Arjuna disamping memiliki isteri Dewi Wara Sembadra dan Dewi Srikandi serta
Dewi Larasati, juga memiliki beberapa isteri lainnya, yaitu Dewi Ulupi, Dewi
Dresanala, Dewi Jiwambang, Dewi Wilutama, Endang Manuhara.
Dari beberapa isteri Arjuna itu ada dua orang isterinya yang populer di
kalangan pecinta cerita wayang, yaitu Dewi Wara Sembadra dan Dewi Srikandi
Apabila Dewi Wara Sembadra digambarkan sebagai wanita cantik jelita yang
gemulai dan lemah lembut, maka Dewi Srikandi digambarkan sebagai wanita cantik
jelita yang gesit dan cekatan serta sikap penampilanmbranyak dengan posisi muka
langak atau mendongak.
Srikandi ini bersaudara kandung dengan Dewi Drupadi, isterinya Prabu Kresna.
Mereka berdua adalah putri dari Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, penguasa
negara Pancalareja.
Srikandi yang dikisahkan sebagai penitisannya Dewi Amba ini sangat gemar
mempelajari ilmu olah kanuragan dan keprajuritan. Salah satu yang paling
menonjol dari keahliannya memainkan senjata, adalah kemahirannya dalam memanah.
Keahliannya itu salah satunya didapatkan saat ia berguru kepada Arjuna, yang
kemudian hari menjadi suaminya. Namun dalam perkawinannya dengan Arjuna itu, ia
tidak dianugerahi anak.
Sehubungan dengan keahlian olah keprajuritannya itu, disamping bertugas sebagai
isteri, Srikandi juga diserahi tugas sebagai penanggungjawab keselamatan dan
keamanan kesatriyan Madukara dengan seluruh isinya.
Di dalam episode perang Bharatayudha, Srikandi ini tampil sebagai salah satu
senapati perang dari pihak Pandawa. Saat itu ia bertindak sebagai senapati
pengganti sehubungan dengan senopati sebelumnya, yaitu Resi Seta telah gugur
dalam pertempuran melawan Resi Bisma. Srikandi yang merupakan titisannya Dewi
Amba ini dengan mengandalkan senjata pusaka pana Hrusangkali akhirnya berhasil
mengalahkan Resi Bisma.
Di dunia modern saat ini, Srikandi ini disamping RA Kartini seringkali
dijadikan simbol dan lambang serta sumber inspirasinya perjuangan emansipasi
wanita di masyarakat Jawa.
Berkait dengan emansipasi dan peningkatan partisipasinya kaum wanita.
Seringkali jika ada publik figur di kalangan wanita yang berani tampil dengan
menerabas batas-batas tabu dan paugeran yang dianggap kolot dan kuno serta
membelenggu kebebasan wanita, maka publik figur itu oleh beberapa kalangan
diidentikkan dengan sosoknya Srikandi.
Bisa jadi, itu merupakan sebuah pengidentikan yang kurang tepat. Namun, mungkin
pengidentikan itu berlandaskan pemikiran yang mengambil latar belakang
kehidupan Srikandi yang berada dalam suatu perkawinan model poligami, dikaitkan
dengan cara Srikandi menyikapinya yang berbeda dengan Sembadra.
Salah satu misalnya, Ayu Azhari dan Julia Lopez serta Inul Daratista. Mereka
bertiga, sebagaimana diketahui selama ini telah berani menujukkan penampilan
yang dianggap sudah menerabas batas-batas tabu.
Penampilan mereka di depan publik yang berani menerabas batasan norma dan tabu
serta paugeran yang berlaku selama ini telah dianggap membelenggu kebebasan
wanita.
Maka mereka bertiga oleh beberapa kalangan dianggap sebagai salah satu sumber
inspirasi dan ilham bagi perjuangan emansipasi dan peningkatan partisipasi kaum
wanita, dalam rangka menuju ke tatanan peradaban baru yang lebih menjanjikan.
Dan karena itu, sepantasnyalah jika mereka bertiga dinisbatkan di jajaran
Srikandi-Srikandi dunia modern Indonesia.
Saat ini, penisbatan gelar Srikandi bagi mereka bertiga semakin kukuh lantaran
niat mereka yang ingin tampil ke dunia politik.
Trio Srikandi Indonesia ini, belum lama ini telah mendeklarasikan tekadnya
untuk berkarya yang lebih nyata lagi dari sekedar hanya tampil dengan pose yang
berani.
Mereka bertiga ingin menjadi pemimpin masyarakat dalam mengupayakan kemajuan
dan kemakmuran serta kesejahteraannya rakyat Indonesia.
Ayu Azhari telah menyatakan niatnya untuk menjadi calon Bupati Sukabumi di
propinsi Jawa Barat, dan Inul Daratista bertekad mencalonkan diri menjadi
Bupati Malang di propinsi Jawa Timur, serta Julia Lopez memantapkan diri untuk
bersaing memperebutkan posisi Bupati Pacitan di propinsi Jawa Timur.
Berbekal popularitas yang telah digenggamnya selama kiprah mereka sebagai
selebriti, mereka bertiga mencoba untuk memulai menapaki dunia politik.
Dunia politik, sebuah dunia dengan carut marut dan polah tingkahnya itu
sesungguhnya secara prinsipnya tak jauh-jauh dengan dunia selebriti yang telah
mereka geluti sebelumnya. Karena, panggung politik itu nyaris tak berbeda
dengan panggungnya para selebriti, penggabungan antara penciptaan sensasi
dengan bedak gincu pembenaran dan selubung pencitraan.
Dimana jika mereka mampu memenej semua itu dengan baik, maka tak tertutup
kemungkinan mereka juga akan mampu tampil sebagai sosok yang menonjol dan
diperhitungkan.
Akhirulkalam, langkah Trio Srikandi Indonesia ini sangat bisa jadi akan menjadi
penjuru kiblat serta sumber ilham dan inspirasi bagi para kolega mereka.
Lalu, akankah kemudian Srikandi-Srikandi yang lain seperti Dewi Persik dan Trio
Macan serta Annisa Bahar juga akan segera terilhami untuk menyusul pula ?.
Dan, apakah Sukabumi dan Malang serta Pacitan dengan tampilnya trio Srikandi
Indonesia itu kemudian akan menunjukkan geliat kemajuannya menuju peradaban
yang lebih baik ?.
Wallahulambishshawab.
*
Catatan Kaki :
* Artikel terkait yang membahas seputar tampilnya Julia Perez alias
Jupe sebagai salah satu calon Bupati Pacitan dapat dibaca di ‘Jupe & SBY for
Pacitan’ dengan mengklik di sini , dan yang membahas seputar pasar online
bisnis seks dapat dibaca di ‘Seks Dot Com’ dengan mengklik di sini , serta yang
membahas seputar dibutuhkannya ikon dan maskot yang berguna sebagai perekat
kultural antar peradaban dunia dapat dibaca di ‘Miss Serambi Mekkah’ dengan
mengklik di sini .
* Artikel terbaru yang membahas seputar persaingan dalam memperebutkan
posisi Ketua Umum partai Demokrat dapat dibaca di ‘Andi versus Anas’ dengan
mengklik di sini , dan yang membahas seputar wacana pencalonan Susno Duadji
sebagai Ketua KPK dapat dibaca di ‘Menimbang Susno sebagai Ketua KPK’ dengan
mengklik di sini , serta yang membahas seputar kenikmatannya para pegawai pajak
dengan standar gaji yang tinggi disertai fasilitas lain yang menggiurkan dapat
dibaca di ‘Nikmatnya jadi Pegawai Pajak’ dengan mengklik di sini .
* Artikel menarik yang membahas seputar perbandingan kebijakan sektor
energi dan standar tarif listrik antara Indonesia dengan Malaysia dapat dibaca
di ‘Indonesia disetrum Malaysia’ dengan mengklik disini , dan yang membahas
seputar pertimbangan hukum antara pemberi suap dengan penerima suapdapat dibaca
di ‘Pemberi dan Penerima Suap’ dengan mengklik di sini , serta yang membahas
seputarkasus suap terhadap pejabat Indonesia yang terbongkar lantaran adanya
sidang sebuah kasus di pengadilan Inggris dapat dibaca di ‘Kasus Suap di Migas
Indonesia’ dengan mengklik di sini .
*
Trio Srikandi Indonesia
http://polhukam.kompasiana.com/2010/03/29/trio-srikandi-indonesia/
*
Siapa yang tak kenal Pacitan ?. Rasanya hampir tak ada. Boleh dibilang, nyaris
seluruh rakyat Indonesia hampir pasti mengenalnya.
Pacitan, nama suatu daerah yang berada di pesisir selatan pulau Jawa ini
merupakan tanah kelahirannya Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNIAD (purn)
DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono.
Menurut catatan sejarah Babad Pacitan, nama Pacitan itu berasal dari kata yang
merupakan istilah lain dari camilan atau makanan kecil.
Konon kabarnya, penamaan Pacitan yang berarti camilan itu berkenaan dengan
kondisi daerah ini pada musim kemarau seringkali terjadi paceklik yang
berkekurangan pangan.
Namun jika menurut cerita legenda, nama Pacitan ini berasal dari nama buah Pace
atau Mengkudu.
Konon kabarnya pada masa perang Palihan yang merupakan awal episode terbelahnya
kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surokarto dan Kasultanan Ngayogyakarto
Hadiningrat, Pangeran Mangkubumi pernah singgah di daerah ini dan disuguhi
dengan makanan berbahan baku buah Pace.
Sejak saat itulah, maka daerah ini oleh Pangeran Mangkubumi diberikan tetenger
dengan nama Pacitan.
Entah mana yang benar, yang jelas daerah tingkat II yang terletak di Propinsi
Jawa Timur dengan luas wilayah sekitar 1.390 kilometer persegi dan berpenduduk
sekitar 560.000 jiwa ini termasuk dalam wilayah deretannya pegunungan seribu.
Dengan kondisi geografis seperti itu, dimana sebagian besar wilayahnya
merupakan perbukitan, maka daerah ini memang dikenal sebagai salah satu
kabupaten dengan kategori daerah minus.
Dalam arti kata, kabupaten Pacitan ini bukanlah kategori daerah lumbung pangan
dengan tanah pertanian yang subur.
Walaupun demikian, daerah ini telah demikian populer lantaran telah melahirkan
seorang yang saat ini merupakan godfathernya dunia politik Indonesia, yaitu
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau yang populer di publik dengan sebutan
Presiden SBY.
Rupanya, kemunculan dan terangkatnya nama Pacitan ini nantinya tak hanya akan
disebabkan oleh kepopulerannya Presiden SBY saja.
Di masa mendatang, sangat bisa jadi Pacitan ini juga akan tercuatkan oleh artis
seksi Indonesia, Julia Perez.
Julia Perez alias Jupe yang merupakan pacarnya Gaston Castano ini menyatakan
telah siap lahir dan batin untuk ikut dalam persaingan memperebutkan jabatan
Bupati Pacitan.
“Mereka (parpol-parpol) datang ke Jakarta, hanya untuk merayu saya. Saya juga
nggak tahu kenapa mereka meminang saya untuk daerah Pacitan. Tanggal 23 Maret
kita tanda tangan surat kesepakatan”, kata Jupe.
Menurut artis yang pernah menjadi foto sampul majalah ME ini, keputusannya maju
sebagai Bupati kabupaten Pacitan ini bukan karena motivasi untuk mencari
kekayaan, tapi demi bangsa dan negara.
“Kalau negara membutuhkan, saya siap. Saya sudah memposisikan diri sebagai
budak negara”, kata Julia Perez yang pernah berpose sensual di majalah Playboy
Indonesia.
Keikutsertaannya itu kemudian diiringi oleh munculnya pro dan kontra. Sesuatu
hal yang wajar, ada yang mendukung dan tentu ada pula yang tak mendukung yang
bahkan menolak dan menentangnya.
Salah satu penentangnya tentu saja berasal dari calon pesaingnya yang mungkin
merasa jeri dengan tingkat kepopuleran Julia Perez ini.
Profesinya selama ini sebagai selebritis tentu menjadikannya seringkali
dijadikan sumber pemberitaan di media massa. Tak hanya karena itu saja, malang
melintangnya di dunia modeling dan iklan serta perfilman tentu telah membuat
sosok dan namanya populer di kalangan rakyat jelata.
Sebagaimana diketahui, dalam sistem pemilihan langsung yang one man one vote
tak dapat dinafikan bahwa salah satu prasyarat utamanya adalah kepopuleran di
kalangan segala lapisan rakyat pemilihnya.
Maka menjadi wajar jika ada diantara calon pesaingnya yang menjadi ngeper dan
khawatir karenanya.
Mengingat step pertama dalam memasuki persaingan dalam sistim pemilihan
langsung ini adalah sosialisasi untuk memperkenalkan sosok dan nama kandidat ke
segala lapisan konstituen pemilihnya.
Di step awal ini, Julia Perez tak perlu melakukan sosialisasi. Sebab sebagai
selebritis tentu telah menjadikan sosok dan namanya sudah lekat di kalangan
konstituen.
Sehingga dalam kampanye nantinya hanya tinggal memasuki step kedua, yaitu
meyakinkan konstituennya agar memilih sosok kandidat itu.
Jadilah Julia Perez telah menang satu langkah didepan beberapa pesaingnya.
Namun begitu, di step inilah tantangan sesungguhnya bagi tim kampanye Julia
Perez mulai muncul.
Jupe menyadari akan hal itu, maka sejak dini ia sudah menyatakan bahwa dirinya
akan berbuat terbaik untuk daerah asal usulnya.
Jupe ini walau dikenal berdarah Betawi, namun sejatinya ia berdarah asli Jawa
Timur, mengingat kakeknya merupakan orang asli Madiun.
“Insya Allah nanti akan saya buktikan kepada masyarakat yang telah memberikan
kepercayaan kalau saya bisa memimpin Pacitan”, kata Jupe dengan tegas dan
meyakinkan.
Ya, siapa tahu, Julia Perez yang merupakan pemeran utama dalam film ‘Hantu Jamu
Gendong’ ini, justru merupakan sosok yang tepat untuk menyehatkan jiwa dan
raganya rakyat Pacitan dengan jamu gendong serta memakmurkan kehidupannya
rakyat Pacitan dengan menumbuh kembangkan industri jamu.
Dan lagian, apa salahnya jika Pacitan akan dikenang dengan ikon sosok Presiden
SBY serta Bupati Jupe ?.
Wallahualambishshawab.
*
Catatan Kaki :
* Artikel yang membahas seputar kenikmatannya para pegawai pajak
Indonesia, dapat dibaca dengan mengklik di sini .
* Artikel yang membahas seputar masalah ‘politiking pajak’ yang
dilakukan oleh Menteri Keuangan,dapat dibaca dengan mengklik di sini .
* Artikel yang membahas seputar kasus suap di kalangan birokrat bidang
Migas Indonesia, dapat dibaca dengan mengklik di sini .
* Artikel yang membahas seputar kebijakan energi dan tarif listrik
Indonesia dibandingkan Malaysia,dapat dibaca dengan mengklik di sini .
* Artikel yang membahas seputar ikon dan maskot perekat jurang kultural
antar peradaban dunia, dapat dibaca dengan mengklik di sini .
*
Jupe & SBY for Pacitan
http://polhukam.kompasiana.com/2010/03/28/jupe-sby-for-pacitan/
*
[Non-text portions of this message have been removed]