberapa kali pergi ke tanah suci dalam jeda waktu 
beberapa tahun, harga 1 Riyal itu tidaklah berubah dari tahun ke tahun.
 
 
Kenapa ya bisa begitu ?. Apa karena di negara Saudi Arabia itu tidak ada 
inflasi ?. Atau karena minuman Teh Susu itu memang kebal inflasi ?.
 
 
Upsss, jangan keburu apriori dulu, janganlah antipati dulu, jangan juga keburu 
bersikap dulu sehingga jelas terbaca isi hati yang dipenuhi oleh Islamophobia.
 
Sesungguhnya pertanyaan itu diajukan bukan karena menginginkan di Indonesia 
juga diterapkan Syariat Islam. Tidak ada hubungannya dengan keinginan 
menerapkan Syariat Islam, tidak ada hubungannya dengan keinginan untuk 
menghancurkan Pluralisme dan Sekulerisme di Indonesia, tidak ada hubungannya 
dengan keinginan mengganggu Kebhinekaan Indonesia.
 
Konon kabarnya, di negara Saudia Arabia ini tidak punya ekonom nir kepentingan 
dan nir ambisi politik yang dengan tingkat kehebatan ilmu yang sekaliber 
Profesor Boediono dan Doktor Sri Mulyani .
 
Konon, katanya di Saudi Arabia ini juga ada inflasi. Namun inflasinya begitu 
kecil dan sangat terkontrol. Sehingga mata uang Riyal menjadi sangat stabil dan 
sangat tidak fluktuatif.
 
Akibat lanjutannya dari itu, teh susu dari tahun ke tahun tetap saja tak 
bergeming harganya, cukup hanya 1 Riyal saja.
 
Termasuk juga sekaleng Pepsi Cola atau minuman kaleng lainnya, yang harganya 
tak beranjak dari 1 Riyal saja.
 
 
Mengapa bisa begitu ya ?. Apa karena negara itu kaya raya dengan tambang 
minyaknya ?. Atau karena disubsidi oleh pemerintahnya ?.
 
 
Konon katanya, itu semua dikarenakan negara itu masih menganut cara pengaturan 
dan manajemen ekonomi moneter yang menurut para ahli ekonomi merupakan model 
moneter yang sudah ketinggalan zaman dan terbilang kuno jika dibandingkan 
dengan Indonesia sebagai misalnya.
 
Konon, mata uang Riyal itu masih diback up dengan cadangan emas yang terus 
disesuaikan jumlah cadangan sesuai dengan jumlah mata uang kertas yang 
dicetaknya.
 
 
Sebagaimana diketahui, inti kesepakatan ‘Breton Wood’ di tahun 1944 yang 
digagas oleh Amerika Serikatitu adalah janji Amerika Serikat untuk mendukung 
mata uang USD secara penuh dengan emas yang nilainya setara.
 
Kesetaraan ini mengikuti konversi harga emas yang ditentukan tahun 1934 oleh 
Presiden Roosevelt, yaitu USD 35 untuk 1 troy ons emas.
Lalu, negara-negara lain yang mengikuti kesepakatan tersebut diijinkan untuk 
menyetarakan uangnya terhadap emas ataupun terhadap Dollar.
 
Dengan adanya kesepakatan ini, maka seharusnya di setiap nilai uang 35 USD itu 
ada cadangan emas sebesar 1 troy ons yang disimpan oleh Bank Sentralnya Amerika 
Serikat.
 
Namun kemudian, di tahun 1971, atau tepatnya tanggal 15 Agustus 1971, Amerika 
Serikat secara sepihak telah memutuskan untuk tidak lagi mengaitkan mata uang 
USD dengan cadangan emas.
 
Menyusul kemudian, pada tanggal 18 Desember 1971, diteken oleh Amerika Serikat 
bersama negara negara industri yang disebut G 10 sebuah kesepakatan yang 
disebut ‘Smithsonian Agreement’.
 
Dimana dengan adanya kesepakatan ini berakhirlah sistem Fixed Exchange Rate 
dengan back up emas, berubah menjadi sistem Floating Exchange Rate tanpa back 
up emas.
 
 
Apakah mungkin jika mata uang Rupiah kembali diback up dengan cadangan emas ?.
 

Tentu para cerdik pandai yang bergelar Profesor dan Doktor saja yang 
berkompeten untuk menjawabnya.
 
Karena bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang berkarakter nrimo itu hal 
terpenting dan terutamanya adalah bagaimana agar penghasilan atau pendapatannya 
bisa sebanding dengan tingkat kebutuhan perongkosan hidupnya.
 
Sehingga kebutuhan kehidupannya terpenuhi dengan cukup pangan, cukup sandang, 
cukup papan, cukup pendidikan, cukup kesehatan.

Syukur-syukur jika masih bisa menabung, sehingga sebelum usianya renta dan 
sebelum uzur menghalanginya sudah mempunyai cukup uang untuk menyempatkan diri 
menggenapkan Rukun Islam dengan menunaikan Ibadah Haji.
 
 
Akhirulkalam, mengasyikkan juga membayangkan andai es cendol harganya tetap 
dari tahun ke tahun cukup Rp. 1 saja per gelasnya. Sehingga tidak selalu 
dipusingkan oleh tekornya anggaran rumahtangga lantaran gaji tahun ini tetap 
alias tidak naik dibandingkan tahun lalu sedangkan harga-harga kebutuhan hidup 
selalu naik melebihi kenaikan gaji.
 
Mungkinkah bisa terjadi ?.
 
 
Wallahualambishshawab.
 
 
*
 
Artikel-artikel lainnya :
        * ‘ Gaji Lokal Biaya Hidup Internasional ’ , klik di sini .
        * ‘ Pendidikan semakin Menginternasional ’ , klik di sini .
        * ‘ UU Migas, Sudahkah Rakyat Tersejahterakan ? ’ , klik di sini .
        * ‘ Saneringkah Ini ? ’ , klik di sini .
        * ‘ Rezim Dollar, Mungkinkah Runtuh ? ’ , klik di sini .
        * ‘ Menggugat Neoliberalisme ’ , klik di sini .
        * ‘ Dulu Koeli Sekarang Boeroeh ’ , klik di sini .
        * ‘ Soros menggertak SBY ? ’ , klik di sini .
        * ‘ George Soros dan Boediono serta Musdah Mulia ’ , klik di sini .
        * ‘ Boediono yang Sederhana dan Bersahaja ’ , klik di sini .
        * ‘ Presiden Termiskin di Dunia ? ’ , klik di sini .
        * ‘ Boediono dan Privatisasi ’ , klik di sini .
        * ‘ Sri Mulyani Wapres 2014-2019 ? ’ , klik di sini .
        * ‘ KRMT Roy Suryo Notodiprojo lagi Nguil ? ’ , klik di sini .
        * ‘ Ruhut sekarang Gundul ’ , klik di sini .
 
*
Cukup 1 Riyal Saja
http://ekonomi.kompasiana.com/2010/03/10/cukup-1-riyal-saja/
*


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke