http://www.antaranews.com/kolom/?i=1272427487
ANTARA KITA
Orang Indonesia yang Jadi Pahlawan di Korea
Rabu, 28 April 2010 11:04 WIB
Di tengah duka bangsa Korea yang masih sangat dalam terasa akibat tenggelamnya
kapal perang Cheonan yang menewaskan 46 prajurit angkatan laut, nama Indonesia
harum dipuji di negeri ginseng itu.
Ada orang Indonesia yang dipandang sebagai pahlawan dan pemberi inspirasi dalam
musibah yang menggetarkan hati dan meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea
tersebut. Penghargaan terhadap orang Indonesia itu disampaikan pejabat dan
media setempat.
Pada 26 Maret 2010 sebuah Korvet Angkatan Laut dengan 104 awak kapal sedang
patroli rutin di perairan dekat perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara.
Tiba-tiba saja terjadi ledakan dahsyat di buritan. Mesin perang itu nyaris
terbelah dua dan tenggelam.
Saat itu pukul 21:00 waktu setempat. Tempat di Laut Kuning, dekat Kepulauan
Baengyeong. Malam mulai gelap ketika operasi penyelamatan dilakukan oleh
penjaga pantai dibantu oleh nelayan pencari ikan yang kebetulan berada di
sekitar lokasi. Mereka berhasil menyelamatkan 58 orang. Yang lainnya tewas dan
menghilang.
Salah satu kapal nelayan yang ikut dalam operasi pencarian dan penyelamatan
adalah kapal ikan Geumyang No.98. Di kapal ikan itu ada Lambang Nurcahyo (36)
dan Yusuf Harefa (35), dua pelaut Indonesia. Bersama lima pelaut Korea Selatan,
awak Geumyang terlibat dalam aksi heroik penyelamatan di laut bebas, gelap dan
berbahaya.
Malang tak bisa diraih, untung tak bisa ditolak. Kapal ikan Geumyang di tengah
aksi penyelamatan bertabrakan dengan kapal kargo Kamboja. Seluruh awaknya ikut
tenggelam.
Jenazah Lambang Nurcahyo, bapak dua anak, ditemukan beberapa hari kemudian.
Namun si lajang Yusuf Harefa hingga kini masih hilang. Upaya kemanusiaan pelaut
Indonesia itu diakui dan dihormati bangsa Korea yang tengah berkabung. Mereka
wafat dalam upaya mulia.
Surat kabar Korea Times hari Kamis (22/4) memuji Nurcahyo dan Harefa. Dalam
tajuk rencana berjudul "Indonesian heroes", Korea Times menulis bahwa "Seperti
para pelaut AL yang gugur itu, para nelayan Geumyang itu juga merupakan
pahlawan-pahlawan yang telah mengambil risiko nyawa mereka untuk menyelamatkan
korban-korban Cheonan?.
Pemerintah Korea Selatan berjanji memberikan santunan baik kepada awak kapal
Korsel maupun Indonesia. Menteri Luar Negeri Yu Mung-hwan menyampaikan simpati
dan telah menulis surat sehubungan dengan tragedi tersebut kepada keluarga
Nurcahyo dan Harefa.
"Kami menghargai jasa-jasa kedua pelaut Indonesia yang tewas dalam insiden
tersebut. Kami sungguh menyesalkan telah terjadinya peristiwa ini," kata Yu
Mung-hwan.
Jadi pusat perhatian
Orang Indonesia lain yang mendapat penghormatan di Seoul adalah Dirut Perum
LKBN ANTARA Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf. Ia menjadi pusat perhatian di Seoul karena
selaku Presiden Organisasi Kantor Berita Asia Pasifik (OANA) ia meminta
pimpinan media dunia yang berkumpul di negeri itu untuk berdiri dan
mengheningkan cipta atas musibah yang meningkatkan ketegangan di semenanjung
Korea.
"Semoga arwah mereka beristirahat dengan damai dan yang hilang bisa segera
ditemukan," katanya dalam hening cipta yang diikuti 68 pimpinan kantor berita
dari Asia Pasifik, Arab, Mediterania, Eropa dan Balkan serta Perdana Menteri
Korea Selatan Chung Un-Chan.
Mukhlis Yusuf sudah tiga tahun terakhir ini memimpin OANA, organisasi kantor
berita dari 33 negara di kawasan Asia Pasifik.
Bekerja sama dengan kantor berita Yonhap, OANA mengumpulkan para tokoh media di
Seoul untuk membahas tantangan dan peluang yang dihadapi kantor berita pada era
konvergensi multimedia. Namun, OANA Summit Congress dibayangi kasus
tenggelamnya Cheonan.
Meski belum bisa dibuktikan keterlibatan Korea Utara dalam insiden itu, laporan
media setempat menyebut kemungkinan kapal tersebut ditorpedo atau terkena
ranjau laut yang disebar Pyongyang.
Ketika membawa para tokoh media dari seluruh dunia itu bertemu dengan Presiden
Lee Myung-bak di Istana Biru, Mukhlis menyampaikan belasungkawa dan doa kepada
para korban. Presiden Lee tampak tergugah dengan pidato pengantar Mukhlis yang
tidak diduga menyinggung insiden Cheonan dan doa agar bangsa Korea bisa
mengatasi musibah itu dengan penuh kesabaran dan perdamaian.
Pidato Mukhlis itulah yang mendorong Presiden Lee menyatakan sikapnya atas
musibah Cheonan. Sikap itulah yang kemudian menjadi berita utama di seluruh
dunia. Di koran-koran setempat, seperti The Korean Times dan Korean Herald,
berita pertemuan Mukhlis Yusuf dan Presiden Lee menjadi berita utama di halaman
depan. Foto Mukhlis pun menghiasi halaman media Seoul.
"Saya mulai mengagumi anda," kata Park Jung-Chan, Presiden kantor berita Korea
Selatan Yonhap kepada Mukhlis Yusuf pada pidato jamuan makan malam selepas
pertemuan di Istana Biru.
"Anda berhasil membuat Presiden Lee angkat bicara soal Cheonan," katanya.
Presiden Lee dan seluruh bangsa Korea memang sangat terguncang dengan musibah
itu. Lee langsung meninjau operasi pencarian dan bertemu marinir yang
ditempatkan di barat Pulau Baengnyeong.
Dengan helikopter, Lee menuju pulau dekat perbatasan Korsel-Korut itu.
Kunjungan Lee dimaksudkan untuk menghibur keluarga korban yang menunggu dengan
cemas pencarian jasad anggota keluarga mereka. Lee juga memerintah militer agar
lebih waspada pasca tenggelamnya Cheonan. Sejak tenggelamnya kapal Cheonan
militer diminta benar-benar mempersiapkan diri untuk setiap aktivitas yang
dilakukan Korea Utara.
Ketegangan memuncak di semenanjung Korea menyusul insiden itu. Kemungkinan
pecah perang baru antar Korea kembali menjadi kekhawatiran dunia. Padahal,
Korea Utara memiliki senjata nuklir sebagai pemusnah massal dan rejim di
Pyongyang bisa melakukan tindakan tidak terduga.
Namun, kekhawatiran dunia itu bisa diredakan. Menjawab pertanyaan dan
pernyataan Mukhlis, Presiden Lee menyatakan tidak akan membalas dendam
sekalipun Pyongyang terbukti paling bertanggungjawab atas insiden Cheonan.
Perang, menurut Lee, bukan pilihan. Pihaknya membawa kasus ini kepada Dewan
Keamanan PBB.
Oleh karena itulah, pemimpin media dari seluruh dunia yang bertemu Presiden
Lee, memuji Mukhlis Yusuf. Presiden OANA yang juga Dirut Perum ANTARA itu
berhasil menggugah Presiden Lee untuk menyatakan sikapnya yang jelas: tak boleh
ada perang lagi di semenanjung Korea.
(A017/B010)
[Non-text portions of this message have been removed]