Penderita yang meninggal karena penyakit Insomnia yang mematikan, kemungkinan 
besar setelah meninggal akan masuk surga. Dosa-dosanya sudah habis terbakar 
oleh penderitaan penyakitnya.


http://health.detik.com/read/2010/04/28/160035/1347197/763/awas-ada-insomnia-yang-mematikan

Rabu, 28/04/2010 16:00 WIB

Awas, Ada Insomnia yang Mematikan

Vera Farah Bararah - detikHealth

Jakarta, Penderita insomnia di seluruh dunia jumlahnya jutaan. Tapi dari jutaan 
orang itu ada yang memiliki gangguan insomnia mematikan yang disebut dengan 
fatal familial insomnia (FFI).

Hingga kini para ilmuan masih bingung dengan gangguan genetik langka yang 
disebut dengan fatal familial insomnia (FFI) yang saat ini dimiliki 40 keluarga 
di seluruh dunia.

Kondisi ini semakin lama akan semakin buruk karena orang yang menderita FFI 
sama sekali sulit untuk tidur hingga akhirnya mereka meninggal.

Kondisi ini disebabkan adanya mutasi gen yang menyebabkan kemerosotan pusat 
tidur di otak atau talamus. Kebanyakan kasusnya akibat penumpukan protein yang 
dapat mengganggu fungsi tubuh atau pikiran yang vital. Sampai saat ini tidak 
ada obat yang dapat menyembuhkannya.

"Hal ini merupakan gangguan tidur formal yang diakui keberadaannya meskipun 
sangat langka ditemukan, dan hingga saat ini FFI masih seperti misteri yang 
belum terpecahkan," ujar Michael Breus, PhD, psikolog klinis yang mengkhususkan 
diri pada penyakit tidur, seperti dikutip dari AOLHealth, Rabu (28/4/2010).

Seseorang yang memiliki gangguan tidur mematikan ini secara bertahap akan 
kehilangan kemampuan untuk tidur hingga akhirnya orang tersebut tidak bisa 
tidur sama sekali atau terjaga sepenuhnya.

Kondisi ini akan diikuti dengan kelelahan dan menyebabkan halusinasi, 
kehilangan memori, gangguan kontrol otot, demensia dan terkadang menyebabkan 
koma atau meninggal. Rata-rata sekitar sembilan bulan setelah terjadinya 
kekacauan akan timbul kondisi yang parah.

Usia orang yang mengalami gangguan insomnia ini bervariasi, tapi rata-rata 
dimulai saat berusia 49 tahun. Selain itu orang-orang ini biasanya tidak akan 
memberikan respons apapun jika diberi bantuan perawatan untuk insomnia pada 
umumnya.

"Gejala yang ditimbulkan dari FFI ini tidak jauh berbeda dengan insomnia biasa, 
tapi lama kelamaan akan menjadi jauh lebih buruk atau parah. Mereka akan 
terjaga untuk hari ini, besok dan hari-hari berikutnya," ujar Breus.

Para ilmuwan dan dokter baru mengetahui penyakit ini setelah mempelajari kasus 
Silvano yang terdapat dalam film dokumenter National Geographic. Dalam 
dokumenter ini diambil gambar saat dirinya tertidur dan setelahnya ia terjaga 
secara terus menerus.

Silvano berhenti untuk tidur ketika ia berusia 53 tahun, hingga akhirnya ia 
meninggal setelah terkena koma pada tahun 1984. Kasus kematiannya saat itu 
begitu berpengaruh hingga penulis D.T. Max menulis buku tentang "The Family 
That Couldn't Sleep: A Medical Mystery".

Seseorang yang dalam keluarganya memiliki gen ini ada kemungkinan sebesar 50 
persen terkena FFI. Ada juga beberapa kaitan yang menghubungkan kondisi ini 
akibat konsumsi daging dari hewan yang memiliki penyakit sapi gila.

Namun, Breus mendesak agar penderta insomnia tidak terlalu panik karena 
gangguan ini luar biasa langka. Tapi bagi orang yang memiliki insomnia biasa 
yang sudah mengganggu kualitas hidup dan kerjanya, tak ada salahnya mencari 
bantuan agar gangguan tersebut bisa teratasi.

(ver/ir) 



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke