Pasca peristiwa gagalnya penggusuran komplek Gubah Al-Haddad yang menimbulkan 
bentrokan itu telah membuat publik mengarahkan perhatiannya ke Terminal Peti 
Kemas di Priok yang dikenal dengan nama JICT (Jakarta International Container 
Terminal).


Berkait dengan JICT ini ada hal yang menarik, siapa sebenarnya PT. JITC itu ?.


Untuk itu ada baiknya jika ditelusuri dulu dari apa dan siapa PT. Pelabuhan 
Indonesia II (Persero) atau yang biasa dikenal dengan nama PT. Pelindo II 
(Persero).

PT. Pelindo II ini merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang 
mengelola jasa kepelabuhanan di Indonesia, yang didirikan pada tanggal 1 
Desember 1992.

Perusahaan ini mengelola 12 pelabuhan yang tersebar di 10 propinsi, yaitu 
pelabuhan Teluk Bayur di propinsi Sumatera Barat, pelabuhan Jambi di propinsi 
Jambi, pelabuhan Palembang di propinsi Sumatera Selatan, pelabuhan Bengkulu di 
propinsi Bengkulu, pelabuhan Panjang di propinsi Lampung, pelabuhan Tanjung 
Pandan di di propinsi Bangka Belitung, pelabuhan Pangkal Balam di propinsi 
Bangka Belitung, pelabuhan Banten di propinsi Banten, pelabuhan Tanjung Priok 
di Propinsi DKI Jakarta, pelabuhan Sunda Kelapa di propinsi DKI Jakarta, 
pelabuhan Cirebon di propinsi Jawa Barat, pelabuhan Pontianak di propinsi 
Kalimantan Barat.


PT. Pelindo II ini mempunyai 3 anak perusahaan dan 2 perusahaan afiliasi.

Anak perusahaan tersebut adalah PT. Rumah Sakit Pelabuhan, dan PT. MTI (Multi 
Terminal Indonesia), serta PT. EDI Indonesia (Electronic Data Interchange 
Indonesia).

Perusahaan afliasi tersebut adalah PT. JICT (Jakarta International Container 
Terminal), dan kerjasama operasi TPK Koja (Terminal Petikemas Koja).


Nah, didalam perusahaan PT. JITC ini, PT. Pelindo II (Persero) hanya mempunyai 
saham sebesar 48,9% saja.

Selebihnya yang 51,1% dikuasai oleh Kopegmar (Koperasi Pegawai Maritim) sebesar 
0,1%, dan Grosbeak Pte.Ltd sebesar 51%.

Grosbeak Pte.Ltd ini merupakan anak perusahaan dari Hutchison Whampoa Ltd yang 
merupakan dari grupnya Hutchinson Port Holding.

Sementara itu, di TPK Koja yang merupakan kerjasama operasi itu PT. Pelindo II 
mempuntai saham sebesar 52,12% dan PT. Ocean Terminal Petikemas sebesar 47,88%.

TPK Koja ini sebenarnya hanyalah sister company dari PT. JITC, mengingat PT. 
Ocean Terminal Petikemas merupakan anak perusahaan dari OE&OD (Ocean East & 
Ocean Deep) yang juga masih merupakan perusahaan yang berada dibawah naungan 
grupnya Hutchinson Port Holding.

Dan memang demikian halnya, PT. Ocean Terminal Petikemas pada tanggal 14 
Agustus 2007 berubah nama menjadi PT. HPI (Hutchison Port Indonesia).


Berkait dengan penggusuran komplek Gubah Al-Haddad yang kemarin itu, pemerintah 
mengerahkan lebih dari 2.000 personil yang terdiri dari sekitar 1.750 personil 
Satpol PP dan 640 personil Brimob dan Samapta Polri serta ditambah dengan 
beberapa personil dari Garnizun TNI.

Disamping itu dikerahkan juga kendaraan pengendali massa atau biasa disebut 
dengan nama water canon, serta peralatan berat untuk melakukan penggusuran 
berupa buldozer dan excavator.

Hasilnya, total kerugian yang harus ditanggung negara ditaksir sekitar Rp. 23 
milyar, berupa 24 unit truk pengangkut pasukan, 43 unit Isuzu Panther, 2 unit 
kendaraan operasional Toyota Kijang, 14 unit pick up KIA, 2 unit kendaraan 
komando, 1 unit sepeda motor trail, 575 helm dan tameng serta rompi anti 
huruhara.

Jumlah kerugian itu belum termasuk kerugian berupa kendaraan water canon dan 
buldozer serta excavator.
Disamping materi, juga jatuh korban kerugian berupa raga dan nyawa manusia.

Beberapa warga masyarakat luka berat dan beberapa anggota Satpol PP tewas serta 
ratusan lainnya luka-luka.

Bahkan menurut isu kabar rumor, masih ada beberapa warga masyarakat dan anggota 
Satpol PP yang masih belum diketahui nasib dan keberadaannya.


Akhirulkalam, sesungguhnya semua kerugian itu pada hakikatnya didedikasikan 
untuk siapa ?.

Wallahulambishswab.


*
Catatan Kaki :
        * Artikel lainnya yang terkait permasalahan kasus Bentrokan Priok 2010 
dapat dibaca dengan mengklik di “Satpol PP Menghilang ?”, dan “Jangan Remehkan 
Priok” , serta “Kasus Priok dan Politik Wahabi” , dan “Priok 2010 : Israel dan 
US Coact Guard”.
        * Artikel lainnya yang terkait permasalahan politik ekonomi, 
diantaranya dapat dibaca dengan mengklik di“Neoliberalisme”, dan “Bangsa Kuli” 
, serta “Privatisasi BUMN” , dan “Candu dari Salemba”.
*
Siapa Pemilik Priok ?
http://polhukam.kompasiana.com/2010/04/19/siapa-pemilik-priok/
*


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke