Dear all.

Berita Raker Nasional saya kutip di bawah ini menggembirakan, karena pemerintah 
kita dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah tampak tegar dalam usaha 
menggalakkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial yang berada di bawah 
koordinasi Menko Ekonomi dan Menko Kesra. 

Nah, pertanyaan besar kita adalah bagaimana melahirkan program yang bisa 
menggoalkan dua ideal (pertumbuhan ekonomi dan pemerataan) di bidang ekonomi, 
sehingga pengertian "kesejahteraan rakyat" tidaklah sekedar berupa berupa 
bantuan sosial di kala ada darurat (misalnya bencana alam, kecelakaan pesawat, 
dst) saja seperti yang biasa kita saksikan. Melainkan, "kesejahteraan sosial" 
itu buah dari sistem pemerataan yang dicangkokkan ke dalam struktur sistem 
ekonomi Kapitalisme yang kita terapkan di negeri kita ini. Karena, bagaimana 
pun suksesnya suatu pertumbuhan ekonomi dengan sistem Kapitalisme Pasar Bebas 
itu, pastilah tidak bisa diharapkan untuk tidak melahirkan kesenjangan 
sosial-ekonomi. Di negara Mbahnya Kapitalisme Pasar Bebas di bawah Presiden 
Obama sekali pun sekarang sedang dilakukan secara gencar intervensi pemeriintah 
dengan tujuan agar pertumbuhan ekonomi bisa dibarengi dengan pemerataan 
sosial-ekonomi juga. 

Di negeri kita ini kebocoran berupa KKN yang kita warisi dari Rezim Soeharto 
ternyata sekarang masih merajalela. Yang sedang terbongkar sekarang ini hanya 
puncak gunung esnya saja. KKN jelas merupakan penghalang kehidupan yang sehat 
dan normal dalam segala bidang, termasuk bidang ekonomi dan kesejahteraan 
sosial itu. Sementara itu, sudah menjadi cerita dari mulut ke mulut di kalangan 
masyarakat kita, bahwa pelaku utama KKN adalah para birokrat yang justeru para 
petingginya adalah mereka yang akan ikut dalam Raker di Bali itu nanti. Salah 
satu program reformasi adalah Reformasi Birokrasi itu, bukan?

Maka saya tidak habis fikir, apakah Raker Nasional di Bali itu nanti bisa 
diharapkan menghasilkan program kerja yang bebas dari KKN? Kenapa Menko yang 
menangani bidang hukum tidak disertakan? Bukankah jelas sekali bahwa sekarang 
ini kita sedang dalam keadaan "darurat hukum" yang nyata? Bukankah KKN itu 
sudah terbukti merangsek lembaga-lembaga penegak hukum (polisi, jaksa, hakim, 
pengacara, dll) sekarang ini? Tanpa adanya pembahasan bidang hukum ini, terasa 
Raker Nasional di Bali itu ada kejanggalannya!

Kalau Presiden SBY menyelenggarakan Raker Nasional di Bali tanpa mengikut 
swertakan bidang hukum, maka seyogyanyalah kita harus mengingatkan kepada 
beliau tentang pentingnya melaksanakan Rapat Kerja Nasional untuk membenahi 
bidang hukum ini. Siapa saja yang pantas ikut membenahinya? Inilah yang perlu 
kita fikirkan bersama. Karena, kita berasumsi Presiden SBY benar-benar bisda 
dipercaya dan bisa diharapkan untuk menyelesaikan masalah ini secara tuntas, 
bukan?

Ikra.-
====


Dari:
http://id.news.yahoo.com/antr/20100419/tpl-presiden-buka-rapat-kerja-nasional-cc08abe.html

Presiden Buka Rapat Kerja Nasional
 
Antara




Tampak Siring (ANTARA) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin 
pagi membuka rapat kerja nasional di Istana Tampang Siring, Bali.

Rapat yang diikuti oleh seluruh menteri kabinet Indonesia Bersatu, 
para gubernur, para ketua DPRD, pimpinan BUMN dan lembaga pemerintah 
akan berlangsung hingga Kamis (21/4) mendatang.

Seperti yang disampaikan Kepala Negara dalam pembukaan Munas 
Asosiasi DPRD seluruh Indonesia beberapa waktu lalu, rapat kerja 
tersebut akan membahas empat hal masing-masing kinerja perekonomian 
nasional hingga lima tahun mendatang, evaluasi pelaksanaan program pro 
rakyat, strategi pencapaian target millenium development goals dan 
kebijakan pemerintah tentang pembangunan yang adil bagi semua lapisan 
masyarakat.

Presiden dijadwalkan membuka rapat kerja pada pukul 09:00 WITA. 
Dalam kesempatan itu, Kepala Negara akan menyampaikan arahan mengenai 
target rapat kerja.

Setelah dibuka oleh Presiden, kemudian diselenggarakan sesi rapat 
pleno pembangunan ekonomi yang diawali dengan paparan Menko Perekonomian Hatta 
Rajasa.

Sesi itu kemudian dilanjutkan dengan diskusi peserta rapat kerja, 
termasuk dengan kalangan dunia usaha, pakar ekonomi dan pakar teknologi.
Diskusi berlangsung selama dua sesi sebelum pada sore harinya 
dilanjutkan dengan rapat pleno pembangunan berkeadilan di bidang 
kesejahteraan rakyat, diawali dengan paparan Menko Kesra.

Pada malam hari, bersama Presiden dan Wakil Presiden Boediono, para 
peserta dijadwalkan masih menyelenggarakan satu sesi pertemuan.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida 
Alisjahbana saat menyampaikan keterangan pers, Minggu (18/4), 
menyebutkan, rapat kerja itu bertujuan sebagai wahana koordinasi dan 
sinkronisasi pelaksanaan pembangunan nasional, sehingga hasil utama dari rapat 
kerja itu dituangkan dalam bentuk Instruksi Presiden.

Pola rapat kerja gabungan yang dipimpin Presiden ini hampir serupa 
dengan yang pernah berlangsung pada awal Februari 2010 di Istana Cipanas 
Cianjur. Namun pada rapat yang berlangsung di Istana Tampak Siring 
tersebut tak hanya kalangan pemerintahan saja namun juga kalangan dunia 
usaha, teknokrat dan ilmuwan.

Juru bicara kepresidenan Julian Aldrin Pasha dalam keterangannya 
pada wartawan, Minggu (18/4) petang mengatakan, pola rapat kerja 
tersebut akan dikembangkan sebagai upaya peningkatan kualitas 
perencanaan dan implementasi program pemerintah.

Suasana Istana Tampak Siring yang biasanya sepi, dalam tiga hari 
mendatang dipastikan semarak dengan kehadiran para peserta rapat. 
Sejumlah ruangan dan paviliun di Istana yang dibangun sejak masa 
Presiden Soekarno tersebut disiapkan untuk kegiatan diskusi kelompok.

Selain itu, sejumlah tenda didirikan di sekitar lingkungan Istana 
termasuk tenda untuk keperluan para wartawan yang meliput kegiatan 
tersebut.

Sementara paviliun Nakula, Sadewa dan Yudhistira disiapkan untuk 
keperluan penyelenggaraan rapat tersebut.


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke